
KabarJawa.com – Perayaan Tahun Baru Islam melalui Grebeg Suro 2026 akan kembali digelar di wilayah Kutho Kulon atau eks Pembantu Bupati (PB) Somoroto, Kabupaten Ponorogo, pada 12 hingga 16 Juli 2026.
Agenda budaya tahunan ini menghadirkan rangkaian kegiatan selama lima hari dengan Monumen Bantarangin sebagai pusat pelaksanaan, sekaligus menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat.
Selain menjadi tradisi yang selalu dinantikan warga, Grebeg Tutup Suro juga akan kembali menghadirkan Kirab Budaya Bantarangin yang melibatkan masyarakat dari sejumlah wilayah di kawasan Kutho Kulon. Berbagai kegiatan budaya dan keagamaan telah disiapkan untuk memeriahkan perayaan tersebut.
Bupati Amin Dorong Desa Bersatu dalam Kirab Budaya Bantarangin
Bupati Ponorogo periode 2010-2015, Amin, menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan Grebeg Tutup Suro sebagai bagian dari warisan budaya yang telah berkembang di wilayah eks PB Somoroto.
Ia mengimbau desa-desa yang berada di kawasan tersebut agar tidak mengadakan Kirab Suro secara terpisah.
Sebaliknya, seluruh desa diharapkan dapat bergabung dalam pelaksanaan Kirab Budaya Bantarangin sehingga semangat kebersamaan dan pelestarian budaya semakin kuat.
“Kutho Kulon itu termasuk Kecamatan Sukorejo, Sampung, Badegan, Kecamatan Jambon,” ujarnya pada Jumat, 3 Juli 2026 yang lalu.
Rangkaian Grebeg Tutup Suro Berlangsung Selama Lima Hari
Grebeg Tutup Suro merupakan agenda budaya tahunan yang secara rutin diselenggarakan di kawasan Kutho Kulon. Pada penyelenggaraan tahun ini, kegiatan akan berlangsung selama lima hari, mulai 12 hingga 16 Juli 2026.
Monumen Bantarangin akan kembali menjadi lokasi utama pelaksanaan seluruh rangkaian acara. Berbagai kegiatan pendukung atau side event juga telah disiapkan untuk memberikan pengalaman budaya yang lengkap bagi masyarakat maupun pengunjung.
Beberapa agenda yang akan digelar meliputi Simaan Al-Qur’an, pertunjukan reog, pameran pusaka, bedhol pusaka, kirab pusaka, hingga buceng purak.
Seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi Grebeg Tutup Suro yang terus dipertahankan setiap tahunnya.
Monumen Bantarangin Menjadi Pusat Tradisi Sejak 2007
Pelaksanaan Grebeg Tutup Suro memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan keberadaan Monumen Bantarangin di Desa Somoroto, Kecamatan Kauman.
Sejak monumen tersebut berdiri pada 2007, Grebeg Tutup Suro tidak pernah absen diselenggarakan. Konsistensi penyelenggaraan itu menjadikan agenda ini sebagai salah satu tradisi budaya yang terus hidup dan berkembang di Ponorogo.
Keberadaan Monumen Bantarangin juga memperkuat identitas kawasan sebagai pusat berbagai aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat dari sejumlah kecamatan di wilayah Kutho Kulon.
Antusiasme Warga Selalu Tinggi Menyambut Kirab Budaya
Setiap penyelenggaraan Grebeg Tutup Suro dikenal sering kali mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga Kutho Kulon menjadikan agenda tahunan tersebut sebagai momen yang dinanti karena menghadirkan berbagai atraksi budaya yang khas.
Salah satu kegiatan yang paling menyedot perhatian adalah Kirab Budaya Bantarangin. Masyarakat biasanya memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan iring-iringan budaya yang menjadi bagian dari tradisi Grebeg Tutup Suro.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk menjaga nilai-nilai budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Grebeg Tutup Suro Perkuat Pelestarian Budaya dan Kebersamaan Masyarakat
Grebeg Tutup Suro menjadi simbol kuat pelestarian budaya di kawasan Kutho Kulon. Pelaksanaannya tidak terlepas dari kerja sama berbagai elemen masyarakat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Kolaborasi antarwarga menjadi faktor penting sehingga seluruh rangkaian acara dapat terlaksana secara rutin setiap tahun.
Dengan dukungan masyarakat, Grebeg Tutup Suro terus berkembang sebagai agenda budaya yang memperkuat identitas daerah sekaligus menjaga warisan budaya Ponorogo tetap lestari.***