
KabarJawa.com– Data Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Gunungkidul mencatat rata-rata pengeluaran wisatawan mencapai Rp521.541 per kunjungan selama Januari hingga Maret 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa wisatawan yang datang ke Gunungkidul semakin berani membelanjakan uangnya untuk menikmati berbagai layanan dan produk wisata.
Meski demikian, rata-rata lama tinggal wisatawan masih berada di angka 1,04 hari. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pengunjung masih menjadikan Gunungkidul sebagai destinasi wisata singkat.
Fenomena tersebut menjadi ironi. Di satu sisi, jumlah wisatawan dan nilai transaksi terus bergerak naik. Namun di sisi lain, perputaran ekonomi yang seharusnya dapat berlangsung lebih lama masih belum optimal. Wisatawan memilih kembali ke daerah asal setelah menikmati destinasi wisata utama.
Wisatawan Gunungkidul
Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Ekonomi Kreatif dan Industri Pariwisata Disparekrafpora Gunungkidul, Erlangga Singgih Anandito, mengungkapkan bahwa wisatawan nusantara masih menjadi tulang punggung sektor pariwisata daerah.
Selama Triwulan I 2026, rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara mencapai Rp499.208 per kunjungan dengan lama tinggal sekitar 1,01 hari.
Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas wisatawan domestik datang untuk menikmati destinasi wisata dalam waktu singkat sebelum kembali ke kota asal mereka.
Menurut Anandito, pola tersebut sangat dipengaruhi oleh karakteristik pasar wisatawan Gunungkidul yang sebagian besar berasal dari wilayah sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
“Dari sisi wisatawan nusantara, komponen belanja terbesar berasal dari sektor akomodasi atau penginapan yang mencapai rata-rata Rp417.897. Disusul pengeluaran untuk transportasi lokal sebesar Rp367.500, serta makan dan minum sebesar Rp133.125,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Besarnya pengeluaran pada sektor penginapan dan transportasi menunjukkan bahwa wisatawan mulai memanfaatkan berbagai layanan pendukung selama berkunjung.
Namun, durasi kunjungan yang masih pendek membuat potensi transaksi lanjutan belum berkembang secara maksimal.
Dampak Positif Ekonomi Kreatif
Pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya menguntungkan pengelola destinasi wisata. Pelaku ekonomi kreatif lokal juga mulai merasakan dampak positif dari meningkatnya aktivitas wisata.
Data Disparekrafpora menunjukkan bahwa produk kuliner menjadi penyumbang terbesar dalam belanja ekonomi kreatif wisatawan dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp175.418 per kunjungan.
Setelah kuliner, wisatawan juga cukup banyak mengalokasikan dana untuk menikmati pertunjukan seni dan budaya dengan rata-rata belanja Rp99.286. Sementara itu, produk kerajinan kain mencatat rata-rata transaksi sebesar Rp80.552.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih beragam daripada sekadar menikmati panorama alam.
Mereka mulai tertarik mencicipi makanan khas, menyaksikan atraksi budaya, hingga membawa pulang produk kerajinan sebagai buah tangan.
Namun demikian, sejumlah subsektor ekonomi kreatif masih menghadapi tantangan besar. Produk kerajinan kayu dan bambu, produk berbasis batu dan karst, serta jasa pemandu wisata masih mencatat kontribusi belanja yang relatif rendah.
“Kondisi itu menunjukkan bahwa peluang pengembangan produk wisata berbasis pengalaman masih sangat terbuka untuk digarap secara lebih serius,” tambahnya.
Di balik meningkatnya nilai belanja wisatawan, Disparekrafpora menemukan fakta bahwa pola perjalanan wisatawan nusantara masih didominasi wisata sehari atau day trip.
Kemudahan akses menuju Gunungkidul menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
Infrastruktur jalan yang semakin baik membuat wisatawan dari Kota Yogyakarta maupun daerah penyangga lain dapat mengunjungi berbagai destinasi wisata tanpa harus menginap.
Selain itu, karakter wisata alam Gunungkidul yang dapat dinikmati dalam waktu relatif singkat turut mendorong wisatawan memilih perjalanan pulang-pergi dalam satu hari.
Wisatawan dapat mengunjungi pantai-pantai, kawasan geowisata karst, hingga objek wisata alam lain dalam rentang waktu beberapa jam. Akibatnya, wisatawan merasa tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk memperpanjang masa tinggal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingkat hunian hotel, aktivitas restoran, serta perputaran ekonomi malam hari yang seharusnya dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Wisatawan Asing Belanja Lebih Besar
Berbeda dengan wisatawan domestik, wisatawan mancanegara menunjukkan pola pengeluaran yang lebih tinggi dan lebih beragam.
Selama Triwulan I 2026, rata-rata pengeluaran wisatawan asing mencapai Rp1.024.041 per kunjungan atau setara sekitar US$59,92. Angka tersebut hampir dua kali lipat daripada pengeluaran wisatawan nusantara.
Pengeluaran terbesar wisatawan mancanegara berasal dari paket wisata lokal dengan rata-rata Rp495.752 per kunjungan.
Fakta ini menunjukkan bahwa wisatawan asing lebih banyak memanfaatkan layanan wisata yang terorganisir daripada melakukan perjalanan mandiri.
Selain itu, wisatawan asing mengeluarkan rata-rata Rp408.142 untuk akomodasi dan penginapan serta Rp163.542 untuk kebutuhan makan dan minum.
Menariknya, wisatawan mancanegara juga menunjukkan minat yang cukup tinggi terhadap produk kerajinan lokal dengan rata-rata nilai transaksi mencapai Rp169.480.
Belanja jasa pemandu wisata juga mencapai Rp73.824 per kunjungan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa wisatawan asing cenderung membutuhkan pendampingan dalam memahami destinasi, budaya, maupun aktivitas wisata yang mereka kunjungi.
Meski memiliki nilai belanja lebih tinggi, lama tinggal wisatawan mancanegara di Gunungkidul ternyata juga belum terlalu panjang. Rata-rata mereka hanya menghabiskan waktu sekitar 1,35 hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang peningkatan nilai ekonomi dari pasar wisatawan asing masih sangat besar apabila daerah mampu menghadirkan lebih banyak aktivitas dan pengalaman wisata yang menarik.
DIY dan Jawa Tengah Jadi Pasar Terbesar
Data asal wisatawan memperlihatkan dominasi kuat pasar regional terhadap sektor pariwisata Gunungkidul.
Wisatawan nusantara yang datang ke Gunungkidul sebagian besar berasal dari DIY dengan kontribusi mencapai 43,59 persen. Setelah itu, pasar terbesar berasal dari Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Barat, dan Riau.
Dominasi wilayah sekitar menunjukkan bahwa Gunungkidul memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata favorit masyarakat di kawasan Jawa bagian tengah.
Sementara itu, dominasi pasar wisatawan mancanegara masih negara-negara Asia Tenggara. Malaysia menjadi penyumbang terbesar dengan proporsi 37,50 persen. Posisi berikutnya adalah Singapura, sebesar 25 persen.
Selain kedua negara tersebut, wisatawan dari Jepang, Jerman, dan Tiongkok juga tercatat memberikan kontribusi yang cukup signifikan dengan porsi masing-masing sebesar 12,50 persen.
Komposisi tersebut memberikan gambaran bahwa wisatawan internasional mulai mengenal Gunungkidul mulai, meski potensi masih dapat berkembang lebih luas melalui promosi dan penguatan paket wisata berbasis pengalaman.
Tantangan Besar: Membuat Wisatawan Bertahan Lebih Lama
Sekretaris Disparekrafpora Gunungkidul, Eko Nurcahyo, menegaskan bahwa tantangan utama sektor pariwisata saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Menurutnya, fokus utama harus bergeser pada upaya meningkatkan lama tinggal dan nilai belanja wisatawan selama berada di Gunungkidul.
Pemerintah daerah menilai strategi pengembangan wisata berbasis pengalaman atau experience tourism menjadi salah satu langkah yang harus diperkuat.
Selain itu, pengembangan atraksi malam hari, paket wisata terpadu, serta penguatan ekonomi kreatif lokal juga menjadi agenda penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pariwisata.
“Dengan rata-rata belanja yang sudah menembus lebih dari Rp500 ribu per kunjungan, peningkatan lama tinggal menjadi kunci untuk mendorong dampak ekonomi pariwisata yang lebih besar bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal di Gunungkidul,” kata Eko.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sektor pariwisata diukur juga dari seberapa lama wisatawan bertahan dan berapa besar uang yang dibelanjakan selama berada di daerah tujuan wisata. (ef linangkung)