Kabar Jawa – Di balik ritme ketukan gema kayu yang nyaring di pedesaan Jawa, ada cerita panjang tentang transformasi alat kerja harian menjadi panggung ekspresi bersama. Apa yang dulunya sekadar bunyi olah pangan di pelataran rumah kini menjelma perkusi komunal yang menghidupkan ruang publik dan menarik perhatian generasi baru.
Jauh sebelum mesin penggilingan padi modern datang, mengolah hasil panen adalah pekerjaan fisik yang melelahkan bagi masyarakat agraris. Di sela-sela rasa penat menumbuk bulir padi dengan alu kayu di dalam lesung, para perempuan petani secara spontan memukulkan batang kayu ke tepi, samping, dan ceruk lesung. Suara “thok thek” yang bersahut-sahutan itu menghasilkan pola irama alami yang unik.
Dahulu, bunyi kothekan lesung bukan sekadar pengusir kantuk atau lelah setelah berjam-jam bekerja. Suara kayu ini terikat erat dengan irama kehidupan desa: dipukul sebagai simbol rasa syukur atas panen raya kepada Dewi Sri, dimainkan anak-anak saat malam terang bulan (padhang bulan), hingga menjadi penanda bahaya dan bagian dari mitos pengusir gerhana.
Secara historis, kothekan lesung adalah ranah domestik kaum perempuan. Lewat alat penumbuk padi ini, para ibu petani menemukan ruang aktualisasi diri di luar urusan dapur, mempererat solidaritas, sekaligus menjadikannya “senjata” simbolis untuk menyuarakan keberadaan mereka di tengah budaya masyarakat yang patriarkal.
Namun, siapa yang memegang alu dan menabuh lesung hari ini?
Meski para ibu senior tetap menjadi penjaga takdir teknik dan ketukan dasar (pakem), panggung gejog lesung kini diisi oleh susunan pemain lintas generasi. Di berbagai sanggar budaya seperti Sanggar Sangir di Sragen maupun komunitas seni di Barepan Klaten, anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) hingga SMP kini duduk berdampingan dengan para maestro tua. Gejog lesung telah bergeser dari aktivitas kerja ibu-ibu tani menjadi seni pertunjukan komunal yang dimainkan secara inklusif oleh seluruh warga.
Tidak mudah mengajak anak muda menyentuh alat kayu yang identik dengan tradisi tua. Kunci dari ketertarikan generasi muda terletak pada adaptasi estetika dan kemasan pertunjukan yang lebih segar:
- Eksperimentasi Irama dan Genre: Pola pukulan tidak lagi kaku pada ketukan klasik (dung klel klop) semata, melainkan diperkaya variasi ketukan baru seperti letek dan kentur. Bahkan, para seniman lokal berani memadukan dentum lesung dengan instrumen modern seperti biola, seruling, angklung, hingga meleburkannya ke dalam irama dangdut dan rock.
- Kemasan Teatrikal dan Atraksi Wisata: Di tempat seperti Sanggar Sangir Sragen, pertunjukan gejog lesung digabungkan dengan seni teater, olah vokal, dan tarian rakyat. Format ini membuat sajian musik terasa hidup dan komunikatif saat disaksikan pengunjung destinasi wisata.
- Gengsi Panggung dan Festival: Adanya panggung kompetisi berkala seperti Festival Gejog Lesung se-DIY, Cawas, maupun Klaten memberikan ruang kepahlawanan baru bagi anak muda untuk tampil percaya diri membawa nama desanya.
Di balik gegap gempita festival dan ramainya video pertunjukan di media sosial, ada tantangan mendasar agar kesenian ini tidak mati suri ketika riuh tren mereda:
- Kehilangan Fungsi Praktis: Sejak hadirnya mesin selepan (penggilingan beras modern) pada era 1970-an, lesung tidak lagi dipakai untuk menumbuk padi sehari-hari. Artinya, gejog lesung kini murni hidup sebagai seni pertunjukan (living heritage), yang sangat bergantung pada niat dan konsistensi komunitasnya untuk terus berlatih.
- Risiko Dangkalnya Pemahaman: Jika keterlibatan anak muda hanya terpicu oleh keikutsertaan lomba tahunan tanpa diimbangi pemahaman filosofi serta penguasaan lagu dasar seperti Lesung Jumengglung, kesenian ini berisiko kehilangan ruh kebudayaannya.
- Ketergantungan pada Tokoh Penggerak: Ketika maestro atau tokoh pencipta aransemen wafat, rutinitas latihan di desa sering kali langsung menyusut. Dibutuhkan wadah pelembagaan yang rapi agar estafet kepemimpinan budaya tidak terputus di tengah jalan.
- Perlindungan Hukum dan Legalitas: Langkah seperti penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTbI) oleh pemerintah serta kepemilikan Hak Cipta daerah memberikan perlindungan legal yang kuat. Namun, benteng terkuat keberlanjutannya tetap berada pada detak latihan rutin warga di pelataran desa.
Gejog lesung membuktikan bahwa keterbatasan alat kerja sederhana sanggup diubah menjadi karya seni adiluhung yang merekatkan masyarakat. Merawat suara lesung berarti merawat ingatan kolektif tentang kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat pada alam tempat kita hidup.