Kabar Jawa – Di sebuah sudut tenang Kabupaten Sragen, tepatnya di Dukuh Gebangkota (Gebang Kota), Desa Gebang, Kecamatan Masaran, tersembunyi sebuah kawasan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan masa lalu.
Di bawah rindangnya perakaran pohon beringin tua yang menjuntai di tepi Sungai Mungkung (Kedung Gedang), berdiri kompleks pertapaan kuno yang dikenal warga sebagai Gua Mangkubumi. Tempat ini bukan sekadar cekungan tanah biasa, melainkan petilasan utama Pangeran Mangkubumi saat menyusun kekuatan gerilya sebelum akhirnya bertakhta sebagai Raja Yogyakarta pertama bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Jejak perlawanan Pangeran Mangkubumi yang terlahir dengan nama Bendara Raden Mas Sujana sebagai putra Amangkurat IV dan Mas Ayu Tejawati berawal dari sikap tegasnya menolak campur tangan VOC Belanda.
Ketidaksetujuannya terhadap langkah sang kakak, Pakubuwana II, yang bermitra dengan VOC memicu Perang Mangkubumen pada kurun 1746โ1757.
Sebelum bergeser ke Gebang, sang pangeran sempat mendirikan markas pusat pemerintahan gerilya Projo Sukowati di Pandak Karangnongko, Desa Krikilan. Namun, demi menjaga kerahasiaan pasukan dari kejaran tentara kolonial, beliau mengalihkan pergerakannya ke kawasan rimbun Desa Gebang untuk mengatur strategi perang sekaligus bermeditasi.
Situs ini menyimpan keunikan arsitektur alami yang terbagi menjadi dua lorong utama, yakni Gua Lanang untuk prajurit pria dan Gua Wedok untuk prajurit wanita.
Gua Lanang memiliki lorong berbentuk huruf L sepanjang empat meter dengan dinding terikat perakaran beringin serta guratan lukisan tokoh pewayangan menyerupai Werkudara atau Gatotkaca.
Di pelataran luar, prajurit Mangkubumi ditempa melalui olah kanuragan, latihan pencak silat, hingga tradisi menyelam sungai untuk mengambil cincin demi mengasah ketajaman mata dan pernapasan.
Masyarakat setempat meyakini cerita lisan secara turun-temurun bahwa lorong gua ini secara gaib sanggup menampung penduduk sekampung saat berlindung dari patroli musuh. Di atas bukit sebelah timur gua, terdapat area pemakaman 21 prajurit pengikutnya.
Di tepi jalan dekat lokasi tersebut, berdiri batu besar berdiameter satu meter yang tak sanggup dipindahkan oleh ekskavator maupun dipecah oleh tukang batu. Berdasarkan penuturan sesepuh desa, batu tersebut merupakan nisan penanda makam panglima perang wanita bernama Panembahan Senopati Nyai Tuginah Wiro Atmojo.
Warga juga meyakini adanya mitos pada bekas pohon wawungan di mana siapa pun yang nekat mengambil kayu atau batu di area makam akan tertimpa sakit mendadak hingga benda tersebut dikembalikan.
Kekayaan sejarah lokasi ini semakin lengkap setelah ditemukannya artefak arkeologis berharga. Pada Oktober 2021, penggagas revitalisasi situs, Sukardi, menemukan Arca Agastya berbahan batu andesit tanpa kepala di lahan pekarangan milik keturunan Keraton Surakarta, Raden Joyo.
Pemerhati sejarah menilai arca ini berasal dari era Kerajaan Majapahit, sehingga umurnya diperkirakan jauh lebih tua dari kedatangan Pangeran Mangkubumi. Selain arca tersebut, di area permukiman Gebang Loji juga dirawat peninggalan bersejarah lain berupa Yoni dan batu gilingan (suiker molen) peninggalan eks-pabrik serat nanas.
Melihat potensi sejarah yang sempat terbengkalai puluhan tahun, masyarakat Dukuh Gebangkota (RT 11 & RT 12 / RW 05) bergotong-royong secara swadaya membersihkan lokasi. Gua yang sebelumnya tertutup akar beringin kini dibenahi hingga resmi dibuka sebagai tempat wisata sejarah.
Pengelola melengkapi situs dengan jembatan bambu di atas Sungai Kedung Gedang, arena bermain anak, serta wahana perahu motor menyusuri sungai sepanjang 100 meter. Bagi warga lokal, pelestarian petilasan ini bukan sekadar menjaga ingatan sejarah perlawanan Mataram, tetapi juga menggantungkan harapan besar agar mampu menggerakkan roda ekonomi desa dan menarik perhatian wisatawan.