Kabar Jawa – Pembangunan Embung Kaliombo di Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memasuki tahap lanjutan dengan progres fisik mencapai 77 persen hingga pertengahan Oktober 2026. Infrastruktur senilai sekitar Rp22 miliar ini ditargetkan selesai pada 30 Desember 2026 untuk mendukung ketersediaan air baku dan kebutuhan irigasi pertanian.
Proyek yang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan air di Kabupaten Rembang, terutama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Air Tanah dan Air Baku (ATAB) BBWS Pemali Juana, Aji Widyamatmoko, mengatakan pembangunan embung ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ketersediaan air.
Menurut Aji, pembangunan Embung Kaliombo telah lama dinantikan karena memiliki peran strategis bagi wilayah sekitarnya.
Embung Kaliombo dirancang memiliki kapasitas tampung sekitar 176.000 meter kubik dengan luas genangan mencapai 86.000 meter persegi atau setara 8,6 hektare. Bangunan utamanya memiliki tinggi sekitar 10 meter.
Ketika beroperasi, embung ini diproyeksikan mampu menyediakan air baku dengan debit 11 liter per detik. Selain itu, keberadaannya direncanakan dapat mendukung pengairan lahan pertanian di wilayah hilir seluas kurang lebih 14 hektare.
Dengan kapasitas tersebut, Embung Kaliombo diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air, khususnya ketika kebutuhan masyarakat dan pertanian meningkat.
Kawasan embung juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata setelah seluruh pembangunan selesai dan fasilitasnya siap digunakan.
Dari sisi pelaksanaan, pembangunan Embung Kaliombo menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan rencana awal. Realisasi fisik sebesar 77 persen mencatatkan deviasi positif 7,19 persen dari jadwal yang ditetapkan.
Aji menyebut dukungan Pemerintah Kabupaten Rembang turut membantu kelancaran pekerjaan di lapangan.
Sejumlah pekerjaan utama juga telah diselesaikan, termasuk penimbunan tubuh embung dan perlindungan lereng. Penutupan saluran pengelak turut dilakukan sebagai bagian dari tahapan konstruksi menuju pengoperasian embung.
Dengan perkembangan tersebut, embung diharapkan mulai menampung air ketika hujan turun.
Meski demikian, proses pengisian hingga mencapai ketinggian operasional maupun kapasitas penuh tetap bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.
Berdasarkan perkiraan pelaksana proyek dengan mempertimbangkan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pengisian air diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk mencapai ketinggian operasional di bangunan pengambilan air.
Sementara itu, untuk mencapai kapasitas tampung penuh, diperlukan waktu sekitar enam hingga delapan bulan, bergantung pada kondisi curah hujan.
Di tengah progres pembangunan yang terus berjalan, pekerjaan jaringan pipa transmisi sepanjang 3,4 kilometer masih menjadi salah satu bagian yang perlu dituntaskan.
Sebagian jalur pipa tersebut melintasi jalan nasional sehingga pelaksanaannya memerlukan rekomendasi teknis dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
Aji mengatakan proses pengurusan rekomendasi teknis masih berlangsung. Pihaknya berharap persyaratan tersebut dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026 agar pemasangan jaringan pipa transmisi bisa dituntaskan pada awal November.
Penyelesaian jaringan pipa menjadi bagian penting agar infrastruktur pendukung embung dapat berfungsi sesuai perencanaan.
Dengan target penyelesaian pada akhir Desember 2026, pembangunan Embung Kaliombo diharapkan segera memasuki tahap berikutnya hingga siap mendukung kebutuhan air baku dan irigasi.
Keberadaan embung ini diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kabupaten Rembang, terutama dalam memperkuat ketahanan air serta mendukung keberlanjutan kegiatan pertanian di wilayah sekitarnya.