
KabarJawa.com – Sebanyak 12 anak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menjalani rehabilitasi setelah diduga terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah dan aparat keamanan di tengah semakin masifnya penyebaran paham radikal melalui ruang digital.
Data itu disampaikan dalam kegiatan kampanye Pencegahan IRET yang digelar Satgaswil DIY Densus 88 Antiteror Polri bersama BKKBN DIY bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (28/6/2026).
Meski jumlah kasus di DIY jauh lebih kecil dibandingkan secara nasional, aparat menilai fenomena tersebut tidak bisa dianggap sepele. Anak-anak dan remaja dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena tingginya intensitas penggunaan internet dan media sosial.
Kasatgaswil DIY Densus 88 Antiteror Polri yang juga Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Prof. Budi Setiyono menegaskan pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga.
“Upaya pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan. Peran keluarga menjadi kunci agar anak-anak tidak mudah dipengaruhi ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan,” ujarnya.
Menurut Budi, berbagai program pencegahan yang dijalankan Densus 88 dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan hasil positif.
Tren penangkapan pelaku terorisme di Indonesia terus menurun seiring meningkatnya edukasi kepada masyarakat dan kesadaran publik mengenali indikasi penyebaran paham radikal sejak dini.
Media Sosial Jadi Jalur Baru Penyebaran
Perubahan pola penyebaran radikalisme kini menjadi perhatian serius aparat.
Jika sebelumnya perekrutan lebih banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini penyebaran narasi radikal semakin banyak berlangsung melalui media sosial, aplikasi percakapan, hingga berbagai platform digital.
Konten yang dikemas dalam bentuk video singkat, unggahan visual, maupun grup percakapan tertutup dinilai lebih mudah menjangkau anak-anak dan remaja.
Kondisi tersebut membuat pengawasan orang tua tidak lagi cukup hanya membatasi penggunaan gawai.
Pendampingan terhadap aktivitas digital anak dinilai menjadi langkah penting agar mereka mampu memilah informasi serta mengenali propaganda yang mengarah pada kekerasan atau tindakan melawan hukum.
DIY Catat 12 Anak Jalani Rehabilitasi
Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, S.Sos., M.Si., mengungkapkan secara nasional sebanyak 247 anak telah berhasil diamankan dan diselamatkan dari dugaan paparan radikalisme dan kekerasan.
Sementara itu, di DIY terdapat 12 anak yang telah menjalani rehabilitasi melalui pemerintah daerah.
Menurut Rohina, rehabilitasi dilakukan bukan semata untuk memulihkan kondisi psikologis anak, tetapi juga membantu mereka kembali menjalani kehidupan sosial secara sehat bersama keluarga dan lingkungan sekitarnya.
“Rehabilitasi dilakukan melalui pemerintah daerah dengan harapan anak-anak tersebut dapat kembali menjalani kehidupan sebagaimana mestinya sebagai anak-anak yang sehat secara mental, sosial, dan emosional,” katanya.
Harganas Jadi Pengingat Pentingnya Ketahanan Keluarga
Kampanye pencegahan IRET menjadi salah satu rangkaian peringatan Harganas ke-33 yang diikuti sekitar 1.500 peserta sejak pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.
Selain mengikuti senam bersama, masyarakat memperoleh edukasi mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, termasuk cara mengenali pola penyebaran paham tersebut di ruang digital.
Kegiatan itu dihadiri unsur pimpinan Kemendukbangga/BKKBN, BNNP DIY, PT Bank BPD DIY, Balai Besar POM, DP3AP2 DIY, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, serta DP3AP2KB Kota Yogyakarta.
Satgaswil DIY Densus 88 AT Polri juga membuka stan edukasi yang menyediakan materi mengenai pencegahan IRET, penguatan literasi digital, hingga kewaspadaan terhadap bahaya grup TCC. Seluruh materi dapat diakses masyarakat melalui kode QR yang disediakan di lokasi.
Keluarga Dinilai Menjadi Benteng Pertama
Meningkatnya penggunaan internet di kalangan anak-anak membuat peran keluarga semakin krusial. Orang tua diharapkan membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak merasa nyaman bercerita ketika menemukan konten atau ajakan yang mencurigakan di dunia maya.
Aparat juga mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme di lingkungan sekitar.
Momentum Harganas tahun ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Pemerintah menilai ketahanan keluarga tetap menjadi fondasi utama untuk melindungi generasi muda dari berbagai pengaruh ideologi yang berpotensi mengancam masa depan mereka, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dibatasi.