
KabarJawa.com – Mengapa bulan Sapar selalu dipenuhi tradisi selamatan di Jawa menjadi pertanyaan yang kerap muncul setiap kali masyarakat memasuki bulan kedua dalam kalender Jawa tersebut.
Sebagaimana diketahui, di berbagai daerah, mulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Jawa Tengah, bulan Sapar identik dengan kenduri, doa bersama, sedekah makanan, kirab budaya, hingga berbagai upacara adat yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Tradisi ini pun bukan sekadar agenda budaya tahunan. Bagi masyarakat Jawa, selamatan pada bulan Sapar memiliki makna mendalam sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, permohonan keselamatan, sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarsesama.
Karena itu, meski zaman terus berubah, berbagai tradisi Saparan masih terus dipertahankan dan bahkan menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Menurut Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Saparan merupakan upacara selamatan yang dilaksanakan pada bulan Sapar. Tradisi tersebut pun telah berkembang secara turun-temurun dan masih dijalankan oleh banyak masyarakat hingga sekarang.
Sejarah Selamatan Bulan Sapar Berasal dari Perpaduan Budaya Jawa dan Islam
Jejak sejarah tradisi Saparan tidak dapat dilepaskan dari proses akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam yang berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa.
Arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa istilah Saparan berasal dari Sapar yang merupakan penyebutan masyarakat Jawa terhadap bulan Safar dalam kalender Hijriah. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa Saparan merupakan upacara selamatan yang dilaksanakan setiap datangnya bulan Sapar.
Masuknya Islam ke tanah Jawa tidak menghapus tradisi lokal yang telah hidup sebelumnya. Sebaliknya, masyarakat memadukan nilai-nilai keagamaan dengan budaya yang sudah berkembang. Dari proses inilah lahir berbagai bentuk selamatan yang tetap mempertahankan ciri khas Jawa namun berisi nilai spiritual Islam.
Sejarah juga mencatat bahwa salah satu tradisi Saparan tertua berada di Ambarketawang, Gamping, Sleman. Arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menuliskan, pelaksanaan upacara tersebut bermula atas perintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Tradisi selamatan sendiri sebenarnya sudah lama dikenal dalam budaya Jawa. Data Warisan Budaya Indonesia mencatat, selamatan merupakan ritual syukuran yang dilakukan dalam berbagai peristiwa penting kehidupan. Kata selamatan* berasal dari bahasa Arab “salamah” yang berarti keselamatan atau kebahagiaan. Dalam praktiknya, masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama kemudian menikmati hidangan sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Karena itu, ketika bulan Sapar datang, masyarakat memaknainya sebagai momentum untuk memperbanyak doa demi keselamatan, memohon keberkahan rezeki, menjaga kesehatan, serta berharap terhindar dari berbagai musibah.
Keberlangsungan tradisi Saparan tidak hanya dipengaruhi faktor sejarah, tetapi juga karena memiliki fungsi sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat.
Selamatan menjadi media untuk mempererat hubungan antarwarga. Persiapan acara biasanya dilakukan secara gotong royong, mulai dari memasak hidangan, menyiapkan perlengkapan adat, hingga menyelenggarakan doa bersama. Aktivitas tersebut menciptakan ruang silaturahmi yang memperkuat rasa persaudaraan di lingkungan masyarakat.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal. Berbagai daerah di Jawa tetap mempertahankan prosesi Saparan sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Makna lainnya adalah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kehidupan sekaligus permohonan agar masyarakat diberi keselamatan, ketenteraman, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Karena memiliki nilai spiritual dan sosial sekaligus, tradisi ini tetap diterima lintas generasi.
Beberapa tradisi Saparan bahkan telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda karena dinilai memiliki nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang penting untuk dilestarikan.
Tradisi Selamatan Bulan Sapar yang Masih Dilestarikan di Jawa
Meskipun sama-sama dilaksanakan pada bulan Sapar, setiap daerah memiliki bentuk pelaksanaan yang berbeda sesuai sejarah dan budaya setempat.
1. Saparan Bekakak di Ambarketawang, Sleman
Inilah salah satu tradisi Saparan paling terkenal di Yogyakarta. Upacara Bekakak dilaksanakan setiap bulan Sapar dengan mengarak replika sepasang pengantin yang dibuat dari tepung ketan.
Bekakak kemudian disembelih secara simbolis sebagai bagian dari prosesi adat. Menurut Dinas Kebudayaan DIY, tradisi ini merupakan warisan sejak masa Pangeran Mangkubumi dan menjadi bentuk selamatan masyarakat Gamping.
2. Saparan Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten
Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masyarakat mengenal tradisi Yaa Qowiyyu yang dilaksanakan setiap bulan Safar.
Tradisi ini berasal dari dakwah Kyai Ageng Gribig yang membagikan apem kepada masyarakat sebagai simbol sedekah dan doa. Hingga kini, ribuan warga masih memperebutkan apem yang diyakini menjadi lambang keberkahan sekaligus media mempererat kebersamaan.
3. Upacara Rebo Wekasan di Hargowilis, Kokap, Kulon Progo
Masyarakat Hargowilis, Kulon Progo, masih mempertahankan tradisi Rebo Wekasan, yaitu selamatan yang dilakukan pada Rabu terakhir bulan Sapar.
Prosesi biasanya diawali doa bersama, tahlilan, kenduri, serta membawa hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini juga menjadi doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah.
4. Saparan Plampang di Kalirejo, Kulon Progo
Tradisi lain yang masih lestari berada di Kalirejo, Kulon Progo, melalui penyelenggaraan Saparan Plampang.
Warga mengadakan kenduri, membawa sesaji, membaca doa bersama, kemudian menikmati hidangan secara bersama-sama. Selain memohon keselamatan dan rezeki, kegiatan ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini membuka wilayah tersebut.
Di luar tradisi besar tersebut, banyak desa di Jawa masih melaksanakan selamatan sederhana saat bulan Sapar tiba. Bentuknya dapat berupa kenduri kampung, doa bersama di masjid atau balai desa, sedekah bumi, pembagian makanan kepada warga, hingga pengajian bersama.
Meski setiap daerah memiliki tata cara berbeda, tujuan utamanya tetap sama, yakni memohon keselamatan, mengucapkan syukur, dan menjaga keharmonisan masyarakat.
Hingga kini, Bulan Sapar tetap menjadi salah satu momentum budaya yang paling dinantikan masyarakat Jawa. Tradisi selamatan yang telah bertahan sejak masa Mataram menunjukkan bahwa budaya lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai utamanya.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, Saparan menjadi simbol kebersamaan, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta pengingat pentingnya menjaga hubungan baik dengan Tuhan dan sesama manusia.