
KabarJawa.com – Dalam sebuah ulasan mendalam mengenai spiritualitas Islam, pakar studi Islam M. Nur Kholis Setiawan membedah materi krusial dari Kitab Al-Hikam hikmah ke-76. Fokus utama pembahasan kali ini adalah mengenai cara manusia mengidentifikasi posisi mereka di hadapan Allah SWT, khususnya perbedaan mendasar antara kelompok makbulin (mereka yang diterima) dan kelompok muqorabin (mereka yang didekatkan).
Menurutnya, pemahaman ini sangat penting bagi setiap individu untuk melakukan introspeksi diri terhadap “pangkat” spiritual yang mereka emban saat ini.
Indikator Makbulin: Kesalehan Sosial dan Lingkungan yang Kondusif
Dalam penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan memaparkan bahwa kelompok makbulin umumnya merujuk pada kalangan awam atau masyarakat umum yang berada pada jalur kebaikan. Indikator utama bagi kelompok ini bersifat lahiriah, yakni dilihat dari bagaimana Allah menempatkan (yukimuka) seseorang dalam rutinitas dan lingkungan sosialnya,. Jika seseorang merasa dimudahkan untuk berada di lingkungan yang baik dan memiliki kebiasaan positif, maka itu adalah tanda ia termasuk golongan yang diterima dan berbahagia (asuada).
Ia menekankan bahwa bagi kelompok ini, ketaatan adalah buah dari lingkungan yang mendukung. Sebaliknya, mereka yang tertolak atau tidak bahagia biasanya disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat karena faktor pergaulan atau milieu yang tidak kondusif.
“Ketika kehidupan kita ini ternyata berada dalam satu milieu, dalam satu suasana kumpul dengan orang-orang baik lalu memiliki hobi, memiliki kebiasaan untuk juga berbuat baik begitu ya, maka Insyaallah kita termasuk orang-orang yang kabul atau orang yang diterima di sisi Allah,” ujar Prof. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan ciri kelompok makbulin.
Kedudukan Muqorabin: Kehadiran Allah di Dalam Hati
Berbeda dengan kelompok makbulin, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa kelompok muqorabin berada pada level khos atau khusus. Perbedaan mendasarnya terletak pada kedalaman hubungan batin. Jika makbulin diukur dari aktivitas fisik dan lingkungan, maka muqorabin diukur dari sejauh mana hati mereka mampu menemukan kemahakuasaan Allah dalam setiap keadaan.
Indikator bagi kaum muqorabin adalah intensitas kehadiran Allah di dalam hati mereka. Kelompok ini tidak hanya sekadar melakukan ketaatan secara formal, tetapi telah mencapai derajat di mana Allah menjadi pusat dari segala kesadarannya. Hal ini merujuk pada kaidah bahwa kedudukan seorang hamba di sisi Allah setara dengan bagaimana hamba tersebut menempatkan Allah dalam hatinya.
“Bagaimana kehadiran Allah dalam diri kita dalam hati kita, bagaimana keberadaan Allah dalam hati kita ini yang menjadi indikator yang menjadi tolak ukur bagi orang yang khost tadi itu,” tegas M. Nur Kholis Setiawan mengenai kelompok muqorabin.
Perbedaan Fundamental: Antara ‘Diterima’ dan ‘Didekatkan’
Poin krusial yang digarisbawahi oleh M. Nur Kholis Setiawan adalah dampak dari kedua kedudukan ini terhadap perilaku harian. Bagi kelompok muqorabin, kehadiran Tuhan yang konstan dalam hati berfungsi sebagai “rem” otomatis terhadap perbuatan maksiat. Mereka tidak akan merasa bahagia atau ringan saat melakukan kesalahan karena adanya kesadaran ketuhanan yang sangat kuat.
Sementara itu, bagi kelompok makbulin, ketaatan masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan. Namun, beliau menekankan bahwa menjadi bagian dari kelompok makbulin adalah ambisi minimal yang harus dimiliki setiap mukmin agar tidak tergolong sebagai orang yang celaka atau tertolak.
“Makin banyak makin intensif Allah hadir dalam hati kita maka kita Insyaallah termasuk orang-orang yang muqarabin,” tambah M. Nur Kholis Setiawan sebagai penutup ulasannya mengenai derajat kedekatan dengan Sang Pencipta.
Relevansi bagi Kehidupan Modern
Melalui penjelasan ini, M. Nur Kholis Setiawan mengajak masyarakat untuk tidak sekadar terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Dengan memahami apakah kita berada di jalur makbulin atau muqorabin, seseorang dapat lebih terarah dalam memperbaiki kualitas spiritualnya. Beliau menyarankan agar setiap individu mulai memperhatikan dengan siapa mereka bergaul dan apa yang paling sering mendominasi pikiran serta hati mereka setiap harinya sebagai bahan evaluasi diri yang komprehensif.
Kesimpulannya, perbedaan antara makbulin dan muqorabin adalah transisi dari kesalehan yang berbasis lingkungan menuju kesalehan yang berbasis kesadaran hati yang mendalam.