
KabarJawa.com– Kamis (4/12/2025) petang, Gunung Merapi kembali menunjukkan intensitas aktivitasnya. Pada pukul 17.29 WIB, Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran sejauh 1.300 meter ke arah barat daya, tepat mengarah ke hulu Kali Krasak.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas tersebut dengan amplitudo maksimum 24,36 mm dan durasi 100,7 detik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, memastikan bahwa tim pemantau lapangan bergerak cepat untuk mengevaluasi dinamika Merapi sore itu.
Ia menyampaikan bahwa awan panas tersebut muncul dari akumulasi material di kubah lava yang terus mendapat suplai magma dari kedalaman.
“Kami memantau peningkatan aktivitas sejak pagi dan kejadian awan panas guguran sore hari ini menunjukkan suplai magma masih berlangsung,” ujarnya.
Cuaca Merapi
Sejak pagi, cuaca di lereng Merapi tampak muram. Laporan aktivitas harian BPPTKG mencatat kondisi hujan dengan angin tenang yang bergerak ke arah timur.
Suhu udara berkisar antara 19,6–22,8 °C dengan kelembaban mendekati jenuh, mencapai 98,2 persen.
Tekanan udara juga berada pada rentang 873,9–917,5 mmHg, situasi meteorologis yang cukup umum menjelang perubahan cuaca ekstrem di kawasan pegunungan.
Gunung terlihat berkabut pada level 0–III. Dari balik kabut, asap kawah berwarna putih sempat teramati dengan intensitas sedang dan ketinggian 100 meter di atas puncak.
Kondisi visual ini memperkuat indikasi aktivitas yang terus berlangsung di tubuh Merapi.
Pada periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB, instrumen gempa mencatat 24 kali guguran dengan amplitudo 2–21 mm serta durasi 59,63–266,29 detik.
Selain itu, tercatat 10 gempa hybrid atau fase banyak yang menjadi tanda kuat pergerakan magma menuju permukaan.
Tak hanya itu, satu guguran lava juga meluncur ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih dengan jarak 1.000 meter.
Semua catatan ini memperlihatkan pola yang konsisten: Merapi sedang dalam fase aktif dengan suplai magma yang masih berlanjut.
Awan Panas Gunung Merapi
Menjelang pukul 17.29 WIB, sensor seismik di pos pengamatan mulai mencatat peningkatan amplitudo yang berlangsung cepat.
Guguran besar terdengar dari arah puncak Merapi, diikuti kepulan putih tebal yang membesar dalam hitungan detik. Awan panas kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah barat daya, membawa material pijar dan abu vulkanik.
Arah angin sore itu bergerak ke barat, sehingga abu hasil awan panas berpotensi terbawa ke permukiman di arah tersebut.
Beberapa warga melaporkan bau belerang yang semakin menyengat, meski BPPTKG memastikan bahwa jarak luncur masih berada dalam zona potensi bahaya resmi.
Hingga berita ini diturunkan, Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG kembali menegaskan beberapa rekomendasi penting:
Potensi bahaya utama meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya (Sungai Boyong hingga 5 km; Sungai Bedog, Krasak, Bebeng hingga 7 km).
Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Suplai magma yang masih berlangsung memungkinkan awan panas guguran terjadi kembali.
BPPTKG akan meninjau kembali status Merapi bila terjadi peningkatan signifikan. Tim BPPTKG memastikan sistem pemantauan tetap bekerja 24 jam penuh.
Informasi terbaru mengenai aktivitas Gunung Merapi dapat diakses melalui kanal resmi MAGMA-VAR dan media sosial PVMBG.
Semua data yang terekam akan langsung disampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat sebagai langkah mitigasi. (ef linangkung)