
KabarJawa.com– Aktivitas vulkanik Gunung Merapi sepanjang 13–19 Februari 2026 menunjukkan dinamika yang signifikan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat perubahan morfologi pada kubah lava sektor barat daya, peningkatan intensitas kegempaan, serta terjadinya dua kali awan panas guguran.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dan status Gunung Merapi tetap berada pada tingkat Siaga.
Visual: Asap Putih dan Guguran Lava Mendominasi
Selama periode pengamatan, petugas mencatat cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari. Kabut sering menyelimuti kawasan puncak pada siang hingga sore hari.
Dalam kondisi tersebut, Gunung Merapi terus mengeluarkan asap berwarna putih dengan ketebalan tipis hingga tebal. Tekanan asap terpantau lemah dengan ketinggian berkisar antara 10 meter hingga 50 meter dari puncak.
Dalam sepekan, petugas mengamati dua kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum 1.000 meter ke arah hulu Kali Krasak. Selain itu, aktivitas guguran lava terpantau intensif ke beberapa sektor.
- Dua kali ke arah hulu Kali Boyong sejauh maksimum 1.500 meter.
- 57 kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 1.900 meter.
- 21 kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 1.800 meter.
- 80 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 meter.
Data tersebut menunjukkan dominasi aktivitas guguran lava di sektor selatan hingga barat daya.
Perubahan Morfologi Kubah Lava Barat Daya
Analisis morfologi dari Stasiun Kamera Ngepos dan Babadan 2 memperlihatkan perubahan pada Kubah Lava Barat Daya. Petugas mencatat sedikit perubahan bentuk akibat dinamika volume kubah dan aktivitas guguran lava yang terus berlangsung.
Sebaliknya, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara pada 13 Desember 2025, volume Kubah Barat Daya mencapai 4.171.800 meter kubik, sedangkan Kubah Tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Perubahan kecil pada kubah barat daya mengindikasikan suplai magma masih aktif dan berkontribusi terhadap dinamika permukaan lava.
Selama 13–19 Februari 2026, jaringan seismik mencatat peningkatan signifikan jumlah gempa daripada minggu sebelumnya.
Petugas merekam 2 kali gempa Awan Panas Guguran (APG, 77 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 107 gempa Fase Banyak (MPG) gempa Low Frequency (LF), 110 gempa Guguran (RF) dan 21 gempa Tektonik (TT)
Peningkatan intensitas kegempaan tersebut memperkuat indikasi bahwa suplai magma masih berlangsung di dalam tubuh Gunung Merapi.
Pengukuran deformasi menggunakan EDM di sektor barat laut, dari titik tetap BAB0 ke reflektor RB2, menunjukkan jarak berkisar antara 3.840,280 meter hingga 3.840,303 meter.
Sementara itu, baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter.
Data deformasi menunjukkan pemendekan jarak tunjam sebesar 0,3 sentimeter per hari di sektor barat laut. Kondisi ini mengindikasikan tekanan internal akibat suplai magma yang masih aktif.
Curah hujan tinggi terjadi di sekitar puncak Gunung Merapi. Pada 13 Februari 2026, Stasiun Pasarbubar mencatat intensitas hujan tertinggi sebesar 65,84 mm/jam selama 12 menit. Petugas melaporkan adanya penambahan aliran di Sungai Pabelan.
Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya lahar, terutama di sungai-sungai berhulu di puncak Gunung Merapi.
Kesimpulan: Status Siaga Masih Berlaku
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, BPPTKG menyimpulkan: bahwa ktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dalam bentuk erupsi efusif. Status aktivitas tetap berada pada tingkat Siaga.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas terdapat pada sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 km.
“Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak,” kata dia
BPPTKG merekomendasikan langkah-langkah berikut.
- Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten meningkatkan upaya mitigasi, termasuk peningkatan kapasitas masyarakat dan penyiapan sarana evakuasi.
- Masyarakat tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya.
- Masyarakat mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi.
- Warga mengantisipasi dampak abu vulkanik akibat erupsi.
- BPPTKG akan meninjau kembali tingkat aktivitas jika terjadi perubahan signifikan.
Masyarakat dapat mengakses informasi resmi aktivitas Gunung Merapi melalui Pos Pengamatan terdekat, situs resmi BPPTKG dan MAGMA Indonesia, aplikasi Android Magma Indonesia, media sosial BPPTKG, frekuensi radio VHF 172.000 MHz, atau langsung ke kantor BPPTKG di Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta. (ef linangkung)