Seni Menutur Sang Dalang: Menjaga Panggung Wayang Golek Menak Kebumen Tetap Berdetak di Era Digital

Bagikan :

Kebumen, Kabar Jawa.com – Pernahkah Anda berpikir, apa yang membuat sebuah pertunjukan wayang kayu berukuran 3D mampu membuat penonton betah duduk berjam-jam? Rahasianya bukan semata-mata terletak pada sosok tokoh fiksi yang dipajang di atas panggung, melainkan pada keandalan sang dalang merajut tutur kata dan mengolah dinamika suasana.

Wayang Golek Menak Kebumen bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan seni pertunjukan lisan yang kaya akan teknik komunikasi visual serta dramaturgi yang sangat personal.

Baca juga  Siapa Pelaku Bullying Siswa SMK Kebumen, Akun IG hingga TikTok Diburu Warganet

Di panggung kayu, dalang memegang peranan sentral sebagai opinion leader sekaligus sutradara tunggal yang mengendalikan seluruh emosi pertunjukan.

Seperti yang diungkapkan dalam kajian ilmiah Bagong Pujiono pada Lakon: Jurnal Pengkajian & Penciptaan Wayang ISI Surakarta, daya pikat Wayang Golek Menak Kebumen bersumber dari harmonisasi catur (tutur kata), sabetan (gerak wayang), dan karawitan pakeliran.

Dalang tidak hanya menirukan dialog, tetapi juga memainkan intonasi suara (paralanguage) serta ekspresi kinesik untuk menghidupkan karakter tiga dimensi yang ia pegang.

Secara komunikasi ideologi dan budaya, kajian Novita Damayanti dari Jurnal Universitas Prof. Dr. Moestopo menguraikan bahwa dalang menggunakan simbol-simbol verbal dan nonverbal untuk menyampaikan nilai etika tanpa terkesan menggurui.

Di Kebumen, gaya menutur ini memiliki warna khas yang membedakannya dari gaya Jogja maupun Solo. Dalang lokal menciptakan lakon Menak Pang atau Menak Sempalan dengan menyisipkan dialog berdialek tempatan.

Bahkan, guna memperhalus alur cerita asal Persia agar menyatu dengan jiwa masyarakat pesisir Kebumen, dihadirkan tokoh Punakawan lokal seperti Ciwang Cah Kupluk dan Jemuah Wage. Melalui candaan dan tutur kata para punakawan inilah, pesan-pesan filosofis, etika, dan kritik sosial disampaikan secara santai dan komunikatif.

Baca juga  Heboh! Oknum Kepsek di Kebumen Diduga Buang Bayi, Terungkap Hasil Hubungan Terlarang

Nilai historis dan keunikan gaya tutur Wayang Golek Menak Kebumen membuatnya memiliki posisi istimewa dalam peta kebudayaan nasional. Jejaknya membentang panjang sejak abad ke-17 dari perantauan dalang Keraton Yogyakarta, Redi Guna Gledheg, hingga puncaknya pada era kejayaan Ki Sindhu Jotaryono di tahun 1980-an yang membawa seni ini pentas di puluhan negara.

Keistimewaan tata seni pedalangan ini juga mengantarkan Wayang Golek Menak Kebumen menjadi materi akademik wajib di perguruan tinggi seni seperti ISI Surakarta. Tidak heran jika kebudayaan ini terus didorong dalam agenda kelestarian warisan daerah dan tercatat dalam penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2026 serta menjadi bagian integral dari narasi kebudayaan kawasan Geopark Kebumen.

Tantangan terbesar seni tradisi saat ini adalah menyurutnya minat generasi muda akibat pergeseran media hiburan. Agar kisah dan keahlian tutur pewayangan ini tidak berhenti di tempat penyimpanannya, dibutuhkan pendekatan anyar yang relevan dengan kehidupan anak muda masa kini.

Jawabannya muncul melalui kolaborasi edukasi digital. Dalam publikasi riset GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat oleh Hendra Kurniawan dan tim dari Universitas Sanata Dharma, eksplorasi lokalitas wayang dipadukan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka di SMP Pius Bakti Utama Gombong. Siswa diajak beralih dari sekadar penikmat pasif menjadi pencipta konten digital.

Baca juga  5 Jalan di Jogja dengan Nama yang Menyimpan Kisah Sejarah Menarik

Menggunakan platform pembuatan aplikasi visual MIT App Inventor, para siswa merancang aplikasi perangkat bergerak berbasis Android yang memuat alur cerita, galeri visual, dan nilai sejarah Wayang Golek Menak Kebumen. Model pembelajaran interaktif ini terbukti membakar antusiasme pelajar. Dengan mengemas narasi tradisi ke dalam aplikasi smartphone yang mereka buat sendiri, siswa merasa bangga menjadi “budayawan cilik” yang mengenalkan warisan lokalnya ke panggung berkebinekaan global.

Menjaga eksistensi Wayang Golek Menak Kebumen tidak berarti harus menolak perubahan zaman. Ketika pertunjukan panggung menghadapi tantangan regenerasi penonton, keahlian tutur dalang dan kekayaan cerita pewayangan justru menemukan sarana baru lewat kreativitas media digital anak muda. Perpaduan antara seni tuturan lisan di atas panggung dan inovasi teknologi informasi inilah yang memastikan warisan budaya Kebumen tetap hidup, dipahami, dan dicintai oleh generasi masa depan.

Berita Terbaru

GALERI_20250602123208
4 Jejak Sejarah Malang: Dari Kerajaan Singasari Hingga Kawasan Heritage Kolonial
gandrung sewu 2026
Pertama dalam Sejarah! Gandrung Sewu 2026 Siap Digelar Malam Hari Mengusung Konsep Glow in The Dark
ilustrasi pelabuhan canggu majapahit
Situs Pelabuhan Canggu Mojokerto, Bukti Kerajaan Majapahit Pernah Jadi Pusat Perdagangan Besar
Screenshot 2026-10-24 083900
Seni Menutur Sang Dalang: Menjaga Panggung Wayang Golek Menak Kebumen Tetap Berdetak di Era Digital
ilustrasi pasangan weton minggu kliwon
Jodoh Weton Minggu Kliwon, Cocok dengan Neptu Berapa Agar Rumah Tangga Adem Ayem?

Terpopuler

Drama Korea Doctor X: Mafia in White atau Doctor X: Age of the White Mafia.
Doctor X Episode 5 Tayang Jam Berapa Hari Ini di Netflix? Simak Jadwal, Prediksi Cerita, dan Link Nontonnya
Apakah Mama Ghufron Masih Hidup
Apakah Mama Ghufron Meninggal atau Sekarang Masih Hidup? Cek Fakta Terbarunya di Sini
Kenapa ChatGPT muncul This Response Couldn’t Load? Ketahui arti error, penyebab, dan cara mengatasinya berdasarkan panduan resmi OpenAI.
Kenapa Chat GPT This response couldn’t load Terus? Ketahui Arti, Penyebab, dan Cara Mengatasi Chat GPT Error
tamansari jogja
5 Situs Air Kuno Bersejarah di Jogja: Taman Raja hingga Jejak Pangeran Diponegoro
Profil Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN, pendidikan, karier, istri, orang tua, serta fakta soal hubungan keluarganya dengan Gus Dur. (Foto: Humas Kementerian ATR)
Nusron Wahid Anak Siapa? Ini Profil Menteri ATR dan Apakah Punya Hubungan Keluarga dengan Gus Dur