
SURABAYA, Kabar Jawa — Pemandangan kendaraan mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) marak terjadi di berbagai daerah di Jawa Timur belakangan ini. Mulai dari Surabaya, Malang Raya, Lumajang, Jember, hingga Bondowoso, para pengendara terpaksa meluangkan waktu lebih lama untuk mengisi bahan bakar.
Kendati antrean panjang menghiasi SPBU, data resmi memastikan bahwa cadangan energi nasional berada di posisi aman. Lantas, apa pemicu utama lonjakan antrean ini?
Penyebab dominan di balik kepadatan tersebut adalah fenomena panic buying. Isu kelangkaan yang cepat menyebar di media sosial memicu kecemasan publik, sehingga mengubah pola pengisian bahan bakar harian. Jika normalnya pengendara mendatangi SPBU saat indikator mendekati garis merah, kini banyak warga langsung mengisi penuh (full tank) kendaraannya meski tangki baru berkurang seperempat.
Akibatnya, BBM di tangki penyimpanan SPBU tersedot jauh lebih cepat dari siklus biasanya, memicu kekosongan sementara hingga truk tangki tiba.
Faktor ekonomi turut memperparah situasi. Penyesuaian harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu pergeseran konsumsi secara masif. Data mencatat lonjakan peralihan dari Pertamax ke Pertalite sebesar 7 hingga 10 persen di Jawa Timur. Permintaan kian melonjak hingga 14 persen saat musim liburan sekolah dan tingginya mobilitas menjelang akhir tahun.
Selain kendaraan pribadi, musim kemarau panjang turut mendorong petani di berbagai daerah Jatim mengoperasikan mesin pompa irigasi secara intensif, menambah beban penyaluran bahan bakar bersubsidi.
Respon Cepat Pemerintah dan Pertamina
Menanggapi situasi ini, Kementerian ESDM bersama Pertamina bergerak cepat memutus rantai antrean. Pemerintah menargetkan penanganan tuntas dalam satu hingga dua hari dengan memastikan cadangan Pertalite nasional aman untuk 16 hingga 18 hari ke depan, serta Pertamax dan Solar bertahan lebih dari 20 hari.
Pertamina Patra Niaga mengoperasikan seluruh Terminal BBM di Jawa Timur secara penuh 24 jam nonstop. Pengiriman harian ditingkatkan, seperti di Malang yang dipasok hingga 407 kiloliter per hari, dengan total distribusi di Jatim didorong hingga 12.500 kiloliter per hari. SPBU modular dan petugas ekstra juga disiagakan di titik-titik krusial.
Presiden Prabowo Subianto turut menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap kontrak dan distribusi BBM. Audit ini bertujuan mengatasi hambatan rantai pasok akibat kendala cuaca dan pendangkalan jalur sungai agar logistik energi berjalan lancar.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan aparat kepolisian memperketat pengawasan di SPBU untuk menindak tegas oknum yang melakukan penimbunan maupun penyalahgunaan tangki modifikasi.