
KabarJawa.com– Gemerlap pembukaan ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6/2026) malam, mendadak berubah menjadi panggung perdebatan panas.
Di tengah perayaan salah satu pameran seni rupa paling bergengsi di Indonesia itu, sebuah aksi teatrikal tunggal muncul sebagai suara tandingan yang memecah euforia.
Aksi seorang seniman teater bernama Ayik di pintu masuk lokasi pameran tersebut tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni.
Ia membawa pesan kritik yang tajam terhadap keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebagai sponsor ARTJOG 2026.
Namun, aksi yang semula bermaksud sebagai ekspresi artistik justru berujung pada polemik baru. Koalisi Seni ARTJOKES menilai terjadi tindakan represif terhadap aksi tersebut.
Mereka kemudian melayangkan tuntutan terbuka kepada manajemen ARTJOG untuk menyampaikan permintaan maaf kepada publik seni.
Kemarahan itu memuncak dalam konferensi pers pada Sabtu (20/6/2026). Para seniman yang tergabung dalam Koalisi ARTJOKES menyampaikan kegelisahan mereka terhadap arah penyelenggaraan ruang seni yang selama ini menjadi simbol kebebasan berekspresi.
Dari Panggung Seni ke Arena Kritik
Malam pembukaan ARTJOG biasanya identik dengan pertemuan seniman, kolektor, kurator, akademisi, hingga penikmat seni dari berbagai daerah.
Namun, suasana berbeda muncul di area pintu masuk. Ayik tampil seorang diri. Ia menggelar performa teater tunggal yang mengundang perhatian para pengunjung.
Gerak tubuh, ekspresi, dan simbol-simbol yang ia tampilkan menyuarakan kritik terhadap keterlibatan DHF dalam penyelenggaraan ARTJOG 2026.
Aksi itu menjadi representasi kegelisahan sebagian kalangan seniman yang menilai seni tidak boleh terjebak dalam kepentingan kekuasaan.
Tidak lama kemudian, insiden yang dianggap sebagai bentuk represi terhadap aksi tersebut memantik reaksi luas.
Peristiwa itu menyebar cepat di kalangan komunitas seni dan memunculkan diskusi mengenai batas kebebasan berekspresi dalam ruang kebudayaan.
Tuntutan Koalisi ARTJOKES
Anggota Koalisi Seni ARTJOKES, Wispi, menegaskan bahwa pihaknya tidak sekadar mempermasalahkan insiden yang terjadi pada malam pembukaan.
Ia menyebut komunitas seni saat ini sedang menguji komitmen ARTJOG sebagai ruang demokratis bagi berbagai ekspresi dan kritik.
Menurut Wispi, aktivitas kritik melalui medium seni sudah lama berkembang dalam berbagai ruang kebudayaan. Para seniman menggunakan karya sebagai alat refleksi sekaligus respons terhadap realitas sosial dan politik yang terjadi di sekitarnya.
“Kami jelas menunggu itikad baik dari pihak ARTJOG. Adakah inisiatif permintaan maaf melalui lembaga, founder, maupun manajemen. Itu yang kami tunggu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ARTJOKES lahir dari kesadaran masyarakat seni yang menilai peristiwa tersebut tidak seharusnya terjadi dalam ruang yang selama ini mengusung semangat kebebasan berkesenian.
Wispi juga mempertanyakan keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation dalam pameran seni tersebut.
Menurutnya, jika ARTJOG ingin mempertahankan identitasnya sebagai ruang ekspresi yang demokratis, penyelenggara perlu mempertimbangkan secara kritis berbagai unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
“Keterlibatan Didit Foundation itu justru sesuatu yang absurd. Kalau ARTJOG menjadi ruang ekspresi yang demokratis untuk kesenian dan kebudayaan, seharusnya tidak melibatkan hal-hal seperti ini,” katanya.
Ia bahkan mempertanyakan sensitivitas penyelenggara terhadap berbagai peristiwa politik yang berkembang di masyarakat.
“Apakah pihak ARTJOG menutup telinga terhadap peristiwa politik yang terjadi? Nah, itulah yang menjadi titik langkah kami,” lanjutnya.
Represi di Ruang Publik Melukai Dunia Seni
Bagi Wispi, persoalan utama tidak berhenti pada keberadaan sponsor. Ia menyoroti dugaan tindakan represif pada seniman saat menyampaikan kritik.
Menurutnya, tindakan tersebut sangat disayangkan karena terjadi di ruang publik yang seharusnya menjadi tempat dialog dan pertukaran gagasan.
Ia menilai dunia seni memiliki tradisi panjang dalam menyampaikan kritik sosial melalui berbagai medium kreatif.
Oleh karena itu, pembatasan terhadap ekspresi artistik justru bertentangan dengan semangat yang selama ini dibangun oleh ekosistem seni itu sendiri.
Dalam kesempatan tersebut, Wispi juga mendorong adanya keterbukaan dari seluruh pihak yang terlibat agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Suara kritik lain datang dari anggota Koalisi ARTJOKES, Lorca. Ia menjelaskan bahwa kemarahan sebagian masyarakat seni tidak berangkat dari persoalan individu atau sosok tertentu.
Menurutnya, akar persoalan berada pada praktik artwashing. Dalam pandangan Lorca, artwashing terjadi ketika seni membangun citra tertentu sehingga berpotensi mengaburkan berbagai persoalan sosial maupun politik yang sedang berlangsung.
Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat menempatkan seniman dalam posisi yang rentan karena karya dan ruang ekspresi mereka berpotensi berada di bawah kontrol kekuasaan.
“ARTJOKES sebagai wacana tandingan justru menjadi harapan terbesar kami untuk membantu teman-teman kembali pada makna seni yang seharusnya kita pegang hari ini,” ujarnya.
Ia menilai situasi sosial politik yang berkembang saat ini menuntut dunia seni untuk tetap menjaga independensinya.
Menurut Lorca, ketika seni sudah dikooptasi oleh kepentingan tertentu, maka pesan sosial yang terkandung dalam karya akan kehilangan makna.
“Ketika seni telah dikooptasi, maka realitas sosial yang dibawakan dalam karya seni itu tidak ada maknanya lagi,” tegasnya.
Seni sebagai Ruang Perlawanan
Lorca menilai praktik perayaan kesenian yang terlalu menonjolkan prestise pada akhirnya dapat mengarah pada artwashing. Ia mengingatkan bahwa seni memiliki sejarah panjang sebagai medium perjuangan melawan berbagai bentuk penindasan.
Dalam berbagai periode sejarah, para seniman hadir sebagai saksi sekaligus pengkritik kekuasaan. Mereka menggunakan karya untuk menyuarakan ketidakadilan, memperjuangkan kebebasan, dan membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan.
Oleh karena itu, Lorca menolak gagasan bahwa seni dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosialnya. Ia meyakini seni tidak boleh dikooptasi oleh kepentingan rezim maupun agenda politik tertentu.
“Bagi kami, seni adalah salah satu praktik perjuangan melawan penindasan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa praktik yang terjadi dalam penyelenggaraan ARTJOG saat ini tidak hanya melukai perasaan para seniman, tetapi juga menghina nilai-nilai perjuangan yang selama ini melekat dalam dunia seni.
“Ini bukan hanya melukai, tetapi menghina seni yang menjadi bagian dari perjuangan seniman dalam mengungkapkan ekspresi dan pandangan terhadap realitas sosial saat ini,” ujarnya. (ef linangkung)