Kebumen, Kabar Jawa.com – Pernahkah Anda berpikir, apa yang membuat sebuah pertunjukan wayang kayu berukuran 3D mampu membuat penonton betah duduk berjam-jam? Rahasianya bukan semata-mata terletak pada sosok tokoh fiksi yang dipajang di atas panggung, melainkan pada keandalan sang dalang merajut tutur kata dan mengolah dinamika suasana.
Wayang Golek Menak Kebumen bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan seni pertunjukan lisan yang kaya akan teknik komunikasi visual serta dramaturgi yang sangat personal.
Di panggung kayu, dalang memegang peranan sentral sebagai opinion leader sekaligus sutradara tunggal yang mengendalikan seluruh emosi pertunjukan.
Seperti yang diungkapkan dalam kajian ilmiah Bagong Pujiono pada Lakon: Jurnal Pengkajian & Penciptaan Wayang ISI Surakarta, daya pikat Wayang Golek Menak Kebumen bersumber dari harmonisasi catur (tutur kata), sabetan (gerak wayang), dan karawitan pakeliran.
Dalang tidak hanya menirukan dialog, tetapi juga memainkan intonasi suara (paralanguage) serta ekspresi kinesik untuk menghidupkan karakter tiga dimensi yang ia pegang.
Secara komunikasi ideologi dan budaya, kajian Novita Damayanti dari Jurnal Universitas Prof. Dr. Moestopo menguraikan bahwa dalang menggunakan simbol-simbol verbal dan nonverbal untuk menyampaikan nilai etika tanpa terkesan menggurui.
Di Kebumen, gaya menutur ini memiliki warna khas yang membedakannya dari gaya Jogja maupun Solo. Dalang lokal menciptakan lakon Menak Pang atau Menak Sempalan dengan menyisipkan dialog berdialek tempatan.
Bahkan, guna memperhalus alur cerita asal Persia agar menyatu dengan jiwa masyarakat pesisir Kebumen, dihadirkan tokoh Punakawan lokal seperti Ciwang Cah Kupluk dan Jemuah Wage. Melalui candaan dan tutur kata para punakawan inilah, pesan-pesan filosofis, etika, dan kritik sosial disampaikan secara santai dan komunikatif.
Nilai historis dan keunikan gaya tutur Wayang Golek Menak Kebumen membuatnya memiliki posisi istimewa dalam peta kebudayaan nasional. Jejaknya membentang panjang sejak abad ke-17 dari perantauan dalang Keraton Yogyakarta, Redi Guna Gledheg, hingga puncaknya pada era kejayaan Ki Sindhu Jotaryono di tahun 1980-an yang membawa seni ini pentas di puluhan negara.
Keistimewaan tata seni pedalangan ini juga mengantarkan Wayang Golek Menak Kebumen menjadi materi akademik wajib di perguruan tinggi seni seperti ISI Surakarta. Tidak heran jika kebudayaan ini terus didorong dalam agenda kelestarian warisan daerah dan tercatat dalam penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2026 serta menjadi bagian integral dari narasi kebudayaan kawasan Geopark Kebumen.
Tantangan terbesar seni tradisi saat ini adalah menyurutnya minat generasi muda akibat pergeseran media hiburan. Agar kisah dan keahlian tutur pewayangan ini tidak berhenti di tempat penyimpanannya, dibutuhkan pendekatan anyar yang relevan dengan kehidupan anak muda masa kini.
Jawabannya muncul melalui kolaborasi edukasi digital. Dalam publikasi riset GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat oleh Hendra Kurniawan dan tim dari Universitas Sanata Dharma, eksplorasi lokalitas wayang dipadukan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka di SMP Pius Bakti Utama Gombong. Siswa diajak beralih dari sekadar penikmat pasif menjadi pencipta konten digital.
Menggunakan platform pembuatan aplikasi visual MIT App Inventor, para siswa merancang aplikasi perangkat bergerak berbasis Android yang memuat alur cerita, galeri visual, dan nilai sejarah Wayang Golek Menak Kebumen. Model pembelajaran interaktif ini terbukti membakar antusiasme pelajar. Dengan mengemas narasi tradisi ke dalam aplikasi smartphone yang mereka buat sendiri, siswa merasa bangga menjadi “budayawan cilik” yang mengenalkan warisan lokalnya ke panggung berkebinekaan global.
Menjaga eksistensi Wayang Golek Menak Kebumen tidak berarti harus menolak perubahan zaman. Ketika pertunjukan panggung menghadapi tantangan regenerasi penonton, keahlian tutur dalang dan kekayaan cerita pewayangan justru menemukan sarana baru lewat kreativitas media digital anak muda. Perpaduan antara seni tuturan lisan di atas panggung dan inovasi teknologi informasi inilah yang memastikan warisan budaya Kebumen tetap hidup, dipahami, dan dicintai oleh generasi masa depan.