
KABARJAWA – Kabupaten Gunungkidul mencatat sejarah penting sebagai tuan rumah Kongres Diaspora Jawa Internasional tahun 2025.
Acara akbar ini menghadirkan ratusan orang Jawa dari berbagai penjuru dunia—mulai dari Belanda, Suriname, Singapura, Malaysia, hingga Amerika Serikat. Kehadiran mereka bukan sekadar nostalgia, tetapi juga bentuk nyata ikatan budaya yang tak lekang oleh zaman.
Pentingnya Kongres Diaspora Ini
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyambut para diaspora dengan hangat. Ia menggarisbawahi pentingnya memperkuat identitas sebagai trah Jawa, meskipun mereka telah lama tinggal di negara lain.
“Kami ingin hubungan ini berlanjut, tidak sekadar berakhir di kongres. Kami berharap mereka bisa menikmati alam, budaya, dan keramahan Gunungkidul. Tapi yang lebih penting, kami ingin mereka membawa pulang manfaat,” tegas Endah dalam pidatonya.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Endah juga menyampaikan niat strategisnya. Ia meminta nomor kontak ketua paguyuban diaspora, Ina, sebagai langkah awal membuka peluang ekspor produk Usaha Mikro Kecil (UMK) Gunungkidul ke luar negeri.
“Saya ingin produk UMKM Gunungkidul bisa hadir di Belanda atau Suriname. Kalau ada jaringan diaspora yang kuat, kami bisa lebih yakin dan aman mengirim produk,” ungkapnya penuh harap.
Endah menyadari bahwa diaspora bisa menjadi jembatan distribusi budaya dan ekonomi. Ia juga tersentuh ketika mendengar cerita pilu perjuangan diaspora untuk bertahan hidup di negeri orang.
“Saya sampai terharu. Perjuangan mereka itu menggetarkan hati,” katanya dengan mata berkaca.
Siap jadi Tuan Rumah Kongres Diaspora Jawa Internasional
Melihat antusiasme luar biasa dari para diaspora, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai bermimpi lebih besar. Wakil Bupati dan Ketua Diaspora akan mendiskusikan langkah konkret agar Gunungkidul bisa menjadi simpul budaya Jawa internasional.
“Kami ingin kongres ini bukan yang terakhir. Kami siap menjadi rumah bagi diaspora Jawa setiap tahun,” ujar Bupati Endah optimistis.
Melalui sinergi antara diaspora dan pemerintah daerah, Gunungkidul berpeluang besar menjadi episentrum budaya Jawa dunia. Harapan ini tidak berlebihan, sebab akar budaya yang kuat dan semangat masyarakatnya sudah tumbuh subur.
Pangeran Wironegoro, perwakilan resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, turut memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
“Selama 15 tahun saya mendampingi diaspora Jawa, baru kali ini saya melihat daerah di luar Keraton yang benar-benar siap menjadi tuan rumah. Ini karena semangat dan komitmen Ibu Bupati terhadap budaya Jawa,” tutur Wironegoro.
Ia menambahkan bahwa kongres kali ini mengangkat tema besar Hamemayu Hayuning Bawono yang berarti memelihara keindahan dan keseimbangan dunia.
Ia berharap filosofi ini mendarat dalam tiga wujud nyata: identitas kultural, ilmu budi pekerti, dan keberanian diaspora dalam menyebarkan nilai-nilai Jawa ke seluruh dunia. (ef linangkung)