
KabarJawa.com — John Tobing, musisi sekaligus aktivis pencipta lagu legendaris “Darah Juang”, meninggal dunia pada Rabu malam (25/2/2026) pukul 20.00 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM).
Kabar duka tersebut memunculkan sejumlah pernyataan belasungkawa, termasuk dari politikus PDI Perjuangan Ganjar Pranowo yang mengenal almarhum semasa aktif di Universitas Gadjah Mada (UGM).
John Tobing lahir pada 1 Desember 1965 dan dikenal luas sebagai pencipta lagu “Darah Juang”, yang menjadi himne perjuangan mahasiswa pada era reformasi 1998.
Lagu tersebut hingga kini masih dinyanyikan dalam berbagai aksi demonstrasi.
Ganjar menyebut John sebagai seniornya di UGM, terpaut satu tahun angkatan.
Ia mengenang sosok John sebagai figur penting dalam pergerakan mahasiswa pada masanya.
“Saya banyak belajar dari dia. Dia tokoh hebat. Dia tokoh pergerakan mahasiswa pada saat itu karena dia setahun di atas saya di UGM,” ujar Ganjar.
Peran dalam Pergerakan Mahasiswa
Ganjar menggambarkan situasi politik pada masa Orde Baru sebagai periode yang menempatkan gerakan mahasiswa dalam tekanan.
Dalam kondisi tersebut, ia menilai John Tobing tetap aktif menyuarakan aspirasi.
Menurut Ganjar, John menunjukkan konsistensi dalam membela kepentingan rakyat tanpa ragu.
“Pelajaran paling penting dari dia adalah membela rakyat dengan sungguh-sungguh, tanpa takut, tanpa malu, dan tidak ada rasa minder. Dia tampil sebagai seorang aktivis sejati,” kata Ganjar.
Ia menyebut aktivitas mahasiswa pada periode tersebut menghadapi risiko yang tidak ringan, sehingga keberanian menjadi bagian penting dalam setiap langkah gerakan.
“Darah Juang” dan Warisan Gerakan
Ganjar juga menyoroti penciptaan lagu “Darah Juang” oleh John Tobing.
Lagu tersebut lahir dalam konteks situasi politik yang dinamis dan kemudian dikenal luas sebagai simbol pergerakan mahasiswa.
“Dia paling berani sampai menciptakan lagu Darah Juang yang sekarang dinyanyikan para aktivis pembela rakyat,” ujarnya.
Pada era reformasi 1998, lagu tersebut kerap dinyanyikan dalam berbagai aksi demonstrasi.
Hingga saat ini, “Darah Juang” masih bergema dalam sejumlah aksi mahasiswa dan kegiatan yang berkaitan dengan isu sosial.
Bagi banyak aktivis, lantunan lagu tersebut menjadi bagian dari ekspresi solidaritas dan perjuangan kolektif.
Informasi Kesehatan Sebelum Wafat
Saat ditanya mengenai komunikasi terakhirnya dengan John Tobing, Ganjar menyampaikan bahwa sudah lama tidak berhubungan langsung.
Ia mengaku sebelumnya menerima informasi mengenai kondisi kesehatan John.
“Sudah lama sekali. Saya hanya diberitahu kalau dia kena stroke,” kata Ganjar.
John Tobing meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSA UGM.
Kepergiannya menambah daftar tokoh pergerakan mahasiswa era Orde Baru dan reformasi yang telah berpulang.
Pesan untuk Generasi Aktivis
Ganjar juga menyampaikan pesan kepada generasi aktivis saat ini agar menjalankan peran dengan mempertimbangkan integritas dan tanggung jawab moral.
“Berjuanglah dengan nurani,” pesan Ganjar.
Pernyataan tersebut menutup refleksi Ganjar tentang sosok John Tobing, seorang aktivis mahasiswa yang ia sebut sebagai yang paling berani di masanya.
Melalui karya dan keteladanannya, John Tobing tidak hanya menciptakan lagu perjuangan, tetapi juga mewariskan semangat keberanian yang terus hidup di setiap gelombang pergerakan rakyat Indonesia.