Branding Kota Festival, Jogja Bidik Target Lama Tinggal Wisatawan 2 Hari Lewat Kalender Event 2026

Bagikan :
Cara Pemkot Yogyakarta dongkrak ekonomi lokal lewat branding Kota Festival. (Ist)

KabarJawa.com – Pemerintah Kota Yogyakarta mulai mengimplementasikan strategi penguatan identitas sebagai “Kota Festival” pada tahun 2026.

Langkah ini dilakukan melalui pengorganisasian kalender acara budaya dan pariwisata yang lebih terpadu guna meningkatkan angka kunjungan serta memperpanjang durasi tinggal wisatawan di wilayah tersebut.

Kebijakan ini bertujuan untuk mengaktivasi ruang-ruang publik melalui berbagai agenda festival, tidak hanya pada musim puncak kunjungan (high season), tetapi juga pada periode sepi pengunjung (low season).

Pemerintah setempat menargetkan festival sebagai instrumen utama dalam menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Evaluasi Data Kunjungan dan Target Ekonomi

Strategi tahun 2026 disusun berdasarkan data kunjungan wisata tahun 2025 yang mencatatkan angka sekitar 11 juta wisatawan. Dari total tersebut, sebanyak 314 ribu orang merupakan wisatawan mancanegara.

Berdasarkan catatan statistik, rata-rata lama tinggal wisatawan saat ini masih berada di angka 1,7 hari dengan tingkat belanja per orang mencapai Rp2,28 juta.

Pemerintah Kota Yogyakarta mengidentifikasi adanya ruang peningkatan pada durasi kunjungan agar dampak ekonomi terhadap pelaku usaha hotel, UMKM, dan industri kreatif dapat lebih optimal.

Baca juga  31 Simbol Sakral Muncul dalam Kain Singep Cupu Kyai Panjala pada Prosesi Malem Selasa Kliwon 29 September 2025, Ini Makna yang Beredar

Integrasi Agenda dan Perluasan Kawasan Festival

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Hermawan, menyatakan perlunya pengelolaan festival secara terintegrasi agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Ia menyoroti periode Februari hingga April yang selama ini dikenal sebagai musim sepi pengunjung sebagai waktu potensial untuk menyelenggarakan agenda menarik.

“Kita melihat sepanjang musim sepi wisatawan pada Februari hingga April, sebenarnya ada beberapa agenda yang bisa kita kemas lebih menarik,” ujar Wawan.

Ia menegaskan perlunya orkestrasi antar-agenda agar setiap kegiatan saling mendukung dalam satu ekosistem pariwisata.

Dalam rencana perluasan dampak, perayaan Imlek yang biasanya terpusat di kawasan Ketandan akan didorong hingga ke kawasan Poncowinatan.

Langkah ini mencakup penataan ornamen khas untuk menyebarkan pusat keramaian dan mendistribusikan manfaat ekonomi ke titik-titik baru.

Selain itu, potensi agenda malam takbir yang diinisiasi oleh pemuda Muhammadiyah akan dikemas secara terpadu.

Selama ini, kegiatan tersebut dinilai masih berjalan secara parsial sehingga belum mampu menarik wisatawan dalam skala besar melalui kolaborasi lintas sektor.

Baca juga  Misteri Gua Jepang di Yogyakarta: Antara Peninggalan Sejarah dan Kisah Horor Lokal

Transformasi WJNC dan Sinergi Kampung Wisata

Sektor budaya unggulan, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC), direncanakan mengalami perubahan format dari penyelenggaraan satu malam menjadi satu pekan penuh.

Perpanjangan durasi ini diharapkan mampu meningkatkan okupansi hotel serta perputaran ekonomi di sektor kuliner dan transportasi.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muhammad Zandaru, menambahkan bahwa penguatan festival merupakan bagian dari diplomasi ekonomi daerah. Pihaknya fokus pada integrasi antara 46 kampung wisata dan 45 kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

“Dengan kerja sama antar organisasi perangkat daerah dan instansi swasta, kita bisa melibatkan lebih banyak UMKM sebagai magnet wisata,” tegas Wawan terkait keterlibatan sektor usaha mikro.

Zandaru optimistis bahwa penataan festival yang berkelanjutan dapat meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan menjadi minimal dua hari.

Integrasi ini juga mencakup penyusunan paket wisata terpadu yang melibatkan sektor perhotelan dan biro perjalanan untuk menarik pasar domestik maupun internasional.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid