
KabarJawa.com — Musim kemarau 2026 mulai memukul wilayah Gunungkidul lebih cepat. Sebanyak 309 telaga dilaporkan mengering hingga akhir Mei akibat sedimentasi berat dan perubahan fungsi lahan yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi itu membuat banyak kawasan mulai mengalami penurunan cadangan air lebih awal dibanding musim kemarau sebelumnya.
Di sejumlah telaga, permukaan air kini tinggal kubangan lumpur. Retakan tanah mulai terlihat di dasar telaga yang biasanya masih menyimpan air hingga pertengahan tahun.
Warga yang menggantungkan kebutuhan air untuk pertanian, ternak, hingga kebutuhan rumah tangga mulai merasakan dampaknya.
Hanya 20 Telaga Masih Menyimpan Air
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul mencatat dari total 329 telaga yang ada, hanya sekitar 20 telaga yang masih mampu menyimpan air hingga akhir Mei 2026.
Namun debit air di telaga yang tersisa juga terus menyusut seiring suhu yang meningkat dan curah hujan yang minim dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, mengatakan persoalan utama saat ini adalah sedimentasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
“Sedimentasi menjadi persoalan utama. Banyak telaga yang tidak pernah dikeruk selama bertahun-tahun sehingga kedalamannya terus berkurang,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, hampir 90 persen telaga di Gunungkidul mengalami pendangkalan cukup serius.
Akibatnya, air hujan yang semestinya menjadi cadangan saat musim kemarau tidak bisa tertampung maksimal.
Alih Fungsi Lahan Perparah Kondisi
Persoalan telaga tidak hanya soal lumpur dan pendangkalan.
Perubahan fungsi lahan di sekitar kawasan resapan juga disebut mempercepat kerusakan telaga. Sejumlah area yang sebelumnya dipenuhi vegetasi kini berubah menjadi lahan pertanian terbuka dengan daya serap air yang jauh berkurang.
Saat hujan turun, aliran air tidak lagi terserap optimal ke tanah dan justru membawa material lumpur menuju telaga.
Beberapa telaga bahkan mulai dimanfaatkan sebagai lahan garapan ketika musim kemarau panjang datang.
Kondisi ini membuat fungsi telaga sebagai penyangga kebutuhan air masyarakat semakin terancam.
Padahal di kawasan karst Gunungkidul, telaga menjadi sumber air vital saat sumur warga mulai mengering.
Petani dan Peternak Mulai Kesulitan Air
Dampak mulai terasa di sejumlah kapanewon. Petani mengeluhkan pasokan air yang semakin terbatas untuk mengairi lahan pertanian, sementara peternak mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air ternak.
Di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, sembilan dari total 13 telaga dilaporkan sudah mengering lebih awal. Permukaan telaga berubah menjadi tanah pecah-pecah dengan endapan lumpur tebal di dasar telaga.
Warga menyebut kondisi telaga saat ini jauh lebih buruk dibanding beberapa tahun lalu.
Vegetasi di sekitar telaga juga mulai berkurang sehingga area penahan erosi semakin minim.
Revitalisasi Belum Bisa Dilakukan Tahun Ini
Meski kondisi telaga dinilai semakin mengkhawatirkan, revitalisasi besar belum dapat dilakukan pada 2026.
DPUPRKP Gunungkidul menyebut belum tersedia anggaran khusus untuk pengerukan dan rehabilitasi telaga tahun ini.
Pemerintah daerah saat ini masih memprioritaskan anggaran untuk rehabilitasi jaringan irigasi dalam mendukung program ketahanan pangan.
Akibatnya, upaya penyelamatan telaga harus menunggu penganggaran berikutnya.
Penghijauan Jadi Langkah Sementara
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah mulai mendorong penghijauan di kawasan sekitar telaga.
Penanaman vegetasi dinilai penting untuk menahan erosi tanah sekaligus menjaga daya serap air hujan agar tidak langsung terbuang.
Langkah itu juga diharapkan mampu memperpanjang ketahanan cadangan air saat musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Ancaman kekeringan di Gunungkidul masih menjadi perhatian serius, terutama karena suhu udara mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Jika sedimentasi dan alih fungsi lahan terus berlangsung tanpa penanganan cepat, telaga-telaga yang tersisa dikhawatirkan ikut kehilangan fungsi dalam beberapa tahun mendatang.