
Kabar Jawa – Kawasan Kota Lama Semarang selalu punya cara unik untuk menyihir siapa saja yang melangkah di atas paving batu lanskapnya. Dijuluki de Europeesche Buurt atau Little Netherland, kawasan ini menyimpan deretan arsitektur kolonial bergaya neoklasik abad ke-17 hingga ke-18 yang masih berdiri megah.
Bagi para pencinta perjalanan hemat, kawasan cagar budaya seluas 72,38 hektar ini merupakan surga city walk karena seluruh sudut ikoniknya bisa dijelajahi cukup dengan berjalan kaki tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.
Titik Awal Perjalanan: Memulai Langkah dari Tepi Kali Semarang
Eksplorasi paling praktis dapat dimulai dari stasiun kereta api utama, Stasiun Semarang Tawang. Begitu keluar dari pintu stasiun, langkah kaki langsung menyambut batas luar kawasan Kota Lama yang membentang di tepi Kali Semarang.
Jalur jalan kaki awal yang direkomendasikan adalah mengarah ke Polder Tawang. Waduk seluas satu hektar ini tak hanya berfungsi menampung air, tetapi juga menyajikan panorama cermin air di depan deretan bangunan tua. Dari sana, rute berlanjut menuju Taman Srigunting yang menjadi jantung perjumpaan para pejalan kaki.
Dahulu, ruang terbuka hijau ini difungsikan sebagai lokasi pemakaman umum dan lapangan parade (parade plein), sebelum akhirnya ditata anggun dengan pepohonan rindang serta bangku taman untuk tempat berkumpul wisatawan.
Deretan Bangunan Ikonik dan Spot Foto Estetik Bergaya Eropa
Sejarah pembentukan kawasan ini bermula dari ikatan perjanjian antara Kerajaan Mataram Islam dan pihak VOC pada 15 Januari 1678. VOC mendirikan benteng pertahanan awal bernama Benteng Vijfhoek seluas 31 hektar, yang kemudian digantikan oleh Benteng Fase II pada periode 1741–1756 yang melingkari seluruh pemukiman Eropa. Atas keutuhan histori dan arsitekturnya, pemerintah menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional lewat SK Mendikbud No. 682/P/2020 dan telah tercatat dalam Tentative List World Heritage UNESCO sejak 2015.
Saat menyusuri lorong utama di Jalan Letjen Suprapto (Herenstraat), beberapa landmark bersejarah dan spot foto yang wajib diabadikan antara lain:
- Gereja Blenduk (GPIB Immanuel): Berdiri sejak tahun 1753 dengan nama Nederlandsch Indische Kerk, gereja ini menjadi ikon paling masyhur berkat atap kubah cembung merahnya yang khas. Pengunjung cukup membayar retribusi sekitar Rp10.000 jika ingin melihat interior klasiknya.
- Gedung Spiegel, Gedung Marba, dan Gedung Oudetrap: Deretan fasad megah neoklasik yang menjadi latar foto favorit bagi penikmat estetika vintage.
- Semarang Contemporary Art Gallery: Galeri seni kontemporer dengan penataan minimalis modern di dalam gedung cagar budaya lama (tiket masuk Rp10.000).
- Old City 3D Trick Art Museum: Tempat rekreasi visual interaktif dengan lebih dari 100 latar foto tiga dimensi yang unik (tiket masuk Rp40.000).
- Pasar Klitikan: Berada di area Taman Garuda/bekas Gedung Perusahaan Perdagangan Indonesia, tempat ini menyajikan suasana nostalgia perburuan barang-barang antik dan koleksi tempo dulu.
Tempat Istirahat Nyaman untuk Melepas Lelah
Setelah puas mengitari lorong-lorong tua, wisatawan dapat beristirahat sejenak di beberapa titik yang sejuk dan ramah lanskap:
- Taman Srigunting: Lokasi paling ideal untuk duduk bersantai di bangku taman di bawah naungan pohon rindang sambil menikmati hiruk-pikuk suasana Kota Lama.
- Tepi Polder Tawang: Menyediakan area duduk terbuka dengan embusan angin sepoi-sepoi di tepi waduk penampung air.
- Koridor Pusat Kota (Simpang Lima & Taman Indonesia Kaya): Jika energi masih cukup, pejalan kaki bisa melanjutkan jalan santai ke area Simpang Lima atau Taman Indonesia Kaya untuk menikmati taman kota dengan fasilitas tempat duduk yang luas dan air mancur.
Pilihan Kuliner Legendaris Khas Semarang
Menjelajahi sejarah terasa belum lengkap tanpa mencicipi kelezatan olahan kuliner lokal yang ada di sekitar rute jalan kaki:
- Sate & Gule Kambing 29: Kedai kuliner legendaris yang beroperasi sejak tahun 1945-an di depan Gereja Blenduk. Menu sate buntel dan gule kambingnya yang kaya rempah dibanderol mulai dari Rp30.000-an.
- Lunpia Gang Lombok: Ikon kuliner khas Semarang berisian rebung, telur, dan udang yang dibalut kulit renyah (sekitar Rp22.000/pcs).
- Soto Bangkong: Sajian soto bening segar khas Jawa Tengah dengan aneka sate puyuh dan kerang sebagai pendamping.
- Nasi Ayam Bu Pini & Tahu Gimbal Pak Eddy: Makanan tradisional berkuah santan opor gurih atau siraman bumbu kacang petis yang menggugah selera.
- Angkringan & Kafe Vintage: Wisatawan juga bisa menikmati suasana malam sepanjang Jalan Letjen Suprapto atau Jalan Kepodang sambil menikmati secangkir kopi di kafe ala Eropa atau gerobak angkringan lokal.
Perkiraan Bujet Wisata Hemat (Rincian Anggaran)
Menjelajahi Kota Lama Semarang sangat bersahabat di kantong. Berikut perkiraan biaya operasional perjalanan satu hari:
| Komponen Pengeluaran | Estimasi Biaya | Keterangan |
| Tiket Masuk Kawasan | Gratis | Bebas jelajah area terbuka & taman |
| Sewa Sepeda / Skuter (Opsional) | Rp10.000 – Rp25.000 | Pilihan wahana keliling kawasan |
| Tiket Spot Indoor (Opsional) | Rp10.000 – Rp40.000 | Blenduk (Rp10k), Gallery (Rp10k), 3D Museum (Rp40k) |
| Makan & Minum Harian | Rp60.000 – Rp180.000 | Makan di warung/kedai lokal |
| Total Perkiraan Bujet | ± Rp100.000 – Rp200.000 | Sangat terjangkau untuk liburan 1 hari |
Tips Praktis Berkunjung Agar Tetap Nyaman
- Waktu Terbaik: Datanglah pada pagi hari (pukul 07.00–09.00 WIB) saat udara masih sejuk dan trotoar lengang, atau sore menuju malam hari saat lampu-lampu temaram menyinari bangunan kuno.
- Gunakan Sepatu Nyaman: Pilih alas kaki bernapas dengan sol empuk karena jalur pejalan kaki sebagian besar menggunakan material batu paving.
- Perlengkapan Pribadi: Selalu bawa botol minum isi ulang, tabir surya, dan uang tunai secukupnya untuk belanja di lapak usaha kecil.
- Atur Ritme Perjalanan: Pilih 5 hingga 7 titik fokus utama agar perjalanan terasa santai dan tidak terburu-buru.