
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi sepanjang periode 1–7 Mei 2026.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya awan panas guguran, ratusan guguran lava, hingga ratusan aktivitas kegempaan vulkanik.
Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dan berpotensi memicu bahaya guguran lava maupun awan panas guguran di sejumlah sektor rawan bencana.
Awan Panas Guguran Mei
Selama sepekan pengamatan, petugas BPPTKG mengamati Gunung Merapi mengeluarkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal.
Tinggi kolom asap tercatat bervariasi antara 10 meter hingga 400 meter dari puncak.
Situasi di sekitar puncak Merapi tampak relatif cerah pada pagi dan malam hari.
Namun, kabut kerap menyelimuti kawasan gunung pada siang hingga sore hari sehingga pengamatan visual harus lebih intensif menggunakan jaringan kamera pemantau.
Di tengah kondisi tersebut, BPPTKG mencatat satu kali awan panas guguran meluncur sejauh 1.800 meter ke arah hulu Kali Sat/Putih. Selain itu, aktivitas guguran lava juga terus mendominasi dinamika erupsi Merapi.
Petugas merekam satu kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.
Aktivitas paling dominan terjadi di sektor Kali Krasak dengan total 101 kali guguran lava dan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Tidak hanya itu, guguran lava juga terjadi sebanyak 13 kali ke arah Kali Bebeng dan 53 kali menuju Kali Sat/Putih. Seluruh guguran tersebut memiliki jarak luncur maksimum hingga 2.000 meter.
Aktivitas guguran yang terus berlangsung ini memperlihatkan bahwa material lava di kubah Merapi masih sangat aktif dan berpotensi runtuh sewaktu-waktu.
Morfologi Kubah Lava Mengalami Perubahan
BPPTKG juga mengungkapkan adanya perubahan morfologi pada kubah lava sektor barat daya Gunung Merapi.
Perubahan tersebut terjadi akibat aktivitas guguran lava dan dinamika volume kubah yang masih berkembang.
Hasil analisis visual dari kamera pengamatan Ngepos dan Babadan2 menunjukkan kubah barat daya mengalami sedikit perubahan bentuk.
Sementara itu, kubah tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 16 April 2026, volume kubah barat daya tercatat mencapai 4.037.600 meter kubik. Kemudisn, volume kubah tengah berada pada angka 2.368.800 meter kubik.
Volume material yang masih besar tersebut menjadi perhatian serius karena sewaktu-waktu dapat runtuh dan memicu awan panas guguran ke wilayah sungai berhulu di Merapi.
BPPTKG Rekam Ratusan Gempa Vulkanik Gunung Merapi
Selain aktivitas visual, jaringan seismik BPPTKG juga merekam tingginya aktivitas kegempaan selama periode pengamatan.
Tercatat satu kali gempa awan panas guguran, 24 gempa vulkanik dangkal, 465 gempa fase banyak, 940 gempa guguran, satu gempa low frequency, serta 21 gempa tektonik.
Meski jumlah kegempaan pada pekan ini lebih rendah dibanding minggu sebelumnya, data tersebut tetap menunjukkan aktivitas magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung secara aktif.
Gempa-gempa vulkanik dangkal dan gempa fase banyak menjadi indikator penting adanya pergerakan fluida magma menuju permukaan.
Deformasi Gunung Merapi Belum Tunjukkan Perubahan Signifikan
Pemantauan deformasi menggunakan alat Electronic Distance Measurement (EDM) dan GPS belum menunjukkan perubahan signifikan pada tubuh Gunung Merapi.
Pengukuran EDM sektor barat laut dari titik tetap BAB0 ke reflektor RB2 berada pada kisaran 3.840,130 meter hingga 3.840,138 meter. Sementara baseline GPS Labuhan–Jrakah terukur pada kisaran 7.108,13 meter.
Data tersebut menunjukkan belum terjadi penggembungan tubuh gunung yang signifikan, meskipun suplai magma masih terus berlangsung di bawah permukaan.
Hujan Guyur Lereng Merapi, Warga Diminta Waspadai Lahar
BPPTKG juga mencatat beberapa kali hujan turun di kawasan sekitar Gunung Merapi selama sepekan terakhir.
Intensitas hujan tertinggi terjadi pada 3 Mei 2026 di Pos Kaliurang dengan curah hujan mencapai 17,69 mm per jam selama 177 menit.
Meski belum ada laporan penambahan aliran maupun lahar di sungai-sungai berhulu Merapi, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Material vulkanik yang masih menumpuk di lereng Merapi dapat sewaktu-waktu terbawa aliran air dan memicu banjir lahar di sejumlah sungai.
Status Gunung Merapi Tetap Siaga
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berada pada level III atau Siaga.
BPPTKG menyebut suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran di wilayah potensi bahaya.
Potensi bahaya sektor selatan dan barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
Selain itu, material vulkanik akibat letusan eksplosif juga berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
BPPTKG meminta pemerintah daerah di wilayah rawan erupsi seperti Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk terus memperkuat langkah mitigasi bencana.
Pemerintah daerah diminta meningkatkan kapasitas masyarakat serta menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi menghadapi potensi erupsi Merapi.
BPPTKG juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya yang telah direkomendasikan.
Selain mewaspadai awan panas guguran dan guguran lava, masyarakat juga perlu mengantisipasi dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan maupun aktivitas sehari-hari.
BPPTKG memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi secara intensif. Jika terjadi peningkatan aktivitas signifikan, BPPTKG akan segera meninjau kembali status aktivitas gunung api tersebut.(ef linangkung)