
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meluncurkan awan panas guguran sejauh satu kilometer ke arah barat daya pada Minggu (31/5/2026) malam.
Peristiwa itu terjadi tepat pukul 22.47 WIB. Dari pos pengamatan, petugas merekam awan panas guguran meluncur ke hulu Kali Krasak dengan estimasi jarak luncur mencapai 1.000 meter.
Fenomena tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 25,74 milimeter dan berlangsung selama 158 detik.
Awan Panas Minggu
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, mengatakan aktivitas vulkanik Merapi masih berada pada level yang perlu mendapatkan perhatian serius dari masyarakat.
“Awan panas guguran terjadi pada Minggu malam pukul 22.47 WIB dengan jarak luncur sekitar satu kilometer ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak. Aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berstatus Siaga atau Level III sehingga masyarakat harus tetap mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan,” kata Agus Budi Santosa.
Data pengamatan BPPTKG hingga Senin (1/6/2026) pukul 06.00 WIB menunjukkan aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi.
Dalam periode enam jam pengamatan, petugas mencatat 16 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 9 milimeter dan durasi mencapai 148 detik.
Selain itu, petugas juga merekam 15 gempa hybrid atau fase banyak yang sering dikaitkan dengan pergerakan fluida maupun magma di dalam tubuh gunung api.
Gempa tersebut memiliki amplitudo hingga 29 milimeter dengan durasi maksimum lebih dari 58 detik.
Tidak hanya itu, petugas juga mencatat satu kali gempa vulkanik dangkal yang menunjukkan masih adanya aktivitas di dekat permukaan kawah.
Secara visual, kondisi puncak Merapi terlihat cukup jelas pada Senin pagi. Asap kawah berwarna putih tampak keluar dengan tekanan lemah dan ketinggian sekitar 100 meter di atas puncak.
Namun, di balik kondisi visual yang tampak relatif tenang tersebut, dinamika vulkanik di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung.
Data pemantauan bahkan menunjukkan tujuh kali guguran lava mengarah ke sektor barat daya melalui Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter.
Suplai Magma Masih Berlangsung
BPPTKG menegaskan bahwa pasokan magma ke tubuh Gunung Merapi masih terus terjadi. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang membuat potensi guguran lava maupun awan panas guguran masih tetap tinggi.
Agus Budi Santosa menjelaskan bahwa data pemantauan kegempaan dan deformasi hingga saat ini menunjukkan aktivitas internal Merapi masih berlangsung.
Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap kemunculan awan panas sebagai peristiwa biasa.
Suplai magma yang terus bergerak menuju permukaan dapat sewaktu-waktu memicu runtuhan material lava yang telah menumpuk di kubah.
Saat material tersebut runtuh dalam volume besar, awan panas guguran dapat terbentuk dan meluncur mengikuti lembah-lembah sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Kondisi inilah yang membuat kawasan di sektor selatan hingga barat daya Merapi tetap menjadi wilayah dengan tingkat risiko tertinggi.
Wilayah Bahaya Tetap Harus Dikosongkan
Badan Geologi melalui BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Dalam rekomendasi resminya, BPPTKG meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya guguran lava dan awan panas saat ini meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer.
Sementara itu, alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng berpotensi terdampak hingga tujuh kilometer dari puncak.
Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Selain ancaman awan panas dan guguran lava, masyarakat juga harus mengantisipasi lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif.
Material tersebut berpotensi menjangkau radius tiga kilometer dari puncak Merapi.
BPPTKG juga mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar, terutama saat hujan turun di kawasan puncak dan lereng Merapi.
Material vulkanik yang menumpuk di lereng dapat terbawa aliran air dan berubah menjadi lahar yang berbahaya bagi wilayah hilir sungai. (ef linangkung)