
Kabarjawa – Hari ini, Sabtu 5 April 2025, Gereja Katolik merayakan hari Sabtu dalam pekan IV Prapaskah, bertepatan dengan peringatan fakultatif Santo Vinsensius Ferreri dan Santa Yuliana dari Kornillon. Dalam suasana Prapaskah yang penuh pertobatan ini, kita diajak merenungkan tema penting: mengendalikan emosi.
Dalam kehidupan sehari-hari, emosi sering kali menjadi gerbang bagi reaksi spontan yang bisa berdampak buruk, baik dalam relasi dengan sesama maupun dalam pertumbuhan rohani.
Melalui bacaan Kitab Suci hari ini, kita diingatkan tentang pentingnya menyerahkan segala perkara kepada Tuhan dan tidak membiarkan emosi menguasai hati.
Makna Bacaan Pertama: Percaya pada Keadilan Tuhan
Dalam bacaan pertama dari Kitab Yeremia 11:18-20, Nabi Yeremia menggambarkan dirinya seperti anak domba yang dibawa ke tempat penyembelihan tanpa mengetahui rencana jahat yang menantinya. Dalam ketidakberdayaan itu, Yeremia tidak membalas dengan kemarahan atau emosi yang tak terkendali.
Sebaliknya, ia memilih bersandar pada Tuhan dan menyerahkan seluruh persoalannya kepada Allah yang menghakimi dengan adil.
Ini adalah teladan luhur bagaimana menghadapi fitnah dan perlakuan tidak adil dengan kesabaran dan iman, bukan dengan ledakan emosi.
Mazmur: Perlindungan dari Allah bagi Hati yang Tulus
Mazmur 7 mempertegas bahwa Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang tulus hati. Saat tekanan hidup dan serangan dari luar datang bertubi-tubi, pemazmur mengajak kita untuk tetap berlindung pada Tuhan.
Bukan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi membiarkan Tuhan yang menjadi hakim yang adil. Hal ini mengajarkan bahwa pengendalian emosi adalah bentuk kepercayaan pada Tuhan.
Injil Hari Ini: Jangan Mudah Menilai Berdasarkan Emosi
Bacaan Injil Yohanes 7:40-53 menyoroti pertentangan di antara orang banyak mengenai siapa Yesus sebenarnya. Ada yang percaya bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ada juga yang menolaknya hanya karena asal-usul-Nya dari Galilea. Emosi, prasangka, dan ego membuat banyak orang buta terhadap kebenaran.
Bahkan para penjaga yang dikirim untuk menangkap Yesus tak sanggup melakukannya karena mereka tersentuh oleh perkataan-Nya yang penuh kuasa.
Namun, yang paling menarik adalah sikap Nikodemus. Ia tampil sebagai suara yang tenang di tengah kekacauan. Nikodemus tidak terbawa arus emosi, tetapi mengingatkan rekan-rekannya agar bersikap adil sesuai hukum Taurat: seseorang tidak bisa dihukum tanpa didengar lebih dahulu.
Ini adalah contoh konkret bagaimana mengendalikan emosi dapat membuka jalan bagi keadilan dan kebenaran.
Mengendalikan Emosi, Buah dari Ketekunan Rohani
Mengendalikan emosi bukan berarti menekan perasaan, tetapi mengarahkan hati untuk bertindak sesuai kehendak Tuhan. Yeremia menyerahkan perkaranya kepada Tuhan.
Pemazmur berlindung kepada Allah. Nikodemus mengedepankan keadilan dan akal sehat di tengah badai emosi.
Prapaskah adalah masa yang tepat untuk melatih diri dalam kesabaran, pengendalian diri, dan pertumbuhan iman.
Mari kita belajar untuk tenang di tengah badai, mempercayakan seluruh hidup kita kepada Allah, dan tidak terburu-buru dalam menilai orang lain. Emosi yang terkendali adalah buah dari kedekatan dengan Tuhan.(Kabarjawa)