
KabarJawa.com – Nilai pendidikan dalam budaya Jawa tidak hanya bisa dipelajari melalui buku pelajaran.
Banyak nilai yang jutsru tumbuh dari kebiasaan sederhana di rumah, seperti cara berbicara kepada orang yang lebih tua, menghargai orang lain, membantu tetangga, hingga belajar mengendalikan diri.
Budaya Jawa memiliki banyak konsep yang berkaitan dengan pembentukan watak dan budi pekerti.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bahkan memasukkan nilai seperti tata krama atau unggah-ungguh, rendah hati, dan ngajeni dalam Pendidikan Khas Kejogjaan.
Nilai-nilai tersebut diarahkan untuk membentuk jalma kang utama, atau manusia yang memiliki karakter baik.
Karena itu, mengenalkan budaya Jawa kepada anak tidak harus selalu melalui pelajaran sejarah atau hafalan istilah. Orang tua bisa memulainya dari aktivitas sehari-hari.
10 Nilai Pendidikan Jawa yang Bisa Diajarkan Kepada Anak
1. Unggah-Ungguh: Mengajarkan Anak Bersikap Sopan
Salah satu nilai paling mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat Jawa adalah unggah-ungguh.
Unggah-ungguh berkaitan dengan tata krama dalam berbicara dan bersikap.
Anak dapat belajar bahwa cara berbicara kepada teman sebaya tentu berbeda dengan ketika berbicara kepada orang tua atau orang yang lebih dihormati.
Dinas Kebudayaan DIY menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa Jawa perlu mengajarkan unggah-ungguh sebagai bagian dari penanaman kesantunan dan budi pekerti.
Contoh penerapannya:
- Membiasakan anak mengucapkan matur nuwun ketika menerima sesuatu.
- Mengucapkan nyuwun pangapunten ketika melakukan kesalahan.
- Menggunakan bahasa yang lebih sopan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.
- Membiasakan anak menyapa kakek, nenek, guru, dan tetangga.
2. Ngajeni: Belajar Menghormati Orang Lain
Dalam budaya Jawa dikenal konsep ngajeni, yakni memberikan penghormatan dan penghargaan kepada orang lain.
Nilai ini tidak berarti anak harus selalu mengiyakan perkataan orang yang lebih tua.
Lebih dari itu, anak diajak memahami bahwa setiap orang pantas diperlakukan dengan hormat.
Dalam Pendidikan Khas Kejogjaan, ngajeni menjadi salah satu nilai utama yang diterapkan melalui kebiasaan seperti nuwun sewu, nyuwun pangapunten, matur nuwun, dan monggo.
Contoh penerapannya:
- mengajarkan anak untuk mendengarkan ketika orang lain berbicara dan tidak memotong pembicaraan.
3. Andhap Asor: Tidak Sombong
Andhap asor bisa dipahami sebagai sikap rendah hati.
Anak perlu memahami bahwa memiliki prestasi, kemampuan, atau barang yang lebih baik daripada orang lain bukan alasan untuk merendahkan teman.
Dinas Kebudayaan DIY menyebut andhap asor sebagai salah satu karakter yang ditekankan dalam Pendidikan Khas Kejogjaan untuk membentuk pribadi yang baik.
Contoh penerapannya:
- ketika anak mendapat nilai bagus, orang tua bisa mengajaknya bersyukur sekaligus mengingatkan agar tidak mengejek teman yang nilainya lebih rendah.
4. Rukun: Belajar Menjaga Hubungan Baik
Nilai rukun juga penting dikenalkan kepada anak.
Rukun berarti berusaha menjaga hubungan tetap harmonis, termasuk ketika ada perbedaan pendapat.
Dalam tradisi dan kehidupan masyarakat Jawa, kerukunan berkaitan erat dengan kebersamaan.
Dinas Kebudayaan DIY mencatat nilai rukun dan gotong royong sebagai bagian dari nilai sosial yang terlihat dalam tradisi masyarakat Yogyakarta.
Contoh penerapannya:
- mengajarkan anak menyelesaikan perselisihan dengan berbicara baik-baik, bukan dengan saling mengejek atau memukul.
5. Gotong Royong: Tidak Hidup Sendiri
Gotong royong merupakan nilai yang sangat relevan untuk pendidikan anak.
Anak perlu belajar bahwa pekerjaan tertentu akan lebih mudah ketika dilakukan bersama-sama.
Dari sini, mereka belajar berbagi tugas, membantu orang lain, dan tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi.
Dinas Kebudayaan DIY mencatat gotong royong sebagai salah satu nilai yang terus dipelihara dalam tradisi masyarakat Yogyakarta.
Contoh penerapannya:
- Membersihkan rumah bersama keluarga.
- Membantu tetangga ketika ada kegiatan.
- Berbagi tugas ketika mengerjakan pekerjaan kelompok.
- Membantu teman yang kesulitan.
6. Tepa Selira: Belajar Memahami Perasaan Orang Lain
Tepa selira berkaitan dengan kemampuan mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain sebelum bertindak.
Nilai ini penting karena anak perlu memahami bahwa kebebasan melakukan sesuatu tetap memiliki batas ketika tindakannya merugikan orang lain.
Contoh penerapannya:
- sebelum membuat lelucon tentang teman, anak diajak berpikir apakah candaan tersebut bisa membuat orang lain malu atau tersinggung.
7. Sabar: Tidak Mudah Bereaksi
Kesabaran juga menjadi nilai penting dalam pendidikan karakter Jawa.
Anak tidak harus selalu mendapatkan apa yang diinginkannya saat itu juga.
Mereka dapat dilatih menunggu giliran, menyelesaikan tugas sampai selesai, dan tidak langsung marah ketika menghadapi masalah.
Dinas Kebudayaan DIY menyebut kesabaran dan pengendalian diri sebagai nilai yang dapat ditanamkan melalui kesenian dan kebudayaan Jawa.
Contoh penerapannya:
- ketika anak kalah dalam permainan, orang tua mengajarkan cara menerima hasil permainan dan mencoba lagi tanpa menyalahkan orang lain.
8. Tanggung Jawab: Menyelesaikan Apa yang Sudah Dimulai
Budaya Jawa juga mengenalkan pentingnya tanggung jawab.
Anak bisa mulai belajar dari hal yang sangat sederhana. Misalnya, setelah bermain, ia bertanggung jawab merapikan mainannya sendiri.
Dalam pembelajaran berbasis budaya Jawa, nilai tanggung jawab termasuk karakter yang dapat ditanamkan melalui kegiatan seni, cerita, dan pembiasaan.
Contoh penerapannya:
- anak diberi tugas rutin di rumah sesuai usia, seperti merapikan tempat tidur atau menyimpan sepatu pada tempatnya.
9. Kejujuran: Berkata Apa Adanya
Kejujuran merupakan nilai yang dapat ditemukan dalam pendidikan karakter berbasis budaya Jawa.
Kajian mengenai pendidikan karakter berbasis budaya Jawa di TK Negeri Pembina Surakarta mencatat kejujuran sebagai salah satu nilai yang ditanamkan kepada peserta didik bersama dengan kerendahan hati, kedisiplinan, kesopanan, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab.
Penerapannya bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya, ketika anak tidak sengaja memecahkan gelas, orang tua mendorongnya berkata jujur dan bertanggung jawab membersihkan pecahannya dengan bantuan orang dewasa.
10. Mawas Diri: Belajar Mengoreksi Diri
Nilai terakhir yang tidak kalah penting adalah mawas diri, yaitu kemampuan melihat dan mengevaluasi diri sendiri.
Anak belajar bahwa sebelum menyalahkan orang lain, ia juga perlu bertanya: apakah dirinya melakukan kesalahan?
Konsep ini penting untuk membentuk anak yang tidak mudah menyalahkan keadaan.
Contoh penerapannya:
setelah bertengkar dengan teman, orang tua tidak hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga, “Menurut kamu, apa yang bisa kamu lakukan berbeda tadi?”
Cara Mengajarkan Nilai Budaya Jawa kepada Anak
Mengenalkan nilai budaya Jawa kepada anak sebaiknya dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan, bukan sekadar nasihat.
Penelitian yang tersimpan dalam repositori Kemendikbud menunjukkan bahwa penanaman unggah-ungguh dapat dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan.
Guru dan orang dewasa perlu memberikan contoh penggunaan bahasa dan perilaku yang sesuai agar anak dapat menirunya.
Orang tua dapat memulainya dari rutinitas sederhana sebagai berikut:
- Berikan contoh lebih dulu. Anak biasanya lebih mudah meniru perilaku yang dilihat setiap hari.
- Gunakan bahasa yang santun. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Jawa krama secara penuh; yang penting anak memahami konteks kesopanan.
- Jadikan kebiasaan sehari-hari sebagai media belajar.
- Gunakan cerita dan tembang dolanan. Dinas Kebudayaan DIY juga mendorong penggunaan lagu anak dan pembelajaran bahasa Jawa yang kontekstual.
- Jangan menjadikan budaya sebagai hafalan. Jelaskan makna di balik kebiasaan agar anak memahami alasan mengapa suatu sikap dianggap baik.
Pada akhirnya, nilai pendidikan dalam budaya Jawa tidak harus diajarkan melalui sesuatu yang rumit.
Mengucapkan matur nuwun, meminta maaf, menghormati orang yang lebih tua, membantu tetangga, mau berbagi tugas, berkata jujur, hingga belajar menahan emosi merupakan contoh pendidikan karakter yang bisa dimulai dari rumah.***