
KabarJawa.com – Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa investasi pada sumber daya manusia (SDM) merupakan fondasi utama dalam mendorong pembangunan daerah.
Penegasan tersebut disampaikan saat melantik jajaran pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro periode 2026-2030 di Ruang Angling Dharma, lantai 2 Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada Kamis, 25 Juni 2026 yang lalu.
Dalam kesempatan itu, bupati juga memaparkan dua tantangan besar yang masih dihadapi sektor pendidikan di Bojonegoro, yakni tingginya angka anak tidak sekolah serta dampak digitalisasi terhadap pola pengasuhan di lingkungan keluarga.
Angka Anak Tidak Sekolah Masih Menjadi Tantangan Besar
Dalam sambutannya, Setyo Wahono mengungkapkan bahwa persoalan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani bersama.
Hingga saat ini, jumlah Angka Tidak Sekolah (ATS) atau Anak Putus Sekolah (APS) di Kabupaten Bojonegoro masih berada di kisaran 4.500 anak.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah daerah. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar solusi yang dihasilkan mampu menjawab persoalan di lapangan secara efektif.
“Problematika ATS ini sangat rumit dan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah sendirian. Ini adalah PR bersama. Sebagai kepala daerah, tugas kami merumuskan kebijakan, namun kami butuh masukan konkret dan pertimbangan strategis dari Dewan Pendidikan,” ujar Setyo Wahono.
Ia berharap Dewan Pendidikan dapat memberikan rekomendasi yang aplikatif sebagai bahan penyusunan kebijakan sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam menekan angka anak yang tidak lagi mengenyam pendidikan.
Digitalisasi dan Kecanduan Gawai Jadi Perhatian Pemerintah Daerah
Selain persoalan akses pendidikan, Bupati Bojonegoro juga menyoroti tantangan lain yang dinilai semakin kompleks, yaitu perubahan pola kehidupan masyarakat akibat pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Setyo Wahono, penggunaan gawai yang semakin masif telah memengaruhi pola asuh di lingkungan keluarga. Fenomena kecanduan gawai menjadi salah satu isu yang perlu mendapat perhatian serius karena berdampak terhadap tumbuh kembang anak.
Karena itu, ia berharap Dewan Pendidikan mampu menghadirkan kajian yang komprehensif sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar mampu mendampingi anak dalam memanfaatkan teknologi secara bijak.
Komposisi Pengurus Dinilai Mampu Menghasilkan Solusi Beragam
Setyo Wahono turut memberikan apresiasi terhadap susunan kepengurusan Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro periode 2026-2030. Menurutnya, komposisi pengurus kali ini diisi oleh berbagai latar belakang yang saling melengkapi.
Keberadaan akademisi, praktisi, insan media, hingga tokoh agama dinilai menjadi kekuatan tersendiri karena masing-masing memiliki pengalaman serta kapasitas yang dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Bojonegoro.
Bupati juga menilai para pengurus memiliki jam terbang yang tinggi dan fleksibilitas waktu sehingga diharapkan mampu aktif turun ke lapangan untuk memahami persoalan pendidikan secara langsung.
Dewan Pendidikan Siap Menjadi Jembatan Aspirasi Masyarakat
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro yang baru dilantik, Ahmad Ansaful Marom, menyampaikan komitmennya untuk menjadikan lembaga tersebut sebagai penghubung yang responsif antara masyarakat dan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan bahwa keberagaman latar belakang anggota, mulai dari unsur perguruan tinggi, wartawan, hingga praktisi, akan menjadi modal penting dalam menyerap berbagai aspirasi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, Dewan Pendidikan berkomitmen untuk lebih banyak mendengar kebutuhan dari tingkat akar rumput sehingga setiap masukan yang diberikan kepada pemerintah benar-benar sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Penguatan IPM Menjadi Fokus Melalui Investasi Pendidikan Jangka Panjang
Ahmad Ansaful Marom menegaskan bahwa salah satu prioritas utama Dewan Pendidikan ke depan adalah memperkuat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui investasi pendidikan yang berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, pembangunan pendidikan memang tidak selalu menghasilkan perubahan yang dapat terlihat dalam waktu singkat.
Namun, hasil investasi tersebut akan memberikan manfaat besar bagi masa depan daerah apabila dilakukan secara konsisten sejak sekarang.
“Kita tahu bahwa investasi di dunia pendidikan adalah investasi yang sering kali tidak tampak secara fisik atau instan, berbeda dengan infrastruktur. Hasilnya tidak bisa dinikmati hanya dalam waktu lima tahun. Kendati demikian, investasi masa depan ini harus kita mulai sejak dini,” katanya.
Komitmen tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara Dewan Pendidikan dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses belajar bagi masyarakat, serta membangun sumber daya manusia yang lebih unggul sebagai modal utama pembangunan daerah.***