
KabarJawa.com — Aktivitas Gunung Merapi sempat menarik perhatian warga pada Sabtu, 27 Desember 2025. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa gunung api tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas selama sepekan terakhir. Meski demikian, status Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III atau Siaga.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di wilayah rawan bencana.
Asap dan Awan Panas Guguran Teramati
Berdasarkan pengamatan BPPTKG, cuaca di sekitar Gunung Merapi relatif cerah pada pagi dan malam hari. Pada siang hingga sore hari, kawasan puncak kerap tertutup kabut tebal.
Selama periode pengamatan, Gunung Merapi terus mengeluarkan asap putih dengan tekanan lemah hingga sedang, dengan ketinggian antara 10 meter hingga 250 meter.
Dalam sepekan terakhir, tercatat enam kali kejadian awan panas guguran. Awan panas tersebut meluncur sejauh maksimal 2.000 meter ke arah barat daya, menuju hulu Kali Boyong, Kali Bebeng, dan Kali Sat atau Putih.
Aktivitas guguran lava juga mengalami peningkatan. BPPTKG mencatat 157 kali guguran lava ke beberapa arah. Guguran terbanyak mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur hingga 1.900 meter.
Selain itu, guguran juga teramati menuju Kali Sat atau Putih sejauh 2.000 meter, Kali Boyong sejauh 1.800 meter, dan Kali Bebeng sejauh 1.700 meter.
Perubahan Kubah Lava dan Aktivitas Seismik
Analisis morfologi Gunung Merapi dilakukan melalui kamera pemantau di Stasiun Ngepos dan Babadan 2. Hasilnya menunjukkan adanya perubahan kecil pada Kubah Barat Daya akibat aktivitas guguran lava dan perubahan volume kubah. Sementara itu, Kubah Tengah terpantau relatif stabil tanpa perubahan signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 13 Desember 2025, volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.171.800 meter kubik. Adapun volume Kubah Tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Dari sisi kegempaan, aktivitas seismik Gunung Merapi mengalami peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya. Jaringan seismik BPPTKG merekam total 1.105 kejadian gempa dalam sepekan terakhir.
Rincian gempa tersebut meliputi 6 kali gempa awan panas guguran, 10 kali gempa vulkanik dangkal, 444 kali gempa fase banyak, 641 kali gempa guguran, dan 4 kali gempa tektonik.
Agus Budi Santoso menyatakan bahwa peningkatan intensitas kegempaan tersebut mencerminkan dinamika magma yang masih aktif di tubuh Gunung Merapi.
Deformasi Relatif Stabil dan Kondisi Curah Hujan
Hasil pemantauan deformasi menggunakan metode Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS) menunjukkan kondisi relatif stabil.
Pengukuran jarak EDM di sektor barat laut tidak menunjukkan perubahan signifikan. Data GPS pada lintasan Labuhan–Jrakah juga memperlihatkan kestabilan deformasi.
Curah hujan sempat terjadi di kawasan Gunung Merapi selama pekan ini. Intensitas hujan tertinggi tercatat pada 22 Desember 2025 di Pos Kaliurang dengan curah hujan sebesar 23,37 mm per jam selama 46 menit.
Hingga laporan ini disampaikan, BPPTKG belum menerima laporan adanya aliran lahar maupun peningkatan debit sungai.
Status Siaga dan Rekomendasi
Berdasarkan seluruh hasil pengamatan, BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi dengan karakter erupsi efusif. Status Level III atau Siaga tetap diberlakukan.
Potensi bahaya utama meliputi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Lontaran material vulkanik juga berpotensi menjangkau radius 3 kilometer dari puncak jika terjadi letusan eksplosif.
BPPTKG meminta pemerintah daerah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten meningkatkan langkah mitigasi, termasuk penguatan kapasitas masyarakat dan kesiapan sarana evakuasi.
Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana, mewaspadai potensi awan panas guguran dan lahar terutama saat hujan, serta mengantisipasi dampak abu vulkanik.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, kami akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi,” ujar Agus Budi Santoso.
BPPTKG juga mengingatkan masyarakat agar selalu mengakses informasi resmi melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi, situs BPPTKG, MAGMA ESDM, aplikasi Magma Indonesia, serta kanal komunikasi resmi lainnya.