
KabarJawa.com — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meluncurkan awan panas guguran pada Senin dinihari, 9 Maret 2026.
Awan panas tersebut tercatat meluncur sejauh sekitar 1,7 kilometer ke arah barat daya dari puncak gunung.
Peristiwa itu terjadi pada pukul 03.06 WIB dan mengarah ke hulu Kali Boyong, salah satu alur sungai yang berada di sektor rawan aktivitas Gunung Merapi.
Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas guguran tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 44 milimeter dan berlangsung selama 121,78 detik.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari dinamika aktivitas Gunung Merapi yang hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga.
“Pada pukul 03.06 WIB terjadi awan panas guguran dengan estimasi jarak luncur 1.700 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Senin (9/3/2026).
Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Intens
Pemantauan aktivitas Gunung Merapi sepanjang Minggu, 8 Maret 2026 menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan masih cukup tinggi.
Petugas mencatat sebanyak 104 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 34 milimeter. Durasi gempa tersebut tercatat antara 29,56 hingga 198,96 detik.
Selain itu, alat pemantauan juga mendeteksi 70 kali gempa hybrid atau fase banyak yang menandakan adanya pergerakan magma di dalam tubuh gunung.
Di sisi lain, tercatat pula enam kali gempa tektonik jauh.
Pengamatan visual menunjukkan adanya asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal yang naik hingga sekitar 20 meter di atas puncak gunung.
Kondisi cuaca saat pengamatan dilaporkan mendung hingga berawan dengan suhu udara berkisar antara 18 hingga 25,6 derajat Celsius.
Meski puncak gunung sempat tertutup kabut pada beberapa waktu, petugas masih dapat melakukan pengamatan aktivitas secara berkala.
Guguran Lava Terjadi Puluhan Kali
Selain awan panas guguran pada dini hari, aktivitas guguran lava pijar juga tercatat cukup sering terjadi.
Dalam satu hari pengamatan, BPPTKG mencatat 22 kali guguran lava pijar yang meluncur dari puncak Gunung Merapi.
Material lava tersebut mengarah ke beberapa alur sungai di lereng gunung, antara lain Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih.
Jarak luncur maksimum guguran lava tercatat mencapai sekitar 1.900 meter dari puncak.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa suplai magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung dan berpotensi memicu runtuhan kubah lava yang dapat menghasilkan awan panas guguran.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih terjadi sehingga berpotensi memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” jelas Agus.
Zona Bahaya Merapi Tetap Berlaku
BPPTKG menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga, yang telah diberlakukan sejak 5 November 2020.
Pada level aktivitas tersebut, potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas berada pada sektor selatan hingga barat daya gunung.
Beberapa alur sungai yang masuk dalam zona potensi bahaya antara lain:
- Kali Boyong dengan potensi bahaya hingga radius 5 kilometer
- Kali Bedog, Kali Krasak, dan Kali Bebeng dengan potensi bahaya hingga 7 kilometer
- Kali Woro dengan potensi bahaya hingga 3 kilometer
- Kali Gendol dengan potensi bahaya hingga 5 kilometer
Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat terlontar hingga radius tiga kilometer dari puncak gunung.
Warga Diminta Tidak Beraktivitas di Zona Rawan
BPPTKG kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di wilayah yang termasuk dalam daerah potensi bahaya.
Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terutama saat terjadi hujan di kawasan lereng gunung.
Curah hujan berpotensi memicu banjir lahar yang membawa material vulkanik melalui sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat juga perlu mengantisipasi kemungkinan gangguan abu vulkanik jika aktivitas erupsi meningkat.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” tegas BPPTKG.
Aktivitas Gunung Merapi Dipantau 24 Jam
Gunung Merapi yang memiliki ketinggian sekitar 2.968 meter di atas permukaan laut terus dipantau secara intensif oleh BPPTKG selama 24 jam.
Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai peralatan, antara lain seismograf, kamera pemantau atau CCTV, sensor deformasi, serta pengamatan visual dari sejumlah pos pemantauan di sekitar gunung.
Masyarakat dapat mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Merapi melalui layanan informasi resmi Badan Geologi maupun kanal komunikasi pemerintah.
Pemantauan tersebut bertujuan memastikan setiap perubahan aktivitas gunung dapat segera terdeteksi sehingga langkah mitigasi bencana dapat dilakukan secara cepat.