
KabarJawa.com– Kesedihan masih menyelimuti sebuah rumah sederhana di kawasan Kuwon Tengah, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul.
Di rumah itu, keluarga almarhum RSR (14), seorang siswa kelas VII SMP, berusaha tegar menghadapi kehilangan yang begitu mendalam.
Di tengah suasana duka tersebut, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih datang langsung untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum, Rabu (3/6/2026).
Bupati tidak datang seorang diri. Ia didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati, Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul Mukatib, serta jajaran pemerintah kalurahan setempat.
Bupati Gunungkidul Takziah
Setibanya di lokasi, Endah langsung menemui orang tua dan keluarga besar almarhum. Ia menyampaikan rasa duka cita yang mendalam serta memberikan dukungan moral agar keluarga tetap kuat menghadapi masa-masa sulit setelah kepergian putra mereka.
Suasana haru tampak menyelimuti pertemuan tersebut. Keluarga yang masih berusaha menerima kenyataan kehilangan sosok anak itu menyambut kedatangan rombongan dengan penuh kehangatan.
Namun, kunjungan itu tidak hanya menjadi ajang penyampaian belasungkawa. Bupati juga meninjau secara langsung kondisi rumah yang ditempati keluarga almarhum.
Dari hasil peninjauan, Endah mendapati bahwa keluarga tersebut tinggal di rumah sederhana yang sebagian besar masih menggunakan material bambu atau gedek. Kondisi sanitasi dan kamar mandi pun belum memenuhi standar hunian yang sehat dan layak.
Temuan itu langsung mengundang perhatian Bupati. Ia menilai keluarga tersebut membutuhkan dukungan nyata agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
“Saya dalam waktu dekat akan datang kembali bersama Ketua Baznas untuk membangunkan rumah bagi keluarga almarhum agar bapak dan ibunya bisa menempati rumah yang lebih sehat dan layak huni,” ujar Endah saat berada di lokasi.
Pernyataan tersebut memberikan secercah harapan di tengah suasana duka yang masih membayangi keluarga. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berkomitmen menjalin koordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) guna merealisasikan renovasi total rumah tersebut.
Sosok Siswa Berprestasi
Di balik kabar duka yang mengejutkan banyak pihak, tersimpan kisah tentang seorang pelajar yang selama ini memiliki prestasi dan sikap yang membanggakan.
RSR tercatat sebagai siswa kelas VII yang menunjukkan semangat belajar tinggi sejak awal masuk sekolah. Di mata para guru, ia bukan hanya murid yang rajin, tetapi juga memiliki karakter yang santun dan penurut.
Kepala Sekolah tempat RSR menempuh pendidikan, Arik Suku Martono, mengenang almarhum sebagai siswa yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.
Menurut Arik, RSR selalu menunjukkan antusiasme saat berada di kelas. Ia kerap memilih duduk di bangku depan agar dapat mengikuti pelajaran dengan lebih fokus. Selain itu, ia juga dikenal disiplin dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru.
“Almarhum termasuk siswa yang rajin dan aktif. Dia selalu ingin duduk di depan serta menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik,” ungkap Arik.
Prestasi RSR tidak hanya terlihat dalam bidang akademik. Di bidang keagamaan, ia juga menunjukkan kemampuan yang membanggakan.
Ia pernah mewakili sekolah dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kapanewon. Berkat kemampuan yang dimilikinya, ia berhasil melaju hingga tingkat kabupaten dan membawa nama baik sekolah.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa RSR memiliki potensi besar untuk berkembang dan meraih masa depan yang cerah.
Bagi para guru, kepergian RSR meninggalkan duka yang mendalam. Sosoknya yang tenang, sopan, dan berprestasi membuat banyak pihak merasa kehilangan.
Di lingkungan keluarga, RSR juga meninggalkan kesan yang sama baiknya. Sang kakek, Sahiran, mengenang cucunya sebagai anak yang patuh dan tidak pernah menunjukkan perilaku yang menyulitkan keluarga.
Menurut Sahiran, kehidupan sehari-hari RSR berjalan sebagaimana anak seusianya. Ia berangkat sekolah, belajar, dan menjalani aktivitas dengan normal.
“Kesehariannya sekolah biasa saja, tidak ada hambatan, dan sangat penurut. Apa yang diperintahkan ibunya selalu dituruti,” tutur Sahiran.
Kenangan tentang kepatuhan dan kesederhanaan sikap almarhum kini menjadi bagian yang terus hidup di tengah keluarga yang ditinggalkan.
Sekolah Pastikan Tidak Ada Indikasi Perundungan
Di tengah berbagai spekulasi yang muncul setelah peristiwa tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa mereka tidak menemukan indikasi perundungan atau bullying yang dialami almarhum.
Arik menjelaskan bahwa sekolah selama ini menjalankan pengawasan terhadap peserta didik dan terus mendorong siswa agar berani menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Pihak sekolah juga rutin memberikan pendampingan serta menciptakan ruang komunikasi agar setiap siswa merasa nyaman untuk berbicara ketika mengalami kesulitan.
Menurut Arik, karakter RSR yang cenderung pendiam merupakan hal lazim pada siswa yang baru memasuki jenjang SMP.
“Karakter pendiam pada siswa baru merupakan hal yang biasa. Kami juga terus melakukan pemantauan dan memberikan stimulus agar anak-anak berani menyampaikan masalah jika ada kendala,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa lingkungan sekolah selama ini berupaya menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Kunjungan Bupati Gunungkidul akhirnya berakhir dengan doa bersama keluarga, perangkat kalurahan, dan rombongan yang hadir.
Dalam doa tersebut, seluruh pihak memohon agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt., seluruh amal ibadahnya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kondisi sosial, pendidikan, dan kesehatan mental anak-anak di lingkungan sekitar. (ef linangkung)