
KABARJAWA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menorehkan sejarah baru pada September 2025. Kota budaya ini akan menjadi pusat perhatian dunia medis internasional.
Ribuan ahli syaraf terkemuka akan berkumpul di Yogyakarta dalam gelaran Asian Oceanian Congress of Neuro Rehabilitation (AOCNR) 2025, kongres ilmiah terbesar di bidang neurorehabilitasi se-Asia Pasifik.
Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI), dr. Rumaisah Hasan, Sp.KFR(K), menyampaikan kabar ini dengan penuh semangat.
Ia mengumumkan bahwa DIY resmi terpilih sebagai tuan rumah AOCNR 2025. Pengumuman tersebut ia sampaikan saat audiensi bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat, 18 Juli 2025.
Dr. Rumaisah menegaskan bahwa kongres AOCNR 2025 akan berlangsung pada 3–7 September 2025 di The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta. Ia memastikan sekitar 2.000 peserta dari 25 negara akan hadir dan memenuhi hotel serta ruang-ruang konvensi di Yogyakarta.
“DIY bukan hanya memiliki fasilitas yang memadai, tetapi juga sejarah panjang dan nilai-nilai budaya yang kuat,” tegas dr. Rumaisah.
Ia menambahkan bahwa Sri Sultan memberikan arahan khusus agar pelaksanaan AOCNR 2025 turut mempromosikan budaya dan pariwisata DIY kepada dunia. Arahan tersebut akan diwujudkan dalam setiap rangkaian acara kongres.
AOCNR 2025: Kolaborasi Ilmiah dan Dampak Sosial
Dr. Rumaisah menjelaskan bahwa PERDOSRI memilih Yogyakarta bukan hanya karena kesiapan infrastrukturnya, tetapi juga keistimewaannya sebagai pusat budaya Jawa. Ia menilai kongres ini sebagai momentum strategis untuk mengenalkan Yogyakarta ke mata dunia.
Sri Sultan berharap para peserta mancanegara dapat merasakan langsung kehangatan masyarakat DIY serta menikmati kekayaan budaya lokal.
“Harapannya, Sri Sultan berkenan hadir membuka acara ini. Beliau adalah sosok lansia yang sangat inspiratif dan menjadi simbol istimewa bagi DIY dan Indonesia,” kata dr. Rumaisah.
AOCNR 2025 mengusung tema “Neurorehabilitation: The Future Trends from Hospital to Community”. Tema ini menyoroti pentingnya transisi layanan rehabilitasi saraf dari rumah sakit ke masyarakat.
Fokus utama kongres adalah meningkatkan kualitas hidup para lansia, selaras dengan tingginya proporsi penduduk lansia di DIY.
Dr. Rumaisah memastikan bahwa kongres ini bukan sekadar pertemuan ilmiah. Ia menegaskan PERDOSRI akan menggelar berbagai kegiatan sosial, seperti penyuluhan kesehatan, pemeriksaan gratis, serta edukasi khusus bagi lansia.
“Ini bukan sekadar kongres ilmiah, tetapi juga wadah untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya tegas.
PERDOSRI akan berkolaborasi dengan World Federation for Neurorehabilitation (WFNR) dan Asia Oceanian Society for Neurorehabilitation (AOSNR) dalam menyelenggarakan AOCNR 2025. Rangkaian acaranya meliputi simposium, kuliah umum, workshop praktik langsung, seminar publik, hingga kompetisi riset.
Kongres ini akan menghadirkan pembahasan inovasi dan teknologi terkini di bidang rehabilitasi saraf. Dr. Rumaisah menargetkan AOCNR 2025 menjadi pertemuan ilmiah terbesar di kawasan Asia-Oseania dan mendorong ilmu kesehatan berperan aktif dalam pembangunan komunitas.
Sri Sultan menyambut baik pelaksanaan kongres ini. Ia yakin kehadiran para delegasi akan membawa multiplier effect ekonomi bagi masyarakat Yogyakarta, sekaligus meneguhkan posisi DIY sebagai destinasi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) berkelas dunia.