
Banyuwangi, Kabar Jawa – Gelaran tari kolosal tahunan kebanggaan Kabupaten Banyuwangi, Gandrung Sewu, resmi memasuki babak baru pada pelaksanaan tahun ke-14.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak diinisiasi pada 2012, ajang budaya yang melibatkan ribuan penari ini akan digelar pada malam hari berkonsep Glow in the Dark pada Sabtu (24/10/2026) pukul 18.30 WIB di kawasan Pantai Boom Marina.
Mengusung tema Kembang Dermo, festival kali ini memadukan estetika gerakan tari tradisional masyarakat Osing dengan keindahan visual modern.
Penggunaan teknologi tata cahaya dan visual pertunjukan dirancang khusus untuk memperkuat kemegahan gerakan penari di tepi Selat Bali.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan bahwa transformasi waktu pelaksanaan ini merupakan bentuk inovasi untuk menyapa perkembangan zaman tanpa mencabut akar sejarah Kesenian Gandrung.
“Selama lebih dari satu dekade lebih, ribuan penari Gandrung telah tampil bersama di kawasan Pantai Boom Marina, dengan latar Selat Bali. Setiap pergelaran membawa tema berbeda, mengangkat kekayaan sejarah, adat, perjuangan, hingga keberagaman budaya yang hidup di Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Jumat (23/10/2026).
Rekam jejak Gandrung Sewu mencatat perjalanan kisah yang beragam dari tahun ke tahun. Dimulai dari Jejer Gandrung (2012), Paju Gandrung (2013), Seblang Subuh (2014), Podo Nonton (2015), Seblang Lukinto (2016), hingga Kembang Pepe (2017) yang menggambarkan perjuangan warga.
Narasi dilanjutkan lewat Layar Kumendung (2018), Panji-Panji Sunangkoro (2019), Gandrung Sewu Nusantara (2021), Sumunare Tlatah Blambangan (2022), Omprog: The Glory of Art (2023), Payung Agung (2024), hingga Selendang Sang Gandrung (2025).
Pada edisi 2026, eksplorasi seni tradisi melangkah lebih jauh lewat suguhan estetika panggung malam.
“Tahun 2026, perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu digelar pada malam hari, menghadirkan pengalaman berbeda melalui perpaduan seni tradisi, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan,” kata Ipuk.
Melalui tema Kembang Dermo, pementasan ini tetap berakar pada nilai adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Osing Banyuwangi.
“Perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana berbeda. Panggung malam membuka ruang eksplorasi artistik yang lebih luas, dengan permainan cahaya dan visual yang memperkuat kemegahan gerak ribuan penari Gandrung,” jelasnya.
Selain menyajikan pertunjukan seni kolosal yang memukau, perhelatan Gandrung Sewu terbukti efektif menjaga keberlanjutan regenerasi penari muda serta menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.
“Melalui Gandrung Sewu, pelestarian budaya juga berjalan beriringan dengan regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat,” kata Ipuk.