
Kabarjawa – Peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947 di Kabupaten Blitar berlangsung meriah dengan digelarnya pawai ogoh-ogoh. Acara ini menjadi salah satu rangkaian dari upacara Tawur Agung Kesanga yang diikuti oleh ratusan umat Hindu.
Tradisi ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar yang turut menyaksikan kemeriahan pawai.
Kemeriahan Pawai Ogoh-Ogoh di Wlingi
Tahun ini, pawai ogoh-ogoh digelar di sekitar Taman Idaman Hati, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Sebanyak 51 ogoh-ogoh dengan berbagai ukuran dan bentuk diarak keliling sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan sebelum memasuki Catur Brata Nyepi.
Meskipun jumlah peserta lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 62 peserta, acara tetap berlangsung meriah dan penuh semangat.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) Kabupaten Blitar, Triyoko, menyampaikan bahwa selain pawai, umat Hindu sebelumnya telah melaksanakan upacara Melasti di Pantai Jolosutro.
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri dan mempersiapkan hati dalam menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 30 Maret 2025.
Makna Catur Brata Nyepi
Setelah pelaksanaan Tawur Agung Kesanga dan pawai ogoh-ogoh, umat Hindu menjalani Catur Brata Nyepi, yaitu serangkaian pantangan selama 24 jam yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Keesokan harinya, umat Hindu melaksanakan Ngempak Geni atau Nglebar Geni sebagai tanda berakhirnya Nyepi dan kembali menjalani kehidupan seperti biasa dengan hati yang lebih suci dan pikiran yang lebih tenang.
Antusiasme Masyarakat Menyaksikan Pawai
Pawai ogoh-ogoh ini tidak hanya menarik perhatian umat Hindu, tetapi juga masyarakat dari berbagai latar belakang. Revana, seorang warga Wlingi yang beragama Islam, mengungkapkan kegembiraannya dalam menyaksikan pawai ini setiap tahunnya.
Menurutnya, selain menjadi hiburan yang menarik, keberagaman ogoh-ogoh yang ditampilkan membuat acara semakin seru dan menjadi ajang ngabuburit bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
Pawai ogoh-ogoh di Blitar menjadi bukti nyata dari harmoni dan toleransi antar umat beragama. Meski jumlah peserta dikurangi sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, kemeriahan acara tetap terasa.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang mempererat persatuan di tengah masyarakat yang beragam.(Kabarjawa)