
KAARJAWA – Kabupaten Gunungkidul menegaskan posisinya sebagai lumbung budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tiga kalurahan di Bumi Handayani resmi menyandang predikat Kalurahan Mandiri Budaya pada Jumat (11/7/2025). Penetapan ini menambah daftar panjang desa adat yang berhasil menjaga nyawa budayanya.
Kalurahan Mandiri Budaya di Gunungkidul
Dinas Kebudayaan Gunungkidul menyebutkan, penambahan tiga kalurahan tersebut menjadikan total 14 kalurahan di Gunungkidul berstatus Mandiri Budaya dari total 144 kalurahan yang ada.
Kalurahan Nglanggeran di Kapanewon Patuk, Kalurahan Bendung di Kapanewon Semin, dan Kalurahan Ngeposari di Kapanewon Semanu berhasil lolos seluruh tahapan seleksi. Mereka mengukir sejarah sebagai garda depan pelestari budaya lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Gunungkidul, Agus Mantara, menegaskan capaian ini lahir dari proses panjang dan tidak instan. Ia memastikan setiap kalurahan melalui tahap-tahap penilaian berbasis geliat budaya masyarakat.
“Kalurahan Mandiri Budaya itu ibarat sudah masuk area Top Gear dalam pelestarian budaya. Aspek perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, hingga pembinaan kebudayaannya sudah berjalan semua,” tegas Agus.
Sebelum ketiga kalurahan ini, 11 kalurahan lain telah lebih dulu meraih status Mandiri Budaya. Kalurahan-kalurahan itu antara lain adalah sebagai berikut.
- Bejiharjo di Karangmojo
- Putat di Patuk
- Jerukwudel di Girisubo
- Giring di Paliyan
- Semin di Semin
- Kemadang di Tanjungsari
- Semanu di Semanu
- Kepek di Wonosari
- Katongan di Nglipar
- Giripurwo di Purwosari
- Girisekar di Panggang
Tahapan yang Dilewati
Agus menegaskan setiap kalurahan wajib melewati empat tahap penting, mulai dari Kalurahan Kantong Budaya, naik ke Kalurahan Rintisan Budaya, lalu menjadi Kalurahan Budaya, hingga akhirnya menyandang predikat Mandiri Budaya.
“Dalam proses akreditasi, kalurahan wajib menunjukkan geliat budaya yang terukur. Mereka juga harus mengembangkan empat pilar penting, yaitu desa budaya, desa wisata, desa prima, dan desa preneur,” ujar Agus.
Agus berharap ke depan akan muncul pilar baru seperti kalurahan maritim yang mengangkat potensi kelautan dan pesisir. Menurutnya, Kalurahan Mandiri Budaya bukan hanya simbol, melainkan motor penggerak kesejahteraan warga.
“Status ini harus mendorong ekonomi warga dan menekan angka kemiskinan. Itulah roh Kalurahan Mandiri Budaya,” imbuhnya.
Sementara itu, Aria Nugrahadi dari Dinas Kebudayaan DIY menegaskan pariwisata berbasis budaya tidak boleh meniru konsep luar. Menurutnya, wisata sejati justru lahir dari keseharian masyarakat yang merawat warisan budaya mereka.
“Kepariwisataan itu tidak bisa copy-paste. Budaya yang hidup dalam keseharian warga itulah pariwisata sesungguhnya. Tidak perlu dibuat-buat. Cukup diwedar lan dikuri, artinya dirawat dan dikembangkan,” tegas Aria.
Aria mengungkapkan program Kalurahan Mandiri Budaya lahir dari masyarakat, bukan desain top-down pemerintah. Ia memastikan pemerintah hanya hadir sebagai fasilitator.
“Paradigmanya dibalik. Bukan uangnya untuk kegiatan apa, tapi gagasan dari kalurahan yang kami dukung,” tandasnya. (ef linangkung)