Situs Pelabuhan Canggu Mojokerto, Bukti Kerajaan Majapahit Pernah Jadi Pusat Perdagangan Besar

Bagikan :
Pelajari sejarah Pelabuhan Canggu, peran Sungai Brantas, dan jaringan perdagangan yang mendukung kejayaan maritim Kerajaan Majapahit. (AI/Kabar Jawa)

Kabar Jawa – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan besar dalam sejarah Nusantara yang berkembang pesat pada abad ke-13 hingga ke-15.

Kejayaannya tidak hanya ditopang oleh pertanian dan kekuatan politik, tetapi juga oleh jaringan perdagangan yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir serta jalur pelayaran antarpulau. S

Salah satu simpul penting dalam jaringan tersebut adalah Pelabuhan Canggu, pelabuhan sungai yang berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat Majapahit.

Keberadaan Canggu memperlihatkan bahwa sungai memiliki peran strategis dalam membangun peradaban. Melalui Sungai Brantas dan jaringan transportasi darat, hasil bumi dari pedalaman dapat didistribusikan menuju pusat pemerintahan maupun pelabuhan pesisir.

Prasasti Canggu bertahun 1358 M menjadi salah satu sumber sejarah penting untuk memahami sistem penyeberangan, perdagangan, dan pengelolaan transportasi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Dalam sejarah Kerajaan Majapahit, kekuatan maritim tidak dapat dipisahkan dari kemampuan mengelola wilayah daratan. Pusat pemerintahan yang diperkirakan berada di kawasan Trowulan, Mojokerto, terletak di pedalaman Jawa Timur.

Kondisi geografis tersebut justru mendorong pemanfaatan sungai dan jalur darat untuk menghubungkan pusat kekuasaan dengan kawasan pesisir.

Baca juga  Menguak Keindahan dan Sejarah Candi Arjuna di Dieng

Artikel penelitian Bambang Budi Utomo dalam jurnal Berkala Arkeologi menjelaskan bahwa keberlangsungan kekuasaan Majapahit berkaitan dengan keberadaan pelabuhan-pelabuhan pesisir, seperti Kambangputih, Siddhayu, Gresik, Surabaya, dan Canggu. Jaringan tersebut mendukung perdagangan sekaligus kepentingan pertahanan maritim kerajaan.

Dalam konteks ini, Sungai Brantas berperan sebagai jalur penghubung antara kawasan produksi di pedalaman dan wilayah perdagangan di hilir.

Sungai tidak hanya menjadi sumber air bagi pertanian, tetapi juga menyediakan jalur transportasi untuk mengangkut barang dan manusia.

Pergerakan komoditas melalui sungai membantu mengurangi hambatan geografis yang muncul akibat jarak antara pusat pemerintahan dan pesisir.

Jejak Pelabuhan Kuno Canggu dalam Prasasti Canggu (Prasasti Trowulan I, 1358 M)

Salah satu bukti tertulis terpenting mengenai sistem transportasi Majapahit adalah Prasasti Canggu, yang juga dikenal sebagai Prasasti Trowulan I.

Prasasti bertarikh 1358 M ini berasal dari masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389). Isinya mencatat sejumlah desa penyeberangan di sepanjang sungai yang memiliki peran penting bagi kehidupan ekonomi kerajaan.

Penelitian arkeologi yang diterbitkan dalam jurnal Berkala Arkeologi menyebutkan bahwa prasasti tersebut mencatat 33 desa penyeberangan di tepi Bengawan Solo dan 44 desa penyeberangan di tepi Sungai Brantas.

Data ini menunjukkan bahwa penyeberangan sungai merupakan bagian dari jaringan transportasi yang terorganisasi, bukan sekadar aktivitas masyarakat setempat.

Dalam konteks tersebut, istilah nambangan berkaitan dengan kegiatan menyeberangkan orang maupun barang menggunakan perahu atau sarana penyeberangan sungai.

Titik-titik penyeberangan membantu menghubungkan permukiman, jalur perjalanan darat, dan pusat-pusat perdagangan. Pengelolaannya juga berhubungan dengan aturan kerajaan mengenai pelayanan serta kewajiban tertentu kepada penguasa.

Kajian Kenneth R. Hall dalam buku akademik Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia menjelaskan bahwa piagam penyeberangan Canggu memuat perubahan ketentuan pungutan terhadap para penyeberang. Catatan tersebut turut memperlihatkan pergerakan pedagang dan barang menggunakan jaringan jalan yang terhubung dengan penyeberangan sungai.

Baca juga  Menelusuri Wisata Heritage Jawa Timur: Destinasi Wajib untuk Pecinta Sejarah dan Budaya

Fungsi Strategis Pelabuhan Canggu bagi Ekonomi Majapahit

Pelabuhan Canggu memiliki posisi strategis karena menghubungkan kawasan pedalaman dengan jalur perdagangan di hilir Sungai Brantas. Lokasinya diperkirakan berada di sekitar Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Penelitian Mawardi Purbo Sanjoyo yang diterbitkan dalam jurnal Mozaik Universitas Negeri Yogyakarta pada 2020 menjelaskan bahwa Canggu berfungsi sebagai pelabuhan dagang, tempat yang berkaitan dengan pemungutan bea, serta memiliki peran strategis lainnya.

Fungsi tersebut membuat Canggu berpotensi menjadi titik temu antara petani, pengangkut barang, pedagang, dan aparat kerajaan. Hasil pertanian serta komoditas dari pedalaman dapat dikumpulkan sebelum diteruskan ke kawasan pesisir. Sebaliknya, barang yang datang melalui jalur laut dapat bergerak menuju pusat pemerintahan dan permukiman di pedalaman.

Dalam jaringan perdagangan yang lebih luas, Majapahit berhubungan dengan kawasan Asia melalui pelabuhan-pelabuhan pesisir.

Catatan perjalanan Tiongkok dari masa Dinasti Ming yang dibahas dalam kajian sejarah perdagangan Asia Tenggara turut menyebut Canggu, dengan nama yang ditranskripsikan sebagai Chang-ku, sebagai pusat perdagangan di tepi Brantas.

Adapun komoditas yang diperdagangkan pada masa Majapahit mencakup hasil pertanian, bahan pangan, tekstil, dan berbagai barang bernilai tinggi. Rempah-rempah, keramik, kain sutra, serta logam dapat ditempatkan dalam konteks perdagangan regional yang lebih luas.

Namun, tidak semua komoditas tersebut dapat dipastikan sebagai barang yang secara khusus melewati Pelabuhan Canggu berdasarkan bukti yang tersedia.

Temuan Artefak Arkeologis di Kawasan Trowulan dan Mojokerto

Pembahasan mengenai pelabuhan kuno Canggu tidak dapat dilepaskan dari kawasan Trowulan, yang selama ini diperkirakan sebagai lokasi ibu kota Majapahit.

Baca juga  Mengenal Arti Nguntapake, Budaya Warisan Leluhur Jawa yang Masih Dipraktikkan sampai Sekarang

Berbagai penelitian arkeologi di kawasan tersebut menemukan peninggalan berupa tembikar, keramik asing, struktur bata, fondasi bangunan, serta bangunan monumental seperti candi dan gapura.

Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menjelaskan bahwa temuan-temuan tersebut membantu merekonstruksi gambaran kota kuno Majapahit. Kawasan Trowulan juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional pada 2013.

Koin kuno, termasuk mata uang yang dikenal sebagai picis atau gobog, serta pecahan keramik dari berbagai periode dapat membantu peneliti memahami aktivitas ekonomi dan hubungan perdagangan masyarakat masa lalu.

Akan tetapi, penentuan asal, masa pembuatan, dan fungsi setiap artefak harus didasarkan pada konteks temuan serta kajian arkeologis.

Penting pula untuk membedakan temuan di kawasan Trowulan dari bukti yang secara langsung berasal dari Pelabuhan Canggu.

Pecahan keramik asing atau struktur bata yang ditemukan di Trowulan tidak otomatis membuktikan keberadaan dermaga di lokasi Canggu. Identifikasi struktur pelabuhan membutuhkan bukti lapangan yang lebih spesifik.

Relevansi Sejarah Pelabuhan Kuno dengan Poros Maritim Modern

Sejarah Pelabuhan Canggu memberikan pelajaran bahwa kekuatan maritim tidak selalu bertumpu pada pelabuhan laut dan kapal besar.

Sungai, jalur darat, pusat produksi, serta sistem pengelolaan transportasi juga menentukan kelancaran perdagangan.

Dalam konteks Indonesia modern, prinsip tersebut relevan dengan pengembangan konektivitas antardaerah.

Integrasi pelabuhan, transportasi sungai, jalan, dan pusat distribusi dapat membantu memperlancar arus barang sekaligus memperkuat ekonomi wilayah.

Warisan Canggu juga menunjukkan pentingnya menjaga sungai sebagai bagian dari lingkungan dan sejarah masyarakat.

Pelestarian situs, penelitian arkeologi, serta pengembangan wisata edukasi dapat memperkenalkan kembali peran peradaban sungai dalam sejarah Nusantara tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Berita Terbaru

GALERI_20250602123208
4 Jejak Sejarah Malang: Dari Kerajaan Singasari Hingga Kawasan Heritage Kolonial
gandrung sewu 2026
Pertama dalam Sejarah! Gandrung Sewu 2026 Siap Digelar Malam Hari Mengusung Konsep Glow in The Dark
ilustrasi pelabuhan canggu majapahit
Situs Pelabuhan Canggu Mojokerto, Bukti Kerajaan Majapahit Pernah Jadi Pusat Perdagangan Besar
Screenshot 2026-10-24 083900
Seni Menutur Sang Dalang: Menjaga Panggung Wayang Golek Menak Kebumen Tetap Berdetak di Era Digital
ilustrasi pasangan weton minggu kliwon
Jodoh Weton Minggu Kliwon, Cocok dengan Neptu Berapa Agar Rumah Tangga Adem Ayem?

Terpopuler

Drama Korea Doctor X: Mafia in White atau Doctor X: Age of the White Mafia.
Doctor X Episode 5 Tayang Jam Berapa Hari Ini di Netflix? Simak Jadwal, Prediksi Cerita, dan Link Nontonnya
Apakah Mama Ghufron Masih Hidup
Apakah Mama Ghufron Meninggal atau Sekarang Masih Hidup? Cek Fakta Terbarunya di Sini
Kenapa ChatGPT muncul This Response Couldn’t Load? Ketahui arti error, penyebab, dan cara mengatasinya berdasarkan panduan resmi OpenAI.
Kenapa Chat GPT This response couldn’t load Terus? Ketahui Arti, Penyebab, dan Cara Mengatasi Chat GPT Error
tamansari jogja
5 Situs Air Kuno Bersejarah di Jogja: Taman Raja hingga Jejak Pangeran Diponegoro
Profil Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN, pendidikan, karier, istri, orang tua, serta fakta soal hubungan keluarganya dengan Gus Dur. (Foto: Humas Kementerian ATR)
Nusron Wahid Anak Siapa? Ini Profil Menteri ATR dan Apakah Punya Hubungan Keluarga dengan Gus Dur