
KabarJawa.com— Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wirobrajan yang biasanya sibuk menyiapkan ribuan porsi makanan kini tampak lengang.
Sejak Kamis pagi, dapur itu resmi ditutup sementara. Pemkot Yogyakarta mengambil langkah itu setelah ratusan siswa dari sekolah menengah atas mengalami gejala keracunan massal usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo langsung turun tangan. Ia mendatangi SMA Negeri 1 Yogyakarta atau SMA Teladan untuk memastikan penanganan korban berjalan cepat.
Dengan wajah tegas, Hasto menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap peristiwa yang mengguncang dunia pendidikan itu.
“Operasional SPPG Wirobrajan dihentikan sementara sampai hasil uji laboratorium keluar,” ujar Hasto usai meninjau para siswa yang masih mengalami gejala mual, pusing, dan diare.
Pemkot Jogja Bergerak Cepat
Hasto mengungkapkan, tim dari Dinas Kesehatan dan Dinas Ketahanan Pangan telah mengambil sejumlah sampel makanan dari dapur SPPG dan sekolah. Semua sampel kini berada di laboratorium untuk menjalani uji kultur bakteri.
“Jika karena toksin nonbakterial, gejalanya akan muncul dalam menit atau jam. Tapi karena gejala baru terasa sekitar 12 jam setelah makan, kemungkinan besar penyebabnya adalah infeksi bakteri,” jelasnya.
Ia memperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium akan keluar dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan. Sambil menunggu hasil itu, seluruh operasional dapur dihentikan penuh untuk mencegah potensi kasus baru.
Peristiwa ini bukan kasus kecil. Berdasarkan data resmi, 491 siswa dari dua sekolah menjadi korban. Rinciannya, 426 siswa berasal dari SMA Negeri 1 Yogyakarta, sementara 65 siswa lainnya dari SMA Muhammadiyah 7.
Dari jumlah itu, 32 siswa SMA Teladan tercatat mengalami gejala cukup berat hingga tidak bisa masuk sekolah.
Beberapa siswa mengaku mulai merasakan gejala mual dan sakit perut pada malam hari setelah makan siang di sekolah.
Esok paginya, sebagian besar sudah harus mendapatkan perawatan medis di rumah masing-masing maupun di fasilitas kesehatan terdekat.
SPPG Wirobrajan
Menurut Hasto, SPPG Wirobrajan selama ini menyalurkan makanan bergizi kepada 3.444 siswa dari sembilan sekolah di wilayah Wirobrajan. Menariknya, laporan gejala hanya muncul dari dua sekolah, yakni SMA Negeri 1 dan SMA Muhammadiyah 7.
‘Tidak ada laporan serupa dari sekolah dasar atau SMP lain yang dilayani dapur ini,” ungkap Hasto.
Hal itu membuat pemerintah menaruh perhatian pada faktor khusus di dua sekolah tersebut, termasuk kemungkinan kontaminasi saat proses distribusi atau penyimpanan makanan.
Meski dapur SPPG Wirobrajan telah menjalani asesmen dan dinilai memenuhi standar kebersihan serta sanitasi, muncul dugaan bahwa menu baru menjadi faktor risiko tambahan.
Dalam beberapa pekan terakhir, dapur tersebut memang mulai memperkenalkan beberapa varian baru dalam program MBG, termasuk menu ayam.
“Sarana tampak sesuai standar. Namun, memang ada beberapa menu baru belakangan, salah satunya ayam,” kata Hasto.
Kemungkinan kesalahan dalam proses pemasakan atau penyimpanan bahan mentah menjadi fokus utama tim pemeriksa.
Pemkot Jogja langsung mengerahkan tim gabungan untuk melakukan inspeksi ke rumah-rumah siswa terdampak. Pemerintah juga meminta para kepala sekolah agar terus memantau kondisi para siswa setiap hari.
‘Kami tidak ingin ada kasus yang terlambat tertangani. Semua siswa harus mendapat pengawasan medis sampai benar-benar pulih,” tegas Hasto.
Di SMA Teladan, ruang UKS yang biasanya sepi kini berubah menjadi posko kesehatan darurat. Sejumlah guru bergantian mendampingi siswa yang masih lemas dan belum bisa mengikuti pelajaran.
Meski langkah penghentian operasional SPPG Wirobrajan berdampak pada ribuan siswa penerima MBG, pemerintah menilai keputusan itu tepat demi keselamatan.
Hasto menegaskan bahwa penutupan hanya bersifat sementara, hingga penyebab pasti keracunan ditemukan.
“Program Makan Bergizi Gratis sangat baik dan membantu banyak keluarga. Tapi kami juga harus memastikan seluruh proses berjalan aman dan higienis,” tuturnya. (ef linangkung)