
KabarJawa.com– Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil mengharumkan nama daerah.
Mereka meraih predikat Terbaik Ketiga pada kategori Pemerintah Daerah Provinsi dalam ajang Indonesia’s SDGs Action Awards (SAA) 2025.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menyelenggarakan ajang prestisius tersebut sebagai bentuk apresiasi bagi daerah yang menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, di Gedung Utama Bappenas, Jakarta Pusat. Dalam perhelatan nasional itu, DIY menempati posisi ketiga setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Prestasi tersebut mengukuhkan DIY sebagai provinsi yang mampu menerjemahkan agenda global SDGs menjadi aksi nyata melalui inovasi yang langsung berdampak pada masyarakat.
Inovasi Lele Gacor jadi Penentu Kemenangan DIY
Ajang SAA 2025 mengapresiasi berbagai terobosan daerah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
DIY tampil menonjol dengan inovasi Lele Gacor (Lele Generasi Air Kocor). Ini adalah metode budidaya yang diterapkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan DIY untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Metode Lele Gacor memanfaatkan aliran air mengucur secara terus-menerus sehingga menyerupai habitat alami ikan lele.
Aliran air itu menjaga kualitas media budidaya tetap jernih, minim polusi, dan menekan risiko penyakit, sehingga menghasilkan produktivitas yang meningkat signifikan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY, Danang Setiadi, menegaskan bahwa inovasi tersebut bukan hanya relevan, tetapi juga dapat direplikasi secara luas oleh masyarakat.
“Inovasi ini menjadi pelecut bagi DIY agar terus meningkatkan kualitas aksi SDGs. Lele Gacor membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa menghasilkan dampak besar. Berkat metode ini, produktivitas lele meningkat hingga 300 persen, dan prestasi DIY ikut gacor secara nasional,” ujar Danang di Bangsal Kepatihan, Kamis (20/11) malam.
Produktivitas Melejit
Danang menjelaskan bahwa sistem air kocor menciptakan lingkungan yang ideal bagi ikan lele. Dengan kondisi air yang stabil dan kaya oksigen, lele tumbuh lebih cepat, lebih sehat, dan memiliki kualitas daging yang lebih baik.
Peningkatan produktivitas hingga tiga kali lipat secara langsung mengerek pendapatan petani ikan di DIY, sekaligus membantu memperkuat ketahanan pangan lokal.
Kualitas lele yang memenuhi standar gizi juga membuat inovasi ini sangat potensial untuk mendukung program strategis nasional.
Inovasi Lele Gacor bahkan ditawarkan sebagai salah satu pemasok protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dijalankan pemerintah.
Dia berharap, produksi Lele Gacor dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi dalam program MBG.
“Ke depan, kita akan terus menyesuaikan inovasi sesuai tema Indonesia’s SAA berikutnya,” tambah Danang.
Bappenas Apresiasi Kinerja Daerah
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima SAA 2025.
Ia menegaskan bahwa capaian tersebut akan tercatat tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga hingga Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
“Tularkan kemenangan dan semangat ini kepada masyarakat, karena capaian hari ini akan tercatat hingga Kantor Pusat United Nations,” ujarnya.
Bersamaan dengan ajang penghargaan, Kementerian PPN/Bappenas bersama Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar Konferensi Utama Pembangunan Berkelanjutan 2025 melalui Program Strategis Nasional MBG.
Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor untuk merumuskan strategi penguatan tata kelola dan implementasi program gizi nasional.
Program MBG akan menjadi solusi terpadu untuk menurunkan angka stunting, wasting, dan anemia. Ini sekaligus memperkuat rantai pasok pangan melalui pelibatan petani, nelayan, dan UMKM pangan.
Konferensi dengan lebih dari 300 peserta luring dan 1.000 peserta daring itu juga menandai peluncuran Dashboard SDGs 4.0 serta Sistem Registrasi dan Sertifikasi SDGs.
Kedua inovasi teknologi tersebut akan mempercepat integrasi data dan memperkuat kolaborasi semua pihak.
Selain itu, ajang tersebut turut mengumumkan penerima Integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) 2025 dan menghadirkan MBG Leadership Session yang mengupas empat isu krusial.
- Ketahanan Pangan
- Penurunan Stunting
- Tata Kelola MBG
- Dukungan Legislatif
Diskusi tersebut mempertegas bahwa percepatan pembangunan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi erat, konsistensi kebijakan, dan penguatan kapasitas di seluruh tingkatan pemerintahan. (ef linangkung)