
KABARJAWA — Sejarah seakan berdenyut kembali di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta. Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, memimpin rombongan dari Provinsi Sumatera Barat untuk bersilaturahmi langsung kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda protokoler, melainkan upaya menggali dan meneguhkan kembali peran Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan di mata negara.
Tujuan Kedatangan Wali Kota Bukittinggi
Ramlan datang dengan niat bulat. Ia ingin mendengar langsung nasihat Sri Sultan, tokoh yang pernah berada di pusaran sejarah kemerdekaan.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, mengungkapkan bahwa rombongan Bukittinggi secara khusus meminta arahan mengenai langkah yang tepat agar negara mengakui predikat tersebut.
“Bapak Wali Kota Bukittinggi beserta jajaran memohon arahan kepada Pak Gubernur terkait bagaimana negara bisa mengakui Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Antara Jakarta, Yogyakarta, dan Bukittinggi itu satu kesatuan sejarah yang tidak terpisahkan,” ujar Dian, usai mendampingi Sri Sultan beraudiensi.
Sri Sultan menyambut hangat niat mulia tersebut. Menurut Dian, Sri Sultan menilai Bukittinggi memiliki historisitas kuat yang menyatu dengan kisah perjuangan Yogyakarta. Ia menegaskan hubungan erat kedua kota saat masa genting kemerdekaan.
“Bukittinggi menjadi salah satu ibu kota pemerintahan darurat ketika Yogyakarta diduduki. Hubungannya jelas dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta yang kini ditetapkan sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara,” terang Dian.
Dukungan Sri Sultan
Dukungan nyata juga terlihat ketika Sri Sultan menyerahkan dua buku hasil kajian Dinas Kebudayaan DIY tentang penegakan kedaulatan negara, di mana nama Bukittinggi tercatat sebagai kota penting dalam perjuangan tersebut.
Ramlan menegaskan, kunjungannya bukan sekadar untuk mencari legitimasi. Ia datang dengan misi menggali sejarah yang sebenar-benarnya, agar warisan perjuangan tidak pudar di telan zaman.
“Kita di Bukittinggi pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia saat pemerintahan darurat. Ketika Jogja dikepung Belanda, pemerintah pindah ke Bukittinggi. Sejarah ini tidak boleh hilang,” tegasnya.
Ia prihatin melihat generasi muda yang mulai kehilangan pengetahuan tentang perjalanan bangsa. Karena saat ini, anak-anak kehilangan sejarah. Mereka tidak tahu siapa tokoh-tokoh itu dan kenapa mereka berjuang.
“Kita harus menularkan semangat ini, karena peradaban tak mungkin berdiri tanpa sejarah,” ujarnya.
Setelah bertemu Sri Sultan, Ramlan berencana menemui tokoh-tokoh nasional lain yang memiliki kesaksian langsung atau pengetahuan mendalam tentang hubungan Yogyakarta dan Bukittinggi.
Langkah ini memastikan sejarah yang diwariskan kepada generasi mendatang benar-benar murni, tanpa simpang siur. (ef linangkung)