
KabarJawa.com – John Tobing, musisi dan juga aktivis yang dikenal sebagai pencipta lagu legendaris “Darah Juang”, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu malam, 25 Februari 2026.
Adapun kabar duka tersebut salah satunya dikonfirmasi oleh akun resmi Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada.
“Kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya Bapak John Tobing, Alumni Fakultas Filsafat UGM 1986. Semoga amal bakti beliau diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan,” demikian keterangan Instagram @kagama.channel, sebagaimana dilansir KabarJawa.com pada Kamis, 26 Februari 2026.
Berdasarkan laporan yang diterima, pria yang lahir pada 1 Desember 1965 itu mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.00 WIB saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Yogyakarta.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar, khususnya bagi kalangan mahasiswa dan aktivis yang selama ini menjadikan karyanya sebagai simbol perjuangan.
Apa Penyebab John Tobing Meninggal?
Pertanyaan mengenai penyebab wafatnya pun mencuat. Berdasarkan informasi yang beredar, John Tobing meninggal dunia karena sakit.
Sementara, dikabarkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, John Tobing diketahui tengah berjuang melawan komplikasi penyakit diabetes dan stroke.
Kondisi kesehatannya yang terus menurun membuatnya harus menjalani perawatan medis intensif sebelum akhirnya berpulang.
Rencananya, jenazah akan dimakamkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Tempat Pemakaman Umum Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman.
Prosesi pemakaman tersebut diperkirakan akan dihadiri keluarga, kerabat, serta rekan seperjuangan yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Profil dan Rekam Jejak John Tobing
John Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menetap di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada masa tuanya, ia tinggal di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, bersama istrinya, Dona, dan ketiga anak mereka.
Kehidupan pribadinya berjalan berdampingan dengan aktivitas sosial dan kreativitas bermusik yang kuat. Ia dikenal sebagai sosok sederhana yang tetap konsisten menyuarakan aspirasi rakyat kecil melalui karya seni.
Lahirnya Lagu “Darah Juang”
Nama John Tobing tidak dapat dipisahkan dari lagu “Darah Juang”. Karya tersebut ia ciptakan pada awal dekade 1990-an di Yogyakarta.
Lagu ini lahir dari perhatiannya terhadap kondisi sosial dan politik kala itu, serta sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat kecil.
“Darah Juang” mengandung pesan tentang pengorbanan, keteguhan hati serta keberanian melawan ketidakadilan. Liriknya yang kuat serta nadanya yang membakar semangat membuat lagu ini cepat menyebar di kalangan mahasiswa dan aktivis.
Menggema di Era Reformasi 1998
Puncak popularitas “Darah Juang” terjadi pada era Reformasi 1998. Lagu ini dinyanyikan secara massal oleh ribuan mahasiswa saat aksi-aksi demonstrasi berlangsung, termasuk ketika menduduki gedung DPR/MPR RI.
Selain itu, “Darah Juang” juga pernah dikumandangkan dalam prosesi pemakaman sastrawan besar, salah satunya Pramoedya Ananta Toer.
Sejak saat itu, “Darah Juang” menjelma menjadi himne perjuangan yang melekat erat dengan gerakan mahasiswa.
Hingga kini, “Darah Juang” tetap dinyanyikan dalam berbagai momentum pergerakan di berbagai daerah di Indonesia.***