
KabarJawa.com – Bahasa Jawa dikenal sebagai bahasa yang sangat kaya akan kosakata dan tingkatan tutur. Selain tingkatan Ngoko dan Krama, kekayaan Bahasa Jawa juga terlihat dari ragam gaya bahasanya, salah satunya adalah Tembung Entar.
Sering kali kita mendengar istilah seperti “Enthengan tangan” untuk menyebut orang yang rajin menolong. Nah, istilah tersebut adalah salah satu contoh dari Tembung Entar.
Bagi Anda yang sedang belajar Bahasa Jawa atau ingin memperdalam wawasan budaya, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut penjelasan lengkap soal Tembung Entar.
Apa Itu Tembung Entar?
Tembung Entar adalah kata-kata dalam Bahasa Jawa yang memiliki arti kiasan atau makna konotatif (bukan arti sebenarnya).
Sederhananya, dalam Bahasa Indonesia, ini sama dengan konsep “Kata Kiasan” atau ungkapan. Kata-kata ini dipinjam maknanya untuk menggambarkan sifat, kondisi, atau situasi tertentu secara tidak langsung.
Masyarakat Jawa, yang menjunjung tinggi etika dan kesopanan, sering menggunakan Tembung Entar sebagai sarana komunikasi yang halus.
Fungsi Tembung Entar
Penggunaan Tembung Entar dalam kehidupan sehari-hari bukan tanpa alasan. Berikut beberapa fungsinya.
Sindiran Halus
Masyarakat Jawa cenderung menghindari konflik terbuka. Sehingga, Tembung Entar sering kali digunakan untuk menyindir atau menegur seseorang tanpa harus menyinggung perasaannya secara kasar.
Penekanan Makna
Memberikan gambaran yang lebih kuat dan dramatis tentang suatu kondisi emosi (misalnya: daripada bilang “marah”, digunakan istilah “telinganya merah”).
Estetika Bahasa
Kemudian, penggunaan Tembung Entar juga akan membuat percakapan menjadi lebih hidup, “berasa” (nges), dan tidak monoton.
Macam-macam Tembung Entar dan Artinya
Berikut adalah daftar Tembung Entar yang paling sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, beserta makna harfiah dan kiasannya:
Menggambarkan Emosi & Perasaan
- Abang kupinge (Merah telinganya) = Sangat marah.
- Runtuh atine (Runtuh hatinya) = Merasa iba atau timbul belas kasihan.
- Sesak dhadhane (Sesak dadanya) = Merasa jengkel, kecewa, atau sakit hati.
- Cilik atine (Kecil hatinya) = Khawatir, takut, atau berkecil hati/minder.
- Jembar polatane (Luas pandangannya/wajahnya) = Wajah yang ceria, ramah, atau sabar.
- Gadho ati (Memakan hati) = Membuat susah hati orang lain.
Menggambarkan Sifat & Karakter
- Dhuwur atine (Tinggi hatinya) = Sombong atau angkuh.
- Enthengan tangan (Ringan tangan) = Suka menolong/rajin bekerja.
- Mata dhuwitan (Mata uang) = Serakah atau materialistis.
- Empuk rembuge (Empuk bicaranya) = Tutur katanya manis dan enak didengar.
- Lunis ilate (Tidak bertulang lidahnya) = Mencla-mencle atau perkataannya tidak bisa dipegang.
Menggambarkan Kondisi Sosial
- Ngekep dhengkul (Memeluk lutut) = Menganggur atau tidak punya pekerjaan.
- Bau tengen (Bahu kanan) = Orang kepercayaan (tangan kanan).
- Oleh wirang (Dapat malu) = Mendapat aib atau dipermalukan.
- Pecah pamore (Pecah sinarnya) = Mulai menginjak dewasa (biasanya untuk gadis) atau pesonanya mulai terlihat.
Kata Kiasan
Jadi kesimpulannya, Tembung Entar adalah gabungan kata dalam Bahasa Jawa yang tidak bisa diartikan secara harfiah, melainkan mengandung makna kiasan.
Contoh yang paling mudah diingat adalah “Abang Kupinge” yang berarti marah, dan “Dhuwur Atine” yang berarti sombong.
Dengan memahami Tembung Entar, maka kita bisa berkomunikasi dengan rasa bahasa yang lebih halus serta menyatu dengan budaya Jawa.***