
Kabarjawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Minggu dini hari, 8 Februari 2026.
Awan panas guguran teramati meluncur sejauh 1,5 kilometer dari puncak menuju sektor barat daya.
Peristiwa tersebut terjadi saat sebagian besar warga masih beristirahat, namun terekam jelas oleh instrumen pemantauan.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, menyatakan bahwa awan panas guguran tersebut merupakan bagian dari dinamika suplai magma yang masih berlangsung di tubuh Merapi.
Awan Panas Terjadi Pukul 01.15 WIB
Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi melalui sistem MAGMA-VAR, awan panas guguran terjadi pada pukul 01.15 WIB.
Guguran panas meluncur dengan jarak estimasi 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Sat dan Kali Putih.
Seismograf mencatat peristiwa ini dengan amplitudo maksimum 32 milimeter dan durasi 149,52 detik.
Data tersebut menunjukkan energi luncuran yang cukup signifikan. BPPTKG mencatat kejadian ini sebagai salah satu awan panas guguran dengan jarak luncur terpanjang dalam periode pengamatan harian.
Aktivitas Guguran Masih Intens
“Selama periode pengamatan 7 Februari 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, Gunung Merapi menunjukkan aktivitas kegempaan yang tinggi,” ujar Agus Budi Santosa.
Petugas mencatat dua kali kejadian awan panas guguran, 104 kali gempa guguran, serta 85 kali gempa hybrid atau fase banyak yang mengindikasikan pergerakan magma aktif di dalam gunung.
Selain itu, terekam satu gempa vulkanik dangkal dan satu gempa tektonik jauh.
BPPTKG juga mengamati 14 kali guguran lava pijar yang meluncur ke arah barat daya melalui Kali Krasak, Kali Sat/Putih, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Kondisi Cuaca dan Asap Kawah
Kondisi cuaca di sekitar Merapi selama periode pengamatan didominasi awan tebal, mendung, dan hujan.
Curah hujan tercatat mencapai 21 milimeter per hari, dengan suhu udara berkisar antara 17,4 hingga 23,3 derajat Celsius.
Angin bertiup lemah ke arah timur, sementara kelembapan udara berada pada kisaran 67 hingga 99 persen.
Secara visual, puncak Merapi tertutup kabut tipis hingga sedang. Asap kawah berwarna putih teramati dengan tekanan lemah hingga sedang, berintensitas tebal, dan mencapai ketinggian sekitar 50 meter di atas puncak kawah.
Kondisi ini menunjukkan aktivitas degassing yang masih berlangsung.
Status Gunung Merapi Tetap Level III Siaga
Hingga laporan ini disusun, status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas masih mengancam sektor selatan hingga barat daya.
Daerah yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Imbauan BPPTKG
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam kawasan rawan bencana.
Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran dan lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak Merapi.
Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan abu vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif, mengingat lontaran material dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Agus Budi Santosa menegaskan bahwa pemantauan intensif dilakukan selama 24 jam.
Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, BPPTKG akan segera meninjau ulang tingkat aktivitas Merapi dan menyampaikan informasi terbaru kepada publik.
Sumber Resmi dan Pemantauan Berkelanjutan
Laporan ini disusun oleh Suratno dan Yulianto berdasarkan data resmi dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG.
Masyarakat diimbau untuk hanya mengikuti informasi dari kanal resmi pemerintah serta tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Gunung Merapi kembali mengingatkan bahwa aktivitas vulkaniknya masih berlangsung.
Guguran panas yang terjadi pada dini hari menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan sebagai kunci keselamatan bersama.