
KabarJawa.com – Pemerintah Kota Yogyakarta mulai mengimplementasikan strategi penguatan identitas sebagai “Kota Festival” pada tahun 2026.
Langkah ini dilakukan melalui pengorganisasian kalender acara budaya dan pariwisata yang lebih terpadu guna meningkatkan angka kunjungan serta memperpanjang durasi tinggal wisatawan di wilayah tersebut.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengaktivasi ruang-ruang publik melalui berbagai agenda festival, tidak hanya pada musim puncak kunjungan (high season), tetapi juga pada periode sepi pengunjung (low season).
Pemerintah setempat menargetkan festival sebagai instrumen utama dalam menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Evaluasi Data Kunjungan dan Target Ekonomi
Strategi tahun 2026 disusun berdasarkan data kunjungan wisata tahun 2025 yang mencatatkan angka sekitar 11 juta wisatawan. Dari total tersebut, sebanyak 314 ribu orang merupakan wisatawan mancanegara.
Berdasarkan catatan statistik, rata-rata lama tinggal wisatawan saat ini masih berada di angka 1,7 hari dengan tingkat belanja per orang mencapai Rp2,28 juta.
Pemerintah Kota Yogyakarta mengidentifikasi adanya ruang peningkatan pada durasi kunjungan agar dampak ekonomi terhadap pelaku usaha hotel, UMKM, dan industri kreatif dapat lebih optimal.
Integrasi Agenda dan Perluasan Kawasan Festival
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Hermawan, menyatakan perlunya pengelolaan festival secara terintegrasi agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Ia menyoroti periode Februari hingga April yang selama ini dikenal sebagai musim sepi pengunjung sebagai waktu potensial untuk menyelenggarakan agenda menarik.
“Kita melihat sepanjang musim sepi wisatawan pada Februari hingga April, sebenarnya ada beberapa agenda yang bisa kita kemas lebih menarik,” ujar Wawan.
Ia menegaskan perlunya orkestrasi antar-agenda agar setiap kegiatan saling mendukung dalam satu ekosistem pariwisata.
Dalam rencana perluasan dampak, perayaan Imlek yang biasanya terpusat di kawasan Ketandan akan didorong hingga ke kawasan Poncowinatan.
Langkah ini mencakup penataan ornamen khas untuk menyebarkan pusat keramaian dan mendistribusikan manfaat ekonomi ke titik-titik baru.
Selain itu, potensi agenda malam takbir yang diinisiasi oleh pemuda Muhammadiyah akan dikemas secara terpadu.
Selama ini, kegiatan tersebut dinilai masih berjalan secara parsial sehingga belum mampu menarik wisatawan dalam skala besar melalui kolaborasi lintas sektor.
Transformasi WJNC dan Sinergi Kampung Wisata
Sektor budaya unggulan, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC), direncanakan mengalami perubahan format dari penyelenggaraan satu malam menjadi satu pekan penuh.
Perpanjangan durasi ini diharapkan mampu meningkatkan okupansi hotel serta perputaran ekonomi di sektor kuliner dan transportasi.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muhammad Zandaru, menambahkan bahwa penguatan festival merupakan bagian dari diplomasi ekonomi daerah. Pihaknya fokus pada integrasi antara 46 kampung wisata dan 45 kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
“Dengan kerja sama antar organisasi perangkat daerah dan instansi swasta, kita bisa melibatkan lebih banyak UMKM sebagai magnet wisata,” tegas Wawan terkait keterlibatan sektor usaha mikro.
Zandaru optimistis bahwa penataan festival yang berkelanjutan dapat meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan menjadi minimal dua hari.
Integrasi ini juga mencakup penyusunan paket wisata terpadu yang melibatkan sektor perhotelan dan biro perjalanan untuk menarik pasar domestik maupun internasional.