
KabarJawa.com– Suasana malam di wilayah Purwomartani, Kabupaten Sleman, mendadak berubah mencekam ketika puluhan warga mulai merasakan gejala tidak biasa.
Rasa pusing, iritasi mata, hingga sesak napas menyerang warga secara hampir bersamaan dan memicu kepanikan di tengah permukiman.
Dugaan kebocoran gas yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari itu membuat tim gabungan bergerak cepat.
Pemerintah Kabupaten Sleman langsung menerjunkan petugas kesehatan dan unsur penanggulangan bencana untuk melakukan evakuasi serta penanganan darurat terhadap warga terdampak.
Dampak Dugaan Kebocoran Gas di Purwomartani
Hingga Sabtu (9/5/2026) siang, jumlah warga terdampak terus diperbarui. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat total 23 warga mengalami gangguan kesehatan akibat dugaan paparan gas.
Meski demikian, seluruh korban kini telah membaik dan boleh pulang setelah menjalani penanganan medis.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sleman, Raditya Kusuma Tejamurti, menjelaskan tim Sleman Emergency Services (SES) langsung bergerak menuju lokasi begitu menerima laporan pertama.
Petugas SES bekerja bersama Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sleman untuk mengendalikan situasi di lapangan.
Mereka memprioritaskan evakuasi warga dan stabilisasi kondisi korban yang mengalami gejala akibat dugaan paparan gas.
“Tata laksana awal, tadi malam Tim SES Dinkes Sleman sudah langsung menuju TKP dan melakukan penanganan bersama dengan Tim PMI Sleman, BPBD Sleman dan Damkar Sleman,” ujar Raditya.
Tim gabungan bergerak cepat menyisir area terdampak sambil memastikan kondisi warga tetap aman.
Beberapa korban langsung mendapatkan pertolongan pertama di lokasi, sementara tenaga kesehatan memantau kondisi warga secara berkala untuk mengantisipasi dampak lanjutan.
Setelah kondis mulai terkendali, tim SES kembali ke markas sekitar pukul 05.30 WIB. Kemudian, tenaga kesehatan dari Puskesmas Kalasan membuka posko darurat di rumah dukuh setempat.
Posko tersebut menjadi pusat layanan kesehatan sementara bagi warga yang masih mengeluhkan gangguan fisik.
Warga datang silih berganti untuk memeriksakan kondisi mereka setelah mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan paparan gas.
Pada pendataan awal hingga pukul 11.30 WIB, petugas mencatat 21 warga terdampak. Jumlah itu terdiri atas 14 laki-laki dan tujuh perempuan.
Sebagian besar korban merupakan orang dewasa, sementara satu korban tercatat masih berusia anak-anak.
Gejala warga bervariasi, mulai dari pusing ringan, mata perih dan berair, hingga gangguan pernapasan.
Penanganan Dampak
Situasi sempat mengkhawatirkan ketika tiga warga mengalami sesak napas dengan kadar saturasi oksigen di bawah angka normal.
Petugas medis segera memberikan terapi oksigen kepada ketiga pasien tersebut.
Penanganan cepat selama kurang lebih 30 menit berhasil menstabilkan kondisi mereka sehingga tidak perlu menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit.
“Dari 21 pasien terdapat tiga yang mengeluh sesak dan membutuhkan penanganan oksigen, dengan saturasi awal kurang dari 95 setelah mendapatkan oksigenasi selama 30 menit keadaan membaik dan dipulangkan,” jelas Raditya.
Dalam perkembangan terbaru, jumlah warga terdampak kembali bertambah menjadi 23 orang.
Meski jumlah korban meningkat, pemerintah memastikan seluruh pasien telah mendapatkan penanganan yang memadai dan tidak ada satu pun yang harus dirujuk ke rumah sakit.
“Total 23 pasien dilayani di posko, semua dipulangkan,” tegasnya.
Di tengah upaya pemulihan kondisi warga, pemerintah juga mulai memperluas penanganan dengan mengantisipasi kemungkinan dampak lingkungan.
Dinas Kesehatan Sleman berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan pemeriksaan terhadap sumber air di sekitar lokasi kejadian.
Petugas mengambil sampel air bersih milik warga serta air irigasi untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Sampel tersebut kemudian dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) guna menjalani pengujian lebih lanjut.
Langkah itu menjadi bagian penting dari mitigasi pascakejadian. Pemerintah ingin memastikan lingkungan di sekitar lokasi benar-benar aman sebelum masyarakat kembali menjalankan aktivitas secara normal.
Peristiwa dugaan kebocoran gas di Purwomartani ini menjadi pengingat pentingnya respons cepat dalam situasi darurat kesehatan dan lingkungan.
Kecepatan koordinasi antarinstansi berhasil mencegah kondisi yang lebih buruk, terutama bagi warga yang sempat mengalami gangguan pernapasan.
Pemerintah Kabupaten Sleman kini masih terus memantau perkembangan di lapangan sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel air.
Warga pun harus tetap waspada dan segera melapor apabila kembali merasakan gejala serupa. (ef linangkung)