
KabarJawa.com – Ketika seseorang menyebut nama Semarang, sebagian besar orang pasti langsung teringat pada satu jenis oleh-oleh yang begitu populer, yaitu wingko babat.
Jajanan berbahan dasar kelapa itu seolah sudah menjadi simbol kota tersebut. Bahkan, banyak wisatawan merasa kunjungan mereka belum lengkap apabila pulang tanpa membawa wingko sebagai buah tangan.
Namun, pertanyaan menariknya adalah apakah makanan ini benar benar berasal dari Semarang, atau hanya menjadi terkenal berkat peran kota itu sebagai pusat penyebarannya? Untuk memahami jawabannya, mari kita telusuri soal perjalanan panjang makanan tradisional ini.
Asal-usul Wingko Babat
Meskipun kini sering dianggap sebagai makanan khas Semarang, wingko babat sebenarnya berasal dari daerah yang cukup jauh dari ibu kota Jawa Tengah tersebut.
Melansir dari laman resmi Universitas Sebelas Maret, wingko babat merupakan kuliner tradisional dari wilayah Babat di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Bagi masyarakat setempat, wingko bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari sejarah ekonomi yang memberi dampak besar pada kehidupan penduduk di sana.
Berkembangnya produksi wingko di Babat ikut menggerakkan roda perekonomian daerah. Banyak warga memperoleh penghasilan dari usaha pembuatan wingko, yang kemudian berkembang menjadi industri rumahan. Dari sinilah wingko mulai dikenal lebih luas.
Secara tradisional, wingko dibuat dari bahan dasar kelapa parut yang dicampur dengan gula dan tepung ketan. Adonan tersebut kemudian dimasak dengan cara dipanggang hingga menghasilkan aroma khas yang wangi dan tekstur yang cenderung lembut namun padat.
Uniknya lagi, makanan ini memiliki daya simpan yang cukup baik, biasanya antara satu sampai tujuh hari tergantung pada komposisi bahan yang digunakan.
Bentuk wingko umumnya bulat pipih dan sering disajikan dalam keadaan hangat, lalu dipotong kecil kecil sebelum disantap.
Mengapa Semarang Menjadi Kota yang Identik dengan Wingko Babat?
Walaupun asal mulanya bukan dari Semarang, kota inilah yang kemudian membuat wingko dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Popularitas wingko di Semarang bermula pada sekitar tahun 1946, yaitu satu tahun setelah Indonesia merdeka.
Pada masa itu, Semarang merupakan kota pelabuhan yang menjadi titik pertemuan berbagai pedagang dan pendatang dari banyak daerah.
Letak Semarang yang strategis membuat wingko mudah tersebar melalui jalur perdagangan. Para pendatang yang mampir ke kota ini mengenal wingko sebagai makanan lezat yang cocok dijadikan oleh-oleh, sehingga permintaan pun meningkat.
Di sinilah berbagai usaha wingko mulai tumbuh pesat di kawasan Semarang, menjadikannya pusat produksi yang secara perlahan lebih dikenal daripada daerah asalnya sendiri.
Dari waktu ke waktu, wisatawan yang berkunjung ke Semarang semakin terbiasa membawa wingko sebagai buah tangan.
Kebiasaan tersebut akhirnya membentuk persepsi kolektif bahwa wingko adalah makanan khas kota Semarang. Bahkan sampai saat ini, sebagian besar pengunjung kota tersebut masih menjadikannya sebagai pilihan utama oleh-oleh.
Wingko Babat sebagai Jajanan yang Mengokohkan Identitas Kuliner Nusantara
Jadi kesimpulannya, alasan kenapa Semarang identik dengan Wingko Babat adalah karena makanan tersebut memang dipopulerkan di wilayah Semarang.
Yang jelas, ketenaran wingko sebagai ikon oleh-oleh dari Semarang tidak membuat identitas aslinya hilang. Justru, perjalanan wingko babat menjadi bukti bahwa kuliner Indonesia memiliki dinamika yang sangat menarik.
Sebuah makanan bisa lahir dari suatu daerah, tetapi berkembang dan mendunia lewat kota lain yang memberi ruang bagi popularitasnya.
Hingga hari ini wingko tetap menjadi primadona di kalangan wisatawan. Rasanya yang manis, gurih, dan sederhana membuatnya disukai oleh banyak orang dari berbagai usia.
Selain itu, wingko menjadi contoh bagaimana sebuah tradisi kuliner mampu bertahan dan terus berkembang di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, kita bisa menyimpulkan bahwa wingko adalah jajanan tradisional asli Babat Lamongan. Namun, Semarang memainkan peran besar dalam membawa wingko ke hati masyarakat luas. Sebab itulah nama Semarang begitu erat dikaitkan dengan wingko sampai sekarang.
Terlepas dari asal-usulnya, satu hal yang pasti adalah bahwa wingko menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner Nusantara yang patut terus dilestarikan.***