
KabarJawa.com – Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) meluncurkan Kampung Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) atau Forecasting Smart Ecovillage di Hanggar Tani, Ngaglik Sumbersari, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman.
Program ini difokuskan pada penguatan sistem peramalan dan pengendalian hama berbasis data untuk mendukung ketahanan dan swasembada pangan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Akhmad Musyafak, hadir dan memimpin komitmen peluncuran tersebut. Ia menyampaikan bahwa Kalurahan Sumbersari dipilih karena merupakan salah satu wilayah endemis tikus di Kabupaten Sleman.
Serangan hama yang berulang di wilayah tersebut kerap menurunkan hasil panen petani. Dalam satu musim tanam, lonjakan populasi tikus dapat memangkas produksi secara signifikan dan menimbulkan kerugian ekonomi.
BBPOPT menyatakan bahwa serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berpotensi menghambat pencapaian swasembada pangan nasional. Ketika populasi hama meningkat tanpa pengendalian, risiko kehilangan hasil panen dalam jumlah besar menjadi ancaman bagi petani.
Melalui Kampung Peramalan OPT, pemerintah menerapkan solusi berbasis sains dan teknologi. Program ini mengusung Disruptive Agriculture Technology (DAT) pada komoditas padi dengan pendekatan input rendah dan produktivitas tinggi.
“Tim teknis menyebarluaskan teknologi pengamatan, peramalan, dan pengendalian OPT secara terpadu di kawasan seluas kurang lebih 200 hektare,” ujar Akhmad Musyafak.
Pendekatan yang diterapkan bersifat preventif. Tim melakukan pengamatan rutin, mengolah data lapangan, menganalisis tren populasi hama, serta memprediksi potensi ledakan populasi sejak dini.
Dengan sistem tersebut, petani dapat mengambil langkah pengendalian sebelum kerusakan meluas.
Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengendalian Hama
Pelaksanaan Kampung Peramalan OPT melibatkan berbagai pihak. BBPOPT bekerja sama dengan Balai Perlindungan Tanaman Pertanian DIY, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumbersari.
Kegiatan di lapangan mencakup pengembangan demplot DAT, pengamatan OPT mingguan, serta pertemuan petani melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SL-PHT).
Dalam kegiatan tersebut, petani berdiskusi, menganalisis kondisi lahan masing-masing, dan mengambil keputusan berdasarkan hasil pengamatan.
Fasilitator menerapkan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dengan mendorong monitoring rutin, budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, serta penguatan kapasitas petani sebagai pelaku utama PHT di lahannya.
“Pendekatan ini menempatkan petani sebagai subjek, bukan objek. Mereka memegang kendali atas sawahnya dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Akhmad Musyafak.
Selaras dengan Asta Cita dan Ekonomi Hijau
Program Kampung Peramalan OPT disebut selaras dengan agenda Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ketahanan negara dan mendorong kemandirian melalui swasembada pangan, energi, dan air. Program ini juga dikaitkan dengan pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Dalam pelaksanaannya, BBPOPT mengintegrasikan pendekatan ramah lingkungan. Penggunaan input kimia ditekan dan keseimbangan ekosistem sawah menjadi perhatian utama. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Program ini tidak hanya berfokus pada hasil panen jangka pendek, tetapi juga pada kesuburan tanah, keberlanjutan sumber daya air, dan kesehatan petani dalam jangka panjang.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, penyuluh, dan petani menjadi faktor penting dalam pelaksanaan Kampung Peramalan OPT.
Ia menilai konsep kampung peramalan sebagai inovasi yang memadukan inspeksi lapangan dengan pemanfaatan data dan analisis ilmiah.
“Kita tidak lagi bergerak secara reaktif. Kita membaca tanda-tanda alam dan data sejak awal, lalu mengambil langkah antisipatif,” tegas Danang Maharsa di hadapan petani.
Ia berharap pendekatan smart village dalam program ini dapat memperkuat komitmen Kabupaten Sleman dalam membangun desa yang tangguh, mandiri, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.
Kampung Peramalan OPT di Hanggar Tani Ngaglik difungsikan sebagai percontohan penerapan sistem peramalan dan pengendalian hama berbasis data. Program ini mengedepankan perubahan pendekatan dari responsif menjadi antisipatif melalui pengamatan rutin dan analisis ilmiah.
Kegiatan pengamatan mingguan, diskusi di sekolah lapang, serta penerapan teknologi budidaya menjadi bagian dari implementasi program di tingkat lapangan.
Melalui Kampung Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan di Sumbersari, upaya penguatan ketahanan pangan daerah dilakukan melalui kolaborasi, pemanfaatan ilmu pengetahuan, dan inovasi teknologi.