
KabarJawa.com – Fenomena sinkhole atau amblesan tanah di kawasan Alas Jomblang, Padukuhan Banagung, Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, memicu perhatian serius pemerintah daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul kini menggandeng tim peneliti dari Universitas Diponegoro untuk memetakan kondisi bawah tanah di area terdampak.
Lubang besar yang muncul di lahan pertanian itu diketahui pertama kali terjadi pada Kamis, 30 April 2026. Kedalamannya diperkirakan mencapai lima meter dengan panjang sekitar 10 meter.
Dalam perkembangan terbaru hingga pekan ini, sejumlah titik amblesan baru juga mulai muncul di sekitar lokasi utama.
Situasi tersebut membuat warga sekitar memilih lebih berhati-hati. Beberapa petani bahkan menghentikan aktivitas sementara karena khawatir tanah kembali bergerak sewaktu-waktu.
Amblesan Tanah Muncul di Kawasan Karst Aktif
Wilayah selatan Gunungkidul selama ini memang dikenal sebagai kawasan karst aktif. Struktur tanah jenis ini memiliki banyak rongga alami di bawah permukaan akibat proses pelarutan batuan kapur selama bertahun-tahun.
Ketika rongga semakin melebar karena aliran air bawah tanah atau perubahan struktur geologi, lapisan tanah di atasnya bisa runtuh mendadak dan membentuk sinkhole.
Di lokasi Alas Jomblang, warga sempat melihat retakan-retakan kecil muncul di area ladang sebelum tanah akhirnya ambles membentuk lubang besar. Retakan itu disebut terus melebar dalam beberapa hari terakhir.
Pada siang hari, area sekitar lubang terlihat dipasangi tanda peringatan sederhana. Warga yang biasa melintas menuju lahan pertanian kini memilih memutar jalur demi menghindari titik rawan.
Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengatakan tim sudah melakukan survei awal di lokasi terdampak.
“Tim sudah melakukan survei pemetaan di lokasi untuk melihat potensi di titik tersebut seperti apa,” ujar Nanang.
BPBD Gunungkidul Gunakan Teknologi GPR
Untuk mengetahui kondisi bawah tanah secara lebih detail, BPBD bersama tim peneliti UNDIP menggunakan teknologi Ground Penetrating Radar atau GPR.
Teknologi ini bekerja dengan gelombang radar yang mampu mendeteksi rongga, retakan, hingga struktur tanah di bawah permukaan tanpa penggalian besar.
Penggunaan GPR dinilai penting karena karakter tanah karst sering menyimpan rongga tersembunyi yang sulit terdeteksi secara kasat mata.
Tim peneliti kini fokus memetakan kemungkinan adanya jaringan rongga lain di sekitar lokasi utama sinkhole. Kajian itu nantinya menjadi dasar pemerintah daerah menentukan langkah mitigasi jangka panjang.
Tidak menutup kemungkinan, hasil penelitian akan memengaruhi aktivitas pertanian di kawasan tersebut.
Jika ditemukan potensi amblesan lanjutan, pemerintah bisa menerapkan pembatasan aktivitas di titik-titik tertentu demi keselamatan warga.
Warga Diminta Tidak Mendekat
BPBD Gunungkidul sementara meminta masyarakat tidak mendekati area amblesan. Kondisi tanah di sekitar lubang dinilai masih labil dan berpotensi mengalami keruntuhan susulan.
Imbauan itu mulai disebarkan setelah sejumlah warga sempat mendatangi lokasi untuk melihat langsung lubang besar yang viral di media sosial lokal.
Beberapa video yang beredar memperlihatkan bagian tanah di sekitar sinkhole masih mengalami retakan kecil. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena area terdampak berada tidak jauh dari lahan pertanian aktif milik warga.
Fenomena sinkhole sebenarnya bukan hal baru di Gunungkidul. Namun kemunculan lubang besar di kawasan pertanian produktif membuat perhatian publik kembali tertuju pada ancaman geologi di wilayah karst DIY.
Hingga pembaruan terbaru, BPBD masih menunggu hasil kajian lengkap dari tim peneliti UNDIP sebelum menentukan langkah lanjutan.
Pemerintah daerah berharap pemetaan bawah tanah bisa membantu mendeteksi potensi amblesan lebih dini sehingga risiko terhadap warga dapat ditekan.