
KabarJawa.com– Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP DIY) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mereka mengembangkan mesin tempel perahu berbasis listrik sebagai solusi strategis menekan tingginya biaya operasional nelayan. Kolaborasi ini menandai langkah pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mendorong transformasi energi ramah lingkungan di sektor perikanan tangkap.
Kepala DKP DIY, Heri Sulis Hermawan, menegaskan bahwa biaya operasional melaut hingga kini masih relatif tinggi. Ia menjelaskan bahwa bahan bakar minyak (BBM) menyerap sekitar 30 hingga 40 persen dari total biaya sekali melaut.
Kondisi tersebut terus membebani nelayan kecil, terutama di wilayah pesisir selatan DIY seperti Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng.
“Biaya transportasi atau BBM masih menjadi komponen terbesar dalam operasional melaut. Tantangan ini mendorong kami mengajak Fakultas MIPA UGM untuk bersama-sama mencari solusi agar nelayan mendapatkan manfaat nyata dari teknologi turunan, khususnya di sektor transportasi laut,” ujar Heri.
Inisiasi Mesin Tempel Perahu Listrik
DKP DIY kemudian memulai inisiasi pengembangan mesin tempel perahu listrik berbasis baterai sebagai alternatif mesin berbahan bakar fosil. Heri menyebut teknologi ini sebagai langkah awal menuju sistem transportasi laut yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa DKP DIY saat ini mencatat sekitar 200 unit mesin tempel yang beroperasi di kawasan Sadeng dan sekitar 40 unit kapal skala kecil lain. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk mengembangkan teknologi mesin listrik secara masif di lingkungan nelayan.
“Model baterai ini menjadi pintu masuk. Ke depan, kami ingin mengembangkan produk lanjutan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan nelayan, terutama untuk motor tempel yang sudah banyak digunakan,” jelasnya.
Tak hanya menekan biaya bahan bakar, DKP DIY juga mengarahkan pengembangan teknologi ini untuk mendukung kualitas hasil tangkapan ikan.
Heri menilai kapal berbasis energi listrik mampu menjaga suhu dan kesegaran ikan lebih optimal, sehingga nelayan tidak perlu membawa es dalam jumlah besar saat melaut.
“Harapannya, hasil tangkapan tetap segar lebih lama. Nelayan bisa menghemat logistik, sekaligus meningkatkan nilai jual ikan,” tambahnya.
Dari sisi kebijakan, DKP DIY mulai menyiapkan langkah lanjutan. Heri menyebut proyek ini masih berada pada tahap riset dasar. Namun, pemerintah daerah menargetkan pengembangan hingga tahap ekonomis agar dapat diadopsi secara luas.
DKP DIY juga membuka peluang diskusi dengan pemerintah pusat untuk menghadirkan skema subsidi tepat sasaran bagi nelayan kecil jika teknologi ini siap diterapkan.
“Jika nanti berjalan, subsidi transportasi laut akan jauh lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada nelayan,” tegas Heri.
Ke depan, DKP DIY merencanakan pemasangan mesin listrik pada kapal-kapal nelayan secara bertahap. Proses ini akan melibatkan banyak mitra, termasuk akademisi lintas disiplin dan pelaku industri lokal.
DKP DIY juga menekankan pentingnya membangun ekosistem bisnis, mulai dari penyediaan suku cadang, layanan perawatan, hingga sistem perbaikan yang aksesnya mudah.
Heri bahkan menyebut koperasi desa sebagai salah satu model yang berpotensi mengelola ekosistem mesin tempel listrik tersebut secara berkelanjutan.
Fokus Tahap Awal Kerja Sama
Sementara itu, Dekan Fakultas MIPA UGM, Kuwat Triyana, menegaskan komitmen akademisi dalam menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
Ia menyampaikan bahwa Fakultas MIPA UGM memiliki keahlian lengkap, mulai dari fisika, matematika, elektronika, kimia, ilmu material, statistika, hingga ilmu komputer.
“Kami mencoba menyelesaikan persoalan di sistem perikanan, khususnya di Pantai Sadeng, sebagai bagian dari proyek eksperimental kami,” ujar Kuat.
Ia menjelaskan bahwa tahap awal kerja sama ini berfokus pada uji coba pemanfaatan baterai sebagai sumber energi utama kapal. Tim UGM secara bertahap akan menggantikan mesin diesel dengan sistem listrik berbasis baterai.
“Dari perhitungan awal, efisiensi energi bisa mencapai hampir 80 persen ketika sistem berjalan optimal,” ungkapnya.
Selain efisiensi, Kuat menyoroti dampak lingkungan dari teknologi ini. Menurutnya, konversi energi fosil ke listrik membuka peluang perolehan kredit karbon yang berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan bagi sektor perikanan.
“Teknologi ini ramah lingkungan dan memungkinkan nelayan memperoleh manfaat dari bursa karbon di masa depan,” katanya.
UGM juga menargetkan proyek ini menjadi percontohan nasional. Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, UGM dan DKP DIY berharap produksi baterai dan komponen mesin listrik dapat dilakukan di Yogyakarta untuk memperkuat industri dalam negeri.
Kuat menambahkan bahwa evaluasi teknis akan terus berjalan, termasuk pada desain mesin tempel agar lebih ringan dan mudah pemasangan atau pelepasannya.
“Kami ingin nelayan bisa bongkar pasang sendiri dengan mudah. Teknologi harus sederhana, aman, dan sesuai kondisi lapangan,” tutupnya.
Melalui inovasi mesin tempel perahu listrik, pemerintah dan akademisi berupaya menghadirkan perikanan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing. (ef linangkung)