Mengupas Makna Filosofi Ajining Diri Soko Lathi dan Penerapannya di Era Digital

Bagikan :
Weton Jumat Kliwon 14 Maret 2025 Menurut Primbon Jawa Panduan Karakter, Jodoh, dan Karier
Ilustrasi mengupas makna filosofi Ajining Diri Soko Lathi (Sumber gambar: pinterest/Rissap)

KabarJawa.com – Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat banyak pepatah yang diwariskan turun temurun. Salah satu yang hingga kini masih sering dibicarakan adalah Ajining Diri Soko Lathi.

Meski terdengar sederhana, pepatah ini menyimpan pesan mendalam yang tidak hanya berlaku pada masa lalu, tetapi juga sangat relevan untuk kehidupan masyarakat modern. Untuk memahami luasnya makna pepatah ini, mari kita menelusurinya secara lebih mendalam.

Di antara banyak nasihat leluhur, terdapat ungkapan lengkap yang berbunyi, Ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi.

Ungkapan ini menempatkan dua hal penting sebagai penanda kehormatan seseorang. Raga seseorang dinilai dari busana atau penampilan yang ia tunjukkan, sementara harga diri seseorang tercermin melalui ucapan yang ia keluarkan.

Dan ini tak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga cerminan realitas hidup yang masih berlaku hingga sekarang.

Bahkan, jika diamati, pepatah ini relevan dengan berbagai dinamika sosial, termasuk sejumlah peristiwa yang sering terjadi di era modern.

Makna Filosofi Ajining Diri Soko Lathi

Jika kita gali lebih dalam, maka kita akan memahami bahwa ucapan memiliki peran sangat besar dalam membentuk citra seseorang.

Baca juga  Mari Kenalan dengan Jenis Musik Jawa, Walaupun Banyak Musik Baru, Musik Jawa Tetap Punya Tempat di Hati Banyak Orang

Ajining Diri Soko Lathi mengajarkan bahwa harga diri manusia dapat dilihat dari bagaimana ia berbicara. Menurut penjelasan dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, setiap kata yang keluar dari mulut seseorang harus dipertimbangkan dengan saksama. Ucapan bukan hanya rangkaian kata, melainkan cerminan isi pikiran dan kepribadian seseorang.

Pepatah ini menekankan bahwa ucapan yang baik adalah ucapan yang berlandaskan kebenaran. Karena itu, masyarakat Jawa memiliki ajaran bahwa setiap orang hendaknya berbicara berdasarkan alasan yang jelas dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mereka tidak menyukai sikap berbicara sembarangan, apalagi jika dapat melukai, memprovokasi, atau merendahkan orang lain. Inilah inti dari ajaran Ajining Diri Soko Lathi, yaitu kehati-hatian dalam berbicara demi menjaga martabat diri.

Relevansi di Era Modern dan Dunia Digital

Ketika masuk ke era digital yang penuh dengan kebebasan berekspresi, ajaran ini justru menjadi semakin relevan. Jika dahulu ucapan hanya keluar melalui kata lisan, kini ucapan dapat berupa tulisan yang tersebar luas melalui media sosial.

Baca juga  Kenapa Warung Soto Selalu Ramai di Jawa? Menelusuri Filosofi dan Popularitasnya

Segala sesuatu yang seseorang ketikkan, unggah, atau bagikan, akan terekam dan dapat berdampak pada dirinya sendiri di kemudian hari.

Pepatah ini seakan menjadi pengingat bahwa setiap kalimat yang kita tulis di dunia maya memiliki konsekuensi. Bila seseorang menuliskan hal baik, maka respon baik biasanya akan kembali kepada dirinya.

Begitu pula sebaliknya, kata-kata yang negatif dapat menimbulkan masalah, mulai dari konflik dengan orang lain hingga persoalan hukum.

Tak hanya unggahan berupa tulisan, tetapi juga gambar, komentar, dan pendapat apa pun yang diunggah di ruang digital.

Karena itu, Ajining Diri Soko Lathi dapat dijadikan pedoman utama dalam bermedia sosial. Pepatah ini mengajarkan untuk lebih bijak dalam mengetik, mempertimbangkan dampak ucapan digital, serta menghindari tindakan tergesa gesa yang dapat merugikan diri sendiri.

Inilah sebabnya pepatah ini tetap hidup dan dipandang sangat relevan, meski zaman telah berubah begitu pesat.

Lebih dari Sekadar Pepatah

Jadi kesimpulannya, makna filosofi Ajining Diri Soko Lathi adalah bahwa harga diri seseorang tercermin dari tutur katanya.

Baca juga  Sikap Menunduk dalam Kehidupan Orang Jawa: dari Tata Krama hingga Falsafah Hidup

Pepatah ini mengingatkan kita agar selalu berhati hati dalam berbicara dan bertindak, baik secara lisan maupun tulisan.

Dan di tengah kehidupan digital yang serba cepat dan serba mudah ini, ajaran tersebut menjadi pegangan penting agar setiap individu mampu berperilaku bijak, sopan, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, ini tak hanya menjadi warisan budaya yang layak dilestarikan, tetapi juga pemandu perilaku yang sangat berguna di era modern.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Messi memimpin Argentina juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis dalam final dramatis di Qatar.
Pada Tahun Berapa Messi Memimpin Argentina Meraih Gelar Piala Dunia?