
KabarJawa.com – Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat banyak pepatah yang diwariskan turun temurun. Salah satu yang hingga kini masih sering dibicarakan adalah Ajining Diri Soko Lathi.
Meski terdengar sederhana, pepatah ini menyimpan pesan mendalam yang tidak hanya berlaku pada masa lalu, tetapi juga sangat relevan untuk kehidupan masyarakat modern. Untuk memahami luasnya makna pepatah ini, mari kita menelusurinya secara lebih mendalam.
Di antara banyak nasihat leluhur, terdapat ungkapan lengkap yang berbunyi, Ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi.
Ungkapan ini menempatkan dua hal penting sebagai penanda kehormatan seseorang. Raga seseorang dinilai dari busana atau penampilan yang ia tunjukkan, sementara harga diri seseorang tercermin melalui ucapan yang ia keluarkan.
Dan ini tak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga cerminan realitas hidup yang masih berlaku hingga sekarang.
Bahkan, jika diamati, pepatah ini relevan dengan berbagai dinamika sosial, termasuk sejumlah peristiwa yang sering terjadi di era modern.
Makna Filosofi Ajining Diri Soko Lathi
Jika kita gali lebih dalam, maka kita akan memahami bahwa ucapan memiliki peran sangat besar dalam membentuk citra seseorang.
Ajining Diri Soko Lathi mengajarkan bahwa harga diri manusia dapat dilihat dari bagaimana ia berbicara. Menurut penjelasan dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, setiap kata yang keluar dari mulut seseorang harus dipertimbangkan dengan saksama. Ucapan bukan hanya rangkaian kata, melainkan cerminan isi pikiran dan kepribadian seseorang.
Pepatah ini menekankan bahwa ucapan yang baik adalah ucapan yang berlandaskan kebenaran. Karena itu, masyarakat Jawa memiliki ajaran bahwa setiap orang hendaknya berbicara berdasarkan alasan yang jelas dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mereka tidak menyukai sikap berbicara sembarangan, apalagi jika dapat melukai, memprovokasi, atau merendahkan orang lain. Inilah inti dari ajaran Ajining Diri Soko Lathi, yaitu kehati-hatian dalam berbicara demi menjaga martabat diri.
Relevansi di Era Modern dan Dunia Digital
Ketika masuk ke era digital yang penuh dengan kebebasan berekspresi, ajaran ini justru menjadi semakin relevan. Jika dahulu ucapan hanya keluar melalui kata lisan, kini ucapan dapat berupa tulisan yang tersebar luas melalui media sosial.
Segala sesuatu yang seseorang ketikkan, unggah, atau bagikan, akan terekam dan dapat berdampak pada dirinya sendiri di kemudian hari.
Pepatah ini seakan menjadi pengingat bahwa setiap kalimat yang kita tulis di dunia maya memiliki konsekuensi. Bila seseorang menuliskan hal baik, maka respon baik biasanya akan kembali kepada dirinya.
Begitu pula sebaliknya, kata-kata yang negatif dapat menimbulkan masalah, mulai dari konflik dengan orang lain hingga persoalan hukum.
Tak hanya unggahan berupa tulisan, tetapi juga gambar, komentar, dan pendapat apa pun yang diunggah di ruang digital.
Karena itu, Ajining Diri Soko Lathi dapat dijadikan pedoman utama dalam bermedia sosial. Pepatah ini mengajarkan untuk lebih bijak dalam mengetik, mempertimbangkan dampak ucapan digital, serta menghindari tindakan tergesa gesa yang dapat merugikan diri sendiri.
Inilah sebabnya pepatah ini tetap hidup dan dipandang sangat relevan, meski zaman telah berubah begitu pesat.
Lebih dari Sekadar Pepatah
Jadi kesimpulannya, makna filosofi Ajining Diri Soko Lathi adalah bahwa harga diri seseorang tercermin dari tutur katanya.
Pepatah ini mengingatkan kita agar selalu berhati hati dalam berbicara dan bertindak, baik secara lisan maupun tulisan.
Dan di tengah kehidupan digital yang serba cepat dan serba mudah ini, ajaran tersebut menjadi pegangan penting agar setiap individu mampu berperilaku bijak, sopan, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, ini tak hanya menjadi warisan budaya yang layak dilestarikan, tetapi juga pemandu perilaku yang sangat berguna di era modern.***