
KabarJawa.com – Dalam sebuah ulasan mendalam mengenai Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, M. Nur Kholis Setiawan memaparkan pelajaran penting mengenai tata krama seorang hamba di hadapan Allah SWT. Pada ulasan Hikmah ke-21 tersebut, terdapat sebuah pesan yang cukup tajam namun halus mengenai perilaku manusia yang sering kali terlalu banyak menuntut dalam doa-doanya. Menurut M. Nur Kholis Setiawan, tindakan menuntut secara berlebihan kepada Sang Pencipta justru mencerminkan adanya benih kecurigaan atau kurangnya rasa percaya hamba terhadap anugerah Tuhan.
Ulasan ini menjadi cermin bagi setiap penempuh jalan spiritual (salik) untuk mengevaluasi kualitas hubungan mereka dengan Allah. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa sering kali manusia terjebak dalam daftar permintaan yang panjang tanpa menyadari posisi dan hakikat Allah sebagai Dzat Yang Maha Memberi.
Hakikat Tuntutan dalam Doa dan “Ittiham”
Dalam videonya, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan makna dari kalimat Tollabu caminho itti hammun lahu. Kalimat ini secara eksplisit menyindir hamba yang selalu menuntut Allah agar memenuhi keinginannya seolah-olah Allah lalai atau tidak akan memberikan apa yang dibutuhkan hambanya. Terkait hal ini, M. Nur Kholis Setiawan memberikan pernyataan tegas:
“Permintaanmu terhadap Allah, tuntutanmu terhadap Allah itu artinya kamu curiga kepada Allah, seolah-olah Allah tidak memberikan anugerah kepada kita.”
Kecurigaan ini, menurut M. Nur Kholis Setiawan, timbul karena hamba merasa bahwa jika tidak diminta berulang kali dengan cara menuntut, Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya. Padahal, Allah telah memberikan jaminan rezeki dan anugerah kepada setiap makhluk-Nya. Sikap menuntut berlebihan ini dipandang sebagai bentuk ketidaksopanan spiritual karena seolah-olah mengintervensi otoritas Tuhan yang sudah mengatur segalanya dengan sempurna.
Analogi Anak Kecil: Ketidakyakinan pada Sang Pemberi
Untuk memudahkan pemahaman, M. Nur Kholis Setiawan menggunakan analogi yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yakni perilaku seorang anak kecil yang terus-menerus meminta sesuatu kepada orang tuanya. Tindakan meminta berkali-kali dalam satu waktu menunjukkan bahwa si anak tidak percaya bahwa orang tuanya akan memenuhi permintaan tersebut.
“Jangan kita seperti berlaku seperti anak kecil seolah-olah kita nggak percaya bapak kita akan memberikan es, padahal kita itu (meminta) lima kali mintanya. Itu logikanya seperti itu ketika kita banyak melakukan permintaan atau tuntutan kepada Allah,” ungkapnya.
Melalui analogi ini, M. Nur Kholis Setiawan ingin menyampaikan bahwa seorang hamba yang dewasa secara spiritual seharusnya memiliki keyakinan penuh bahwa Allah Maha Tahu atas segala kebutuhan hamba-Nya tanpa harus didesak melalui tuntutan yang melampaui batas tata krama.
Mengalihkan Tuntutan Menjadi Amal Sholeh
Daripada menyibukkan diri dengan memanjatkan daftar tuntutan duniawi yang tak kunjung usai, M. Nur Kholis Setiawan menyarankan agar seorang hamba lebih fokus pada peningkatan kualitas amal perbuatan. Baginya, kesibukan dalam melakukan kebaikan jauh lebih utama dan lebih menunjukkan kualitas seorang hamba yang mengenal Tuhannya.
“Seorang salik ini ndak usah menyibukkan diri dengan banyak permintaan, sibukkanlah dengan amal-amal perbuatan, dengan aktivitas-aktivitas positif,” tegasnya.
Aktivitas positif ini tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup dedikasi dalam profesi masing-masing. M. Nur Kholis Setiawan memberikan contoh bahwa seorang aparatur sipil negara (ASN) harus menjadikan otoritasnya sebagai sarana ibadah dengan membantu masyarakat, atau seorang pengusaha yang bisnisnya bertujuan untuk memberdayakan dan menyejahterakan orang lain. Dengan menyibukkan diri pada hal-hal bermanfaat, seorang hamba secara otomatis sedang “mengetuk pintu” rahmat Allah tanpa perlu terjebak dalam sikap menuntut yang tercela.
Kedekatan yang Sudah Hadir
Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan menyentuh aspek lain dari tuntutan hamba, yaitu permintaan agar “didekatkan” kepada Allah. Secara logika tasawuf, memohon untuk didekatkan justru menyiratkan pandangan bahwa Allah itu jauh. Padahal, Allah senantiasa hadir dan lebih dekat dari apa pun.
Guru Besar tersebut mengajak para penyimak untuk memperhalus budi dan rasa agar mampu menyadari kehadiran Tuhan setiap saat. Dengan menyadari bahwa Allah sudah sangat dekat, maka tuntutan-tuntutan yang didasari rasa khawatir akan masa depan atau rezeki seharusnya sirna, berganti dengan sikap ridha dan kepasrahan yang aktif melalui ikhtiar yang proporsional.
Melalui penjelasan Hikmah 21 ini, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa inti dari spiritualitas adalah tahu diri dan menjaga etika di hadapan Sang Pencipta. Berdoa sangat dianjurkan, namun doa tersebut harus dilandasi oleh rasa syukur dan kepercayaan penuh, bukan oleh kecurigaan yang dibungkus dalam bentuk tuntutan berlebihan.***