
KabarJawa.com — Sore yang hangat di Jalan Malioboro mendadak berubah menjadi panggung kebudayaan. Suara gamelan berpadu dengan derap langkah para abdi dalem dan denting kentongan yang ritmis.
Dari arah utara, barisan panjang prajurit Keraton Yogyakarta perlahan melintas. Ribuan mata tertuju pada dua sosok megah yang mencuri perhatian: dua kereta pusaka milik Keraton Yogyakarta, yakni Kereta Londoner Surabaya dan Kereta Premili.
Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, dengan dukungan Pemerintah Daerah DIY, kembali menghadirkan Kirab Trunajaya, salah satu tradisi yang menjadi simbol kehormatan dan kelestarian budaya Jawa.
Namun, kirab kali ini tampil istimewa, dua kereta yang sudah lebih dari satu dekade tidak keluar dari kandangnya akhirnya kembali menapak jalanan Yogyakarta.
Dua Kereta Pusaka yang Kembali Menyapa Rakyat
Abdi Dalem Kridhamardawa Keraton Yogyakarta, MB Renggowaditro, tampak bersemangat di sela-sela persiapan kirab. Dengan mata berbinar, ia menjelaskan makna hadirnya dua kereta pusaka itu.
“Kedua kereta ini terakhir keluar sekitar 12–13 tahun lalu. Kami memilih keduanya karena ceritanya sejalan dengan kisah Beksan Trunajaya. Kereta Londoner akan dinaiki oleh Tumenggung, pemimpin beksan, sementara Kereta Premili dinaiki oleh para penari dan pelatih tari,” ujarnya.
Kereta Londoner meluncur gagah di barisan depan, memimpin iring-iringan abdi dalem dan sentana dalem. Sementara itu, Kereta Premili menutup barisan dengan keanggunannya.
Roda-rodanya yang kokoh berputar perlahan di antara riuh tepuk tangan warga dan wisatawan yang berjubel di sepanjang Malioboro.
Tahun ini, jumlah peserta kirab meningkat signifikan. Jika tahun sebelumnya hanya sekitar 50 paraga, kini lebih dari 80 abdi dalem turut serta.
Selain itu, kolaborasi besar dengan prajurit masyarakat dari seluruh kabupaten dan kota di DIY menjadikan jumlah total peserta mencapai 300 orang.
“Melibatkan masyarakat ini sebuah kebahagiaan. Kami ingin budaya Keraton tidak hanya hidup di dalam tembok istana, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat. Keraton adalah akar, namun seluruh warga adalah batang dan ranting yang menjaganya tetap hidup,” tutur Renggowaditro, yang akrab disapa Talcha.
Persembahan untuk Sultan dan Yogyakarta
Kirab Trunajaya kali ini bukan sekadar pementasan budaya, melainkan bagian dari peringatan Tingalan Dalem Taun Sri Sultan Hamengku Buwono X, yaitu ulang tahun kelahiran Gubernur DIY menurut penanggalan Jawa.
Abdi Dalem Radyakartiyasa dari bidang wisata menjelaskan perbedaannya dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu, kirab ini menjadi bagian dari peringatan Tingalan Jumenengan Dalem, yaitu saat Sultan bertahta.
“Tahun ini berbeda, karena memperingati kelahiran beliau. Namun semangatnya tetap sama — persembahan bakti, doa, dan penghormatan,” jelasnya.
Kirab berangkat dari halaman Gedung DPRD DIY, melintasi Malioboro yang penuh sesak, hingga berakhir di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Di sepanjang jalan, masyarakat tak henti-henti mengabadikan momen langka ini dengan kamera ponsel mereka.
Suasana pun penuh haru dan kebanggaan. Masyarakat dan wisatawan tumpah ruah di trotoar, menikmati suasana yang seolah membawa mereka melintasi waktu.
Salah satu penonton, Widya (27), warga Salatiga, tak menyangka bisa menyaksikan langsung kirab yang megah ini. Ia awalnya hanya ingin menikmati suasana Malioboro sore itu bersama teman.
“Ternyata malah beruntung bisa menonton kirab. Ini pengalaman yang tidak akan terlupakan,” ujarnya.
Komitmen Melestarikan Warisan Adiluhung
Penyelenggaraan Kirab dan Beksan Trunajaya menjadi wujud nyata komitmen Keraton Yogyakarta dalam melestarikan adat dan seni adiluhung Jawa.
Setiap langkah para penari, setiap hentakan gamelan, dan setiap roda kereta yang berputar membawa pesan yang sama: budaya tidak boleh diam, harus terus bergerak dan hidup di tengah masyarakat.
Kirab ini bukan sekadar perayaan ulang tahun Sultan. Lebih dari itu, ia merupakan ikrar budaya, pengikat antara masa lalu dan masa depan Yogyakarta.
Di bawah langit senja yang mulai memerah, dua kereta pusaka itu bukan hanya berjalan di atas jalanan kota, tetapi juga melintas di atas waktu, menghubungkan kejayaan sejarah dengan semangat masa kini.
Dan di antara gemuruh tepuk tangan warga, Keraton Yogyakarta sekali lagi membuktikan bahwa tradisi bukan masa lalu yang beku, melainkan denyut nadi yang terus berdetak di jantung kebudayaan Jawa.