
KABAR JAWA – Yogyakarta kembali menjadi pusat diskusi penting soal masa depan media digital dan teknologi dengan adanya acara Sarasehan Budaya: Kulonuwun Jogja – Srawung Guyup Gawe Cerita yang digelar KabarJawa pada Rabu, 21 Mei 2025.
Kegiatan ini menghadirkan para tokoh dari berbagai latar belakang.
Seperti, Kiai Hj. Sigit Hidayat Nuri, Ketua AMSI DIY, Agung Purwandono, Festival Director & Art Networker, Bambang Paningron Astiaji, Co-Founder & CMO Biotika Erie Kuncoro.
Juga, Aktivis Budaya & Komunitas Alternatif, Yani Ambar Polah, Coach & Community Activist, Fransisca Diwati hingga Founder Kabar Group Indonesia Upi Asmaradhana.
Acara ini juga menggali isu-isu aktual seputar banyak hal, salah satunya yaitu mengenai peran kecerdasan buatan (AI) dalam ekosistem media dan budaya di Indonesia.
AI sebagai Tools, Bukan Ancaman
Salah satu sorotan utama datang dari Co-Founder & CMO Biotika, Erie Kuncoro yang menegaskan bahwa AI seharusnya dipahami sebagai alat bantu.
“Teknologi ke depan, apakah media masih sama? Kalau saya bilang AI, teknologi apapun itu tools saja.” katanya, dalam acara sarasehan tersebut.
Menurutnya, AI tidak perlu dikhawatirkan karena sejatinya hanya berperan untuk mempercepat proses kerja, bukan menggantikan kreativitas manusia.
“Ibarat, kalau dahulu tools-nya berkendara itu ada becak, andong, sekarang ganti mobil atau ada yang tanpa driver dan sebagainya,” katanya
“Tapi balik lagi, untuk menentukan tujuannya adalah manusianya.” lanjutnya.
Lebih lanjut ia menegaskan kembali bahwa AI tidak perlu dikhawatirkan karena ini adalah proses mempercepat.
Ia kemudian mengingatkan akan pentingnya komitmen para pelaku media dalam menyajikan isi kontennya.
“Tapi yang perlu adalah komitmen, bagaimana menulis isi konten seperti apa. Misalnya, jika menulis konten pop, harus komitmen,” kata dia.
Kualitas, Kreativitas dan Relevansi Tetap Utama
Kualitas konten menjadi titik penting dalam diskusi ini.
AI boleh saja mempercepat proses, tetapi kedalaman isi dan kekuatan visual tetap harus diperhatikan.
“Kalau kita bicara konten tanpa kreativitas, tetap saja hanya menjadi sekedar tulisan,” tegasnya.
“Eksekusi, fotonya tidak boleh asal-asalan. Karena bila asal, secara tampilan tidak akan men-direct orang, bahkan menonton pun enggak.” lanjutnya.
Lebih jauh, teknologi AI sudah memungkinkan analisis audiens secara spesifik.
“Tools SEO pakai AI sudah ada, kita tinggal cari siapa yang akan kita tuju, audience mana yang akan kita tuju, umurnya berapa, bisanya ngapain, menggunakan apa membacanya, itu langsung bisa kelihatan di AI,” ungkapnya.
Tapi semua ini hanya berguna bila arah konten ditentukan dengan jelas dan berorientasi pada manusia.
Kemudian, Kiai Hj. Sigit Hidayat Nuri berpesan bahwa apapun dan siapapun yang tidak bisa beradaptasi dengan keadaan, maka dia akan tumbang.
Maka, kata dia, ada satu kata yang paling penting yaitu relevansi, karena itu diperlukan.
Ketua AMSI DIY, Agung Purwandono juga sepakat bahwa memang perlu adanya peningkatan kualitas media.
“Media perlu meningkatkan kualitasnya,” ujarnya.
Media, Komunitas, dan Keberlanjutan Bisnis

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Founder Kabar Group Indonesia, Upi Asmaradhana.
Ia pun menyoroti pentingnya peran media dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
“Salah satu cara kita berkontribusi bagi negeri ini adalah bagaimana kita melahirkan media yang informatif tapi berkualitas,” ucapnya.
“Membangun ekosistem yang sehat hingga kemudian masyarakat menerima informasi yang juga bermanfaat buat kita semua,” sambungnya.
Dari sisi keberlanjutan bisnis, Co-Founder Biotika, Erie juga menambahkan bahwa yang paling penting saat ini, ada sisi bisnisnya.
Ia pun menekankan pentingnya keseimbangan antara konten budaya dan konten populer.
Selain itu, menurut dia, media juga perlu menentukan rumah utamanya—apakah di website atau sosial media.
Komunitas sebagai Basis Narasi Media
Diskusi juga membahas hubungan erat antara media dan komunitas, khususnya di Yogyakarta.
Aktivis Budaya & Komunitas Alternatif, Yani Ambar Polah menyebut bahwa di Jogja ada beragam komunitas.
“Di Jogja pusatnya komunitas, sangat banyak sekali, komunitas banyak dan potensinya banyak sekali,” ucapnya.
Senada dengan Ambar, Festival Director & Art Networker, Bambang Paningron Astiaji juga mengatakan bahwa sebenarnya narasumber, tak terkecuali mengenai budaya Jawa juga masih banyak.
“Narasumber mengenai Jawa masih banyak, masih sangat banyak,” kata dia.
Sementara itu, Coach & Community Activist, Fransisca Diwati menyampaikan harapannya agar media lebih terlibat dalam gerakan sosial.
“Komunitas sosial di Jogja dengan media sangat butuh, menginginkan ada parther dari media yang mendampingi.” kata dia.
Menurutnya, peran media bukan untuk pamer, tetapi untuk menyebarkan inspirasi.
“Ini akan menginspirasi orang untuk berbuat kebaikan.” lanjutnya.
AI untuk Percepatan, Manusia untuk Arah
Sarasehan ini menunjukkan bahwa AI adalah alat, bukan tujuan.
Seperti disampaikan dalam diskusi, “Manusia menentukan tujuannya. Tools-nya mau pakai apa, itu untuk mempercepat.”
Media masa kini harus bijak memanfaatkan AI untuk memperkuat konten, mempercepat proses, dan menjangkau audiens yang lebih luas, sambil tetap menjaga arah, nilai, dan relevansi.
Dengan komitmen terhadap kualitas dan keterlibatan sosial, media digital dapat menjawab tantangan zaman sekaligus tetap menjadi ruang ruang bagi komunitas.***