
KabarJawa.com– Deru alat berat menggema di Jalan Parangtritis sejak bulan Januari hingga hari ini. Sejak awal pembangunan gudang perusahaan otomotif terbesar di Indonesia dimulai, langit Sewon tak lagi senyap.
Namun, di balik geliat industri besar itu, belasan rumah warga Padukuhan Ngireng-ireng justru perlahan merasakan getaran yang kini berubah menjadi retakan panjang di dinding rumah.
Pembangunan gudang perusahaan otomotif terbesar itu sudah mencapai sekitar 75 persen. Aktivitas pemadatan tanah dan pemukulan besi berlangsung hampir setiap hari, bahkan para pekerja kerap lembur hingga pukul 22.00.
Warga awalnya menerima pembangunan tersebut karena sosialisasi sudah dilakukan, tetapi seiring waktu mereka merasakan dampak yang tak bisa lagi diabaikan.
Protes Warga Padukuhan Ngireng-ireng
Sri Amanati, salah satu warga terdampak, masih mengingat bagaimana rumahnya mulai mengalami kerusakan setelah alat berat melakukan pemadatan tanah. Aktivitas ini awalnya tidak ada dalam bayangan warga.
“Getarannya itu sebulanan lebih, paling banter tiga mingguan tapi kuat sekali. Dinding rumah saya retak dari atas sampai bawah. Bahkan kamar mandi saya sampai terpisah dari temboknya,” ujarnya dengan nada berat.
Di ruang tamu, retakan merayap hingga ke bagian atas dinding. Di ruang keluarga, situasinya tak jauh berbeda.
Yang paling parah, menurut Sri, adalah bagian atap rumahnya. Struktur atap bergeser, sehingga perbaikan tidak mungkin dilakukan tanpa membongkar seluruh bagian tersebut.
“Kami sudah sabar menunggu. Katanya mau diperbaiki, tapi molor terus. Makanya kami meminta kompensasi untuk memperbaiki sendiri,” lanjutnya.
Beberapa rumah lain mengalami kerusakan serupa. Total ada 13 rumah yang sudah melapor, tetapi warga meyakini jumlahnya bisa lebih banyak karena banyak yang belum berani bersuara.
Tak hanya dinding rumah, sumur warga juga terkena dampak pembangunan. Getaran alat berat memicu ambrolnya dinding sumur dan kebocoran pada sistem pembuangan IPAL yang menyebabkan air menjadi keruh.
“Sumur kami terkontaminasi. Ada ambrolan karena getaran dan ada kemungkinan bocor dari limbah IPAL yang bergeser,” jelas warga lain yang ikut menyampaikan keluhan saat mediasi.
Rumah-rumah yang berjarak 20 meter dari lokasi proyek merasakan dampak paling nyata. Getaran dari alat berat terasa sampai ke dalam rumah, bahkan saat warga sedang beristirahat.
Sri Amanati menegaskan bahwa warga ingin masalah ini selesai sebelum proyek diserahterimakan pada Desember mendatang.
“Tempat saya itu dua kamar mandi retak dari atas ke bawah. Temboknya pisah. Yang paling parah itu atapnya geser. Kalau mau memperbaiki harus bongkar dulu. Jadi wajar kalau kami meminta kompensasi yang layak,” tegasnya.
Warga Hanya Ingin Kepastian
Warga Ngireng-ireng berharap pembangunan gudang tetap berjalan lancar. Mereka tidak menolak investasi, apalagi pembangunan perusahaan besar seperti Astra yang membawa dampak ekonomi wilayah. Namun, mereka ingin hak mereka sebagai warga dihormati.
“Kami hanya ingin rumah kami kembali seperti semula. Kami ingin tidur tanpa takut retakan makin besar,” kata satu warga dalam forum mediasi.
Dengan pembangunan gudang yang ditargetkan selesai dalam waktu dekat, warga berharap pihak pelaksana bergerak cepat memberikan solusi.
Mereka menantikan keputusan yang adil, yang tidak hanya mempertimbangkan nilai proyek besar, tetapi juga kehidupan warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sana.
Minggu depan menjadi penentu. Warga berharap bukan lagi janji, tetapi keputusan nyata yang bisa mengembalikan rumah mereka ke kondisi semula.
Mediasi dengan Warga
Keluhan warga tidak berhenti di tingkat RT. Mereka mengadukannya ke Kalurahan Panggungharjo, hingga akhirnya dua kali mediasi berlangsung: 4 November dan 20 November 2025.
LKBH UP 45 Yogyakarta mendampingi warga untuk memastikan proses berjalan adil. Kuasa hukum warga, Dr. Ana Riana, SH., MH., menyampaikan bahwa warga tak menuntut hal yang berlebihan.
“Warga hanya ingin kompensasi untuk memperbaiki rumah mereka. Hari ini sudah ada sedikit titik temu. Kami berharap minggu depan ada kejelasan lanjutan,” kata Ana.
Pada tahap awal, warga mengusulkan kompensasi Rp15 juta per rumah. Namun, setelah proses diskusi berjalan, warga menyesuaikan tuntutan menjadi lebih realistis Rp 6 juta untuk rumah dengan kerusakan berat dan Rp 3 juta untuk rumah dengan kerusakan sedang
Sebelumnya, pihak kontraktor sempat menawarkan kompensasi hanya Rp300–400 ribu, yang langsung mendapat penolakan warga karena tidak cukup untuk menutup biaya perbaikan.
Situasi ini menarik perhatian sejumlah mahasiswa. Mereka menyatakan akan melakukan aksi damai sebagai bentuk dukungan moral kepada warga. Namun, rencana aksi tersebut akhirnya ditunda setelah mediasi lanjutan dijadwalkan.
Kehadiran mahasiswa memberikan semangat baru bagi warga bahwa suara mereka tidak berjalan sendirian. Mereka ingin warga mendapatkan haknya untuk kompensasi. (ef linangkung)