
KabarJawa.com– Hujan deras yang turun tanpa jeda bersamaan dengan padatnya arus wisatawan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 menciptakan pemandangan yang kontras di Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul.
Di satu sisi, wisatawan tetap memadati pantai ikonik Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut. Di sisi lain, tumpukan sampah kiriman banjir bercampur sampah bekas pengunjung memenuhi bibir pantai.
Kondisi cuaca buruk itu memaksa para petugas kebersihan Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Parangtritis bekerja ekstra keras.
Pembersihan Sampah di Pantai Parangtritis
Para petugas tidak hanya membersihkan pantai pada siang hari, tetapi juga rela lembur hingga larut malam demi menjaga kebersihan dan citra kawasan wisata andalan Bantul tersebut.
Setiap malam, petugas UPK Parangtritis menyusuri garis pantai dengan langkah cepat. Mereka memasang senter di kepala sebagai satu-satunya sumber penerangan saat gelap menyelimuti kawasan pantai.
Cahaya senter itu memantul pada plastik, ranting, dan berbagai jenis sampah lain yang terdampar akibat gelombang laut.
Koordinator UPK Parangtritis, Suranto, menjelaskan bahwa lonjakan volume sampah terjadi hampir setiap musim liburan, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah hulu sungai.
Air sungai yang meluap menyeret sampah dari permukiman dan perkotaan menuju laut, lalu ombak membawa kembali sampah tersebut ke bibir pantai.
“Saat hujan deras dan banjir, sampah yang ada di sungai hanyut sampai ke laut. Sampah itu kemudian terombang-ambing dan akhirnya terdampar di pantai. Kalau sudah terdampar, volumenya cukup banyak,” ujar Suranto saat ditemui Minggu (4/1/2026).
Suranto mengungkapkan, sekali banjir besar terjadi, petugas membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk menuntaskan pembersihan sampah kiriman.
Meski begitu, ia menyebut kondisi akan membaik ketika musim hujan berakhir karena volume sampah kiriman berangsur menurun.
“Kalau sekali banjir besar, butuh waktu sekitar seminggu untuk membersihkan semuanya. Tapi kalau musim hujan selesai, sampah kiriman seperti itu bisa berkurang,” jelasnya.
Jenis Sampah
Pada puncak pergantian tahun baru, volume sampah pengunjung Pantai Parangtritis mencapai sekitar dua ton dalam satu hari.
Sementara itu, sampah kiriman akibat banjir bahkan bisa mencapai empat hingga lima ton per hari. Jumlah tersebut membuat petugas harus bekerja tanpa mengenal waktu.
Suranto menegaskan bahwa jenis sampah bekas pengunjung dan sampah kiriman banjir sangat berbeda.
Sampah pengunjung umumnya berupa sisa makanan, botol dan gelas minuman, plastik kemasan, hingga bekas kembang api perayaan malam tahun baru.
“Kalau sampah dari pengunjung itu rata-rata bekas makanan, minuman, dan kembang api. Tapi kalau sampah kiriman banjir dari perkotaan, isinya sampah rumah tangga seperti bungkus mi instan, plastik sabun, bahkan pampers,” paparnya.
Selain itu, sampah yang terbawa aliran Sungai Opak juga membawa material alami dari kawasan pegunungan.
Petugas sering menemukan ranting, dahan, dan kayu yang menumpuk di sepanjang garis pantai, menambah berat pekerjaan pembersihan.
Di tengah kondisi tersebut, UPK Parangtritis tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Suranto menyampaikan permohonan maaf kepada pengunjung apabila masih mendapati sampah di beberapa titik pantai.
“Kami mohon maaf kepada pengunjung jika masih merasa terganggu dengan sampah di bibir pantai. Ini sedang musim penghujan, jadi sampah kiriman masih ada. Namun, kami berusaha semaksimal mungkin membersihkan seluruh kawasan Pantai Parangtritis,” tutupnya.
Di balik hamparan pasir dan debur ombak Pantai Parangtritis, para petugas kebersihan terus berjuang membersihkan sampah. (ef linangkung)