
Yogyakarta, KabarJawa.com – Hari kedua ASEACCU 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar gagasan tentang pendidikan, kesehatan, dan masa depan generasi muda. Para delegasi juga diajak mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia melalui pertunjukan Ramayana Ballet di kawasan Candi Prambanan.
Rangkaian 32nd Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities (ASEACCU) General Assembly and Conference 2026 berlangsung di Auditorium Kampus 2 Gedung St. Thomas Aquinas, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Kamis (20/8/2026).
UAJY bersama Universitas Sanata Dharma (USD) menjadi tuan rumah konferensi yang mengusung tema “Education, Hope, and Human Flourishing: Fostering Intercultural Encounter and Dialogue.” Forum tersebut mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, akademisi, mahasiswa, serta perwakilan universitas Katolik dari berbagai negara di Asia.
Dari Makanan hingga Kesehatan, Membaca Makna Human Flourishing
Salah satu agenda utama hari kedua adalah keynote speech yang membahas bagaimana komunitas dan manusia dapat berkembang secara utuh.
Sejarawan Hilmar Farid, Ph.D. menjadi pembicara dalam sesi “Flourishing Community”. Ia menggunakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yakni makanan, untuk menjelaskan bagaimana sebuah komunitas terbentuk dan berkembang.
Menurut Hilmar, makanan tidak sekadar berkaitan dengan kebutuhan biologis. Di dalamnya terdapat hubungan antara tubuh manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam, proses produksi dengan kebudayaan, hingga kebutuhan masa kini dengan keberlangsungan generasi berikutnya.
Pembahasan mengenai kesejahteraan manusia kemudian berlanjut melalui keynote speech “Integral Health (Holistic Flourishing)” yang disampaikan Prof. Clara R.P. Ajisukmo.
Ia menekankan bahwa kesehatan seharusnya dipahami secara lebih luas daripada sekadar kondisi bebas penyakit. Kesehatan mencakup berbagai aspek kehidupan yang saling berhubungan, mulai dari tubuh, pikiran, relasi sosial, tujuan hidup, penggunaan teknologi, hingga lingkungan.
Enam dimensi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang sehat secara menyeluruh.
Pandangan serupa muncul dalam panel discussion III bertajuk “Hope, Education, and Health.” Adenta Schrabelia Priyatmoko, mahasiswa Universitas Sanata Dharma, menyoroti perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dalam pelayanan kesehatan.
Ia mengingatkan bahwa pasien tidak seharusnya dipandang sebatas diagnosis, resep, maupun hasil pemeriksaan klinis. Proses penyembuhan juga berkaitan dengan upaya mengembalikan martabat, kemandirian, serta harapan seseorang.
Adenta juga menyoroti posisi teknologi dalam pelayanan kesehatan. Menurutnya, kemajuan teknologi semestinya menjadi alat yang memperkuat pelayanan kepada manusia, bukan mengambil alih sisi kemanusiaan di dalamnya.
Ia kemudian menutup pemaparannya dengan filosofi Jawa “urip iku urup”, yang dimaknai sebagai ajakan untuk menjalani kehidupan dengan memberikan manfaat dan kehidupan bagi orang lain.
Mahasiswa Diposisikan sebagai Harapan Masa Depan

Pembahasan berlanjut dalam panel discussion IV bertajuk “Sharing from University Representatives.” Perwakilan perguruan tinggi dari Indonesia, Timor Leste, Filipina, dan Australia berbagi pandangan mengenai persoalan yang dihadapi generasi muda.
Isu kesehatan mental, perundungan siber, penggunaan media sosial, hingga hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat menjadi sejumlah topik yang dibicarakan.
Rev. Fr. Isaias Abilio Caldas dari Instituto São João de Brito menekankan perlunya dukungan yang lebih proaktif bagi kaum muda. Sementara itu, Rev. Fr. Roderick G. Villamar, Ph.D., CICM dari Saint Louis College of San Fernando, La Union mendorong semakin banyak pengalaman belajar yang membawa mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk mendengarkan pengalaman masyarakat dan memahami persoalan yang mereka hadapi secara langsung.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Dr. Christopher James Riley, Pro Vice Chancellor Recruitment and Marketing University of Notre Dame Australia. Ia menilai mahasiswa mempunyai posisi strategis dalam menentukan arah masa depan.
Riley mendorong perguruan tinggi membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk membangun jejaring, bekerja sama lintas institusi, serta menghasilkan gagasan yang lahir dari pengalaman dan penelitian.
Setelah rangkaian diskusi, agenda ASEACCU 2026 dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antarpeserta perguruan tinggi. Kerja sama tersebut menjadi langkah untuk memperkuat jaringan universitas Katolik di kawasan Asia.
Saat Forum Akademik Berubah Menjadi Perayaan Budaya
Hari kedua ASEACCU 2026 kemudian mengambil suasana yang berbeda. Mahasiswa dari negara-negara peserta tampil dalam sesi student performances dengan membawa kesenian yang mencerminkan identitas budaya masing-masing.
Pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Keragaman seni menjadi medium bagi para delegasi untuk saling mengenal sekaligus menemukan titik temu di tengah perbedaan latar belakang budaya.
Pengalaman lintas budaya itu kemudian berlanjut ketika para delegasi mengunjungi kawasan Candi Prambanan untuk menyaksikan Ramayana Ballet.
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu cara tuan rumah memperkenalkan seni pertunjukan Indonesia kepada peserta internasional. Setelah seharian berdiskusi mengenai pendidikan, kesehatan, dan tantangan generasi muda, para delegasi memperoleh kesempatan menikmati kisah epik Ramayana dalam kemasan seni pertunjukan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta.
Rangkaian hari kedua ditutup dengan Gala Dinner di Pendopo Ayem Tentrem, Kalasan.
Kim Min-gyu dari Sogang University, Korea Selatan, menjadi salah satu delegasi yang memberikan kesan terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai keseluruhan agenda hari kedua, mulai dari diskusi, panel, penampilan mahasiswa hingga makan malam, memberikan pengalaman yang berkesan.
Dengan demikian, ASEACCU 2026 tidak berhenti sebagai forum akademik. Pertemuan ini juga menjadi ruang untuk membangun jejaring, mempertemukan perspektif lintas negara, dan membuka percakapan mengenai bagaimana pendidikan dapat berkontribusi pada kehidupan manusia yang lebih utuh.
Perpaduan antara diskusi akademik dan pengalaman budaya menunjukkan bahwa dialog lintas budaya dapat dibangun bukan hanya melalui ruang konferensi, tetapi juga lewat seni, interaksi, dan pengalaman bersama.***