
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Minggu (5/7/2026) sore.
Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), tercatat satu kali kejadian awan panas guguran yang meluncur menuju sektor barat daya.
Peristiwa ini terekam instrumen pemantauan pada pukul 17.17 WIB dengan amplitudo maksimum 46,09 milimeter dan durasi 121,86 detik. Awan panas guguran tersebut mengarah ke hulu Kali Sat dan Kali Putih. Namun, dikarenakan kondisi visual puncak yang tertutup kabut, jarak luncur pastinya tidak dapat teramati.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa kejadian ini masih sesuai dengan karakteristik aktivitas Gunung Merapi saat ini yang berstatus Level III atau Siaga.
“Terjadinya awan panas guguran ini menunjukkan bahwa dinamika Merapi masih berlangsung. Aktivitas tersebut masih berada dalam skenario yang telah diperkirakan berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG. Karena itu masyarakat kami minta tetap tenang, namun jangan mengabaikan rekomendasi yang sudah disampaikan,” kata Agus Budi Santosa.
Data Pemantauan dan Potensi Bahaya
Selain awan panas guguran, dalam periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, BPPTKG juga merekam 29 kali gempa guguran dan 21 kali gempa hybrid (fase banyak).
Gempa hybrid ini mengindikasikan adanya pergerakan fluida atau magma di dalam tubuh gunung. Petugas juga mengamati satu kali guguran lava ke arah Kali Sat dan Kali Putih dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter.
Agus Budi Santosa menambahkan bahwa hasil pemantauan menunjukkan suplai magma menuju permukaan masih terus berlangsung.
“Kondisi ini menjadi dasar kami mempertahankan status Siaga. Selama suplai magma masih berlangsung, potensi guguran lava maupun awan panas tetap harus diwaspadai, khususnya pada alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi,” jelasnya.
BPPTKG menegaskan tidak ada perubahan status aktivitas, Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Potensi bahaya saat ini meliputi:
-
Sektor Selatan-Barat Daya: Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
-
Sektor Tenggara: Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
Masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif (radius 3 km dari puncak), serta ancaman lahar hujan di hulu sungai saat terjadi hujan di area puncak.
BPPTKG terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas.